BNPB Ungkap Kendala Penanganan Karhutla di Kalimantan Barat, 262 Hektare Berhasil Dipadamkan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap sejumlah kendala yang dihadapi dalam operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar). Upaya pemadaman dilakukan secara terpadu melalui operasi darat dan udara, namun pelaksanaannya masih menghadapi tantangan di lapangan.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa kondisi visibilitas yang rendah, karakteristik lahan gambut, serta keterbatasan sumber air menjadi hambatan utama dalam penanganan karhutla. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers pada Selasa (1/9).
Kendala Operasi Penanganan Karhutla
Menurut Berton, operasi penanganan karhutla di Kalimantan Barat masih berlangsung dengan menghadapi sejumlah kendala teknis. Salah satu hambatan yang muncul adalah rendahnya tingkat daya lihat atau visibilitas di lokasi operasi. Kondisi ini dapat menyulitkan pemantauan dan pelaksanaan upaya pemadaman, khususnya dalam operasi yang melibatkan jalur udara.
Selain visibilitas, lahan gambut juga menjadi tantangan tersendiri. Jenis lahan tersebut disebut sulit dipadamkan sehingga membutuhkan penanganan yang lebih intensif. Keterbatasan sumber air turut menjadi persoalan dalam proses pemadaman, baik untuk operasi yang dilakukan oleh satgas darat maupun dukungan dari udara.
“Operasi masih menghadapi kendala berupa tingkat daya lihat yang masih rendah, visibilitas yang rendah, kemudian lahan gambut yang sulit dipadamkan, dan keterbatasan sumber air,” ujar Berton SP Panjaitan.
Satgas Darat Padamkan Karhutla di Sejumlah Wilayah
Di tengah berbagai tantangan tersebut, satgas darat telah melakukan pemadaman di sejumlah wilayah di Kalimantan Barat. Area yang ditangani mencakup Kabupaten Kubu Raya, Bengkayang, Mempawah, Kayong Utara, Sintang, Sekadau, Kapuas Hulu, Landak, Ketapang, dan Sambas, serta Kota Singkawang.
Berdasarkan laporan BNPB, luas area yang berhasil dipadamkan oleh satgas darat mencapai 262 hektare. Capaian ini menjadi bagian dari operasi terpadu untuk menangani kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung di wilayah tersebut.
“Luas daerah yang bisa dipadamkan ini luar biasa sebesar 262 hektare,” kata Berton.
Patroli Udara dan Operasi Water Bombing
Selain mengerahkan personel dan peralatan melalui jalur darat, penanganan karhutla juga dilakukan oleh satgas udara. Tim ini melaksanakan patroli untuk memantau kemunculan titik api baru maupun titik api yang belum sepenuhnya padam.
Hasil pemantauan dari patroli udara kemudian dikomunikasikan untuk mendukung langkah pemadaman. Salah satu metode yang digunakan adalah operasi water bombing, yakni menjatuhkan air dari helikopter ke area yang terbakar.
BNPB melaporkan, operasi water bombing dilakukan dengan mengerahkan lima unit helikopter. Dalam pelaksanaan operasi tersebut, sebanyak 724.000 liter air berhasil dijatuhkan. Luas area yang dipadamkan melalui upaya tersebut mencapai sekitar 11 hektare lebih.
Penggunaan helikopter menjadi bagian dari strategi pemadaman terpadu, terutama untuk membantu menjangkau lokasi yang sulit ditangani secara langsung dari darat. Patroli udara juga berperan dalam menyampaikan informasi mengenai kondisi titik api kepada tim yang menjalankan pemadaman.
Operasi Modifikasi Cuaca Dilakukan Satu Kali
BNPB juga menyampaikan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah dilakukan sebanyak satu kali dalam rangka mendukung penanganan karhutla di Kalimantan Barat. Dalam pelaksanaan OMC tersebut, sebanyak 1.600 kilogram natrium klorida atau NaCl ditebarkan.
OMC menjadi salah satu bagian dari rangkaian upaya yang dilakukan secara terpadu, bersamaan dengan pemadaman melalui jalur darat, patroli udara, dan operasi water bombing. Seluruh langkah tersebut dijalankan untuk menangani titik api yang terpantau serta area kebakaran yang belum padam.
Kesimpulan
Penanganan karhutla di Kalimantan Barat masih menghadapi kendala berupa visibilitas rendah, lahan gambut yang sulit dipadamkan, dan keterbatasan sumber air. Meski demikian, satgas darat telah memadamkan karhutla di sejumlah wilayah dengan luas mencapai 262 hektare. Sementara itu, satgas udara melalui lima helikopter telah menjatuhkan 724.000 liter air dan memadamkan sekitar 11 hektare lebih.
Operasi terpadu melalui jalur darat dan udara, termasuk patroli, water bombing, serta satu kali Operasi Modifikasi Cuaca dengan penebaran 1.600 kilogram NaCl, terus menjadi bagian dari upaya penanganan karhutla. Keberlanjutan koordinasi antara seluruh unsur terkait diperlukan agar titik api yang masih terpantau dapat segera ditangani di tengah berbagai tantangan di lapangan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment