Penerbangan Terdampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Penumpang Pilih Refund atau Reschedule
Sejumlah penumpang pesawat harus mengubah rencana perjalanan setelah operasional bandara ditutup akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Penutupan tersebut berdampak pada jadwal penerbangan, mulai dari keterlambatan hingga pembatalan.
Situasi ini membuat penumpang harus menentukan pilihan antara mengajukan pengembalian dana atau refund dan mengubah jadwal penerbangan atau reschedule. Kedua opsi tersebut memiliki proses, batas waktu, serta konsekuensi yang berbeda bagi penumpang.
Penerbangan Jakarta-Hanoi Mengalami Penundaan Berulang
Salah satu penumpang yang terdampak adalah Agustiyanti (38). Ia seharusnya terbang dari Jakarta menuju Hanoi menggunakan Vietnam Airlines pada Minggu (6/9) pukul 01.30 WIB.
Sejak melakukan check-in pada Sabtu (5/9) malam, Agustiyanti telah menerima informasi mengenai kemungkinan penundaan atau pembatalan penerbangan. Para penumpang juga diminta berada di gate pada pukul 00.40 WIB untuk mengantisipasi perubahan jadwal.
Namun, setelah masuk ke pesawat, penerbangan tersebut belum juga diberangkatkan. Para penumpang bahkan harus menunggu sekitar tiga jam di dalam pesawat sebelum mendapatkan makanan.
“Jam segitu kami sudah masuk pesawat, terus keluar NOTAM, enggak langsung keluar. Sempat nunggu di pesawat tiga jam, penumpang dikasih makanan dulu,” kata Agustiyanti.
Setelah menunggu, penumpang mendapat informasi bahwa tiket mereka akan ditukar ke penerbangan sekitar pukul 06.00 WIB. Akan tetapi, keberangkatan kembali tertunda karena masa penutupan bandara diperpanjang.
Kepastian pembatalan penerbangan baru diterima sekitar pukul 14.00 WIB. Agustiyanti kemudian mengurus pembatalan proses imigrasi dan kembali ke konter check-in untuk mengambil bagasinya.
Jadwal Penerbangan Kembali Berubah
Tiket Agustiyanti sempat otomatis dijadwal ulang untuk penerbangan pada Senin pukul 11.00 WIB. Namun, perpanjangan penutupan bandara menyebabkan jadwal tersebut kembali berubah. Penerbangan kemudian dijadwalkan pada pukul 15.00 WIB, sebelum kembali bergeser menjadi pukul 21.00 WIB.
Agustiyanti mengatakan sejumlah maskapai bahkan telah lebih dahulu membatalkan penerbangan pada hari tersebut. Ia akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan karena agenda yang diikutinya hanya berlangsung hingga Rabu (9/9).
“Aku akhirnya milih enggak jadi terbang karena acara sebenarnya cuma sampai Rabu. Sisanya pengundang yang ngurus administrasi tiket dan lain-lain,” ujarnya.
Penumpang Xiamen Air Dihadapkan pada Pilihan Refund atau Reschedule
Pengalaman berbeda dialami Pius (26). Ia seharusnya menggunakan Xiamen Air dari Jakarta menuju Jinan, China, dengan transit di Xiamen pada Senin pukul 23.30 WIB.
Pius menerima notifikasi dari agen perjalanan bahwa penerbangannya dibatalkan oleh maskapai. Karena tidak tersedia jadwal pengganti secara langsung, ia diberikan dua pilihan, yakni mengajukan refund atau reschedule.
Menurut Pius, dana yang dikembalikan melalui opsi refund diperkirakan sesuai dengan nilai penuh tiket per penumpang. Namun, proses pengembalian dana tersebut dapat berlangsung hingga 90 hari.
Pengajuan refund juga memiliki batas waktu hingga Rabu pukul 23.30 WIB. Bentuk pengembalian dana dapat berupa uang tunai atau travel credit, bergantung pada keputusan maskapai.
Reschedule Terkendala Ketersediaan Kursi
Karena mengejar batas waktu pendaftaran kuliah, Pius memilih opsi reschedule. Ia mengajukan perubahan jadwal ke penerbangan terdekat pada Rabu sekitar pukul 01.30 WIB.
Namun, proses perubahan jadwal tersebut tidak berhasil karena kursi pada penerbangan yang dipilih telah habis ketika pengajuan masih berada dalam tahap konfirmasi ketersediaan dan harga. Pius kemudian diminta mengajukan reschedule kembali.
Sekitar pukul 15.30 WIB, ia kembali mengajukan perubahan jadwal untuk penerbangan pada Kamis (10/9). Hingga Senin sore, pengajuan tersebut masih berada dalam tahap konfirmasi.
Pius menjelaskan, terdapat dua kemungkinan setelah proses konfirmasi selesai. Jika perubahan jadwal tidak dikenai biaya tambahan, tiket akan langsung diproses hingga diterbitkan. Namun, jika terdapat biaya tambahan, ia harus melakukan konfirmasi dan membayar selisih biaya terlebih dahulu.
Penutup
Penutupan operasional bandara akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau membuat sejumlah penumpang menghadapi ketidakpastian perjalanan. Sebagian penerbangan dibatalkan, sementara penerbangan lainnya mengalami penjadwalan ulang berulang kali.
Pengalaman Agustiyanti menunjukkan bahwa perubahan jadwal dapat berlangsung beberapa kali hingga akhirnya penerbangan dibatalkan. Sementara itu, pengalaman Pius memperlihatkan bahwa pilihan refund membutuhkan waktu pemrosesan yang panjang, sedangkan reschedule masih bergantung pada ketersediaan kursi dan kemungkinan biaya tambahan.
Dengan kondisi tersebut, penumpang perlu mempertimbangkan kebutuhan perjalanan, batas waktu, serta proses yang berlaku sebelum memilih refund atau reschedule. Kepastian jadwal dan ketersediaan penerbangan menjadi faktor penting bagi penumpang dalam menentukan rencana perjalanan berikutnya.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment