Pengalaman Mahasiswa Indonesia Menjalani Hidup dan Studi di Wuhan Pasca-Pandemi
Wuhan pernah dikenal luas sebagai kota yang lekat dengan awal mula pandemi Covid-19. Namun, bagi seorang mahasiswa Indonesia penerima beasiswa Chinese Government Scholarship, Wuhan perlahan berubah menjadi lebih dari sekadar nama dalam pemberitaan. Kota tersebut menjadi tempat untuk menempuh pendidikan, beradaptasi dengan budaya baru, serta memahami kehidupan masyarakat Tiongkok secara langsung.
Pengalaman itu dimulai pada November 2022, ketika ia tiba di Wuhan untuk menempuh studi magister Hubungan Internasional di Central China Normal University (CCNU). Rasa takut sempat muncul, tetapi rasa ingin tahu mendorongnya untuk melihat sendiri bagaimana kota di tepi Sungai Yangtze tersebut membangun kembali kehidupan setelah pandemi.
Tiba di Wuhan dan Menjalani Karantina Ketat
Kesan pertama terhadap Wuhan tidak jauh berbeda dari suasana di Indonesia pada masa pandemi. Kota terasa sepi dan aktivitas masyarakat masih diwarnai kehati-hatian. Setibanya di sana, mahasiswa diwajibkan menjalani isolasi selama dua minggu di hotel dan asrama kampus.
Setiap hari, petugas medis mendatangi kamar untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan tes usap. Selama kurang lebih dua bulan pertama, masker menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas di luar ruangan. Aturan menjaga jarak juga masih diterapkan.
Kebiasaan menggunakan masker ketika sedang sakit bahkan masih bertahan di Wuhan hingga kini. Sementara itu, kebiasaan mencuci tangan di setiap pintu masuk mulai berkurang seiring dengan berjalannya waktu.
Hari-Hari Panjang di Asrama
Masa karantina di kamar asrama menjadi pengalaman yang penuh tantangan. Pintu kamar seolah menjadi batas antara mahasiswa dan dunia luar. Sarapan, makan siang, serta makan malam diletakkan oleh petugas di depan pintu tanpa interaksi langsung.
Selain rasa jenuh, tantangan lain datang dari makanan. Kuliner Wuhan yang cenderung berminyak, kaya rempah, dan menggunakan bumbu mala khas Provinsi Sichuan terasa asing bagi lidah Indonesia. Menu yang relatif sama setiap hari juga membuat rasa bosan semakin kuat.
Dalam situasi tersebut, solidaritas sesama mahasiswa Indonesia menjadi sumber dukungan penting. Mahasiswa Indonesia yang telah tiba lebih dahulu ditunjuk sebagai sukarelawan oleh pihak kampus. Mereka membantu membelikan berbagai kebutuhan sehari-hari bagi mahasiswa yang masih menjalani karantina.
Koneksi internet melalui VPN juga menjadi jendela untuk berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia. Melalui akses tersebut, mahasiswa tetap dapat menggunakan WhatsApp, Instagram, dan Google dari balik pintu kamar yang tertutup.
Beradaptasi dengan Kuliner Wuhan
Seiring waktu, lidah mulai beradaptasi dengan cita rasa masakan lokal. Dari pengalaman tersebut, muncul pemahaman bahwa makanan Tiongkok yang populer di Indonesia memiliki cita rasa yang lebih adaptif dan cenderung menyerupai masakan dari Provinsi Fujian.
Karakter tersebut berbeda dengan masakan di wilayah tengah Tiongkok yang dikenal memiliki rasa lebih kuat, kaya rempah, serta pedas dan menyengat. Setelah terbiasa, sajian di kantin kampus mulai dapat dinikmati sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari.
Meski demikian, kerinduan terhadap masakan Nusantara tetap muncul. Ketika rasa rindu sudah tidak tertahankan, mahasiswa Indonesia biasanya memasak sendiri di asrama. Restoran Thailand juga menjadi pilihan karena memiliki profil rasa yang dianggap lebih dekat dengan selera Indonesia. Pada saat itu, belum terdapat restoran Indonesia di Wuhan.
Komunitas Pelajar Indonesia Menjadi Rumah Kedua
Jauh dari tanah air tidak membuat mahasiswa Indonesia merasa sendirian. Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok atau PPIT cabang Wuhan menjadi ruang untuk membangun rasa kekeluargaan sekaligus mengobati kerinduan terhadap kampung halaman.
Berbagai kegiatan diselenggarakan, mulai dari Welcoming Party untuk menyambut mahasiswa baru, buka puasa bersama saat Ramadan, makan malam dalam rangka memperingati Natal dan Tahun Baru, hingga kompetisi olahraga Wuhan Cup. Kegiatan tersebut tidak hanya mempererat hubungan antarmahasiswa, tetapi juga menghadirkan suasana kekeluargaan di tengah kehidupan perantauan.
Mengenalkan Budaya Indonesia di Kampus
Salah satu pengalaman yang paling membanggakan terjadi dalam Cultural Festival di kampus. Mahasiswa Indonesia selalu mendapat perhatian dan dipercaya menjadi pembuka utama dalam acara di CCNU. Penampilan tersebut disaksikan oleh pimpinan universitas serta para tamu undangan.
Pakaian adat, khususnya busana tradisional Dayak dan Papua, menjadi daya tarik tersendiri. Mahasiswa lokal maupun mancanegara tampak kagum dan tidak jarang mengantre untuk berfoto bersama. Sebagian dari mereka juga tertarik meminjam aksesori tradisional yang dikenakan mahasiswa Indonesia.
Warga Wuhan dan Runtuhnya Prasangka
Interaksi langsung dengan warga lokal turut mengubah pandangan mengenai masyarakat Tiongkok. Sebelumnya, terdapat anggapan bahwa masyarakat Tiongkok cenderung tertutup terhadap orang asing. Pandangan tersebut juga dipengaruhi pengalaman kurang menyenangkan ketika berkunjung ke Hong Kong.
Namun, pengalaman di Tiongkok daratan, terutama Wuhan, justru menunjukkan hal berbeda. Warga lokal dinilai ramah dan suka membantu. Ketika mengetahui bahwa seseorang berasal dari Indonesia, mereka kerap mengajak berbincang dengan antusias. Tidak jarang pula mereka meminta foto bersama.
Kehidupan beragama juga dirasakan aman dan nyaman. Gereja dan masjid tetap berdiri meskipun jumlahnya terbatas. Bagi mahasiswa Muslim, restoran khas Xinjiang yang menyediakan makanan halal menjadi pilihan penting untuk memenuhi kebutuhan kuliner sehari-hari.
Menemukan Gaya Hidup dan Perspektif Baru
Tinggal di Wuhan turut membentuk kebiasaan baru. Salah satunya adalah kebiasaan berolahraga setelah kegiatan perkuliahan selesai. Warga lokal yang gemar beraktivitas fisik menginspirasi mahasiswa Indonesia untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat.
Jogging di lintasan atletik kampus dan menyusuri East Lake atau Donghu menjadi aktivitas favorit. Selain itu, waktu senggang dimanfaatkan untuk mengunjungi sejumlah tempat menarik, seperti Yellow Crane Tower, kawasan Jianghan Road Pedestrian Street, serta beberapa kota lain, di antaranya Shanghai, Chengdu, Chongqing, Hangzhou, dan Changsha.
Pelajaran paling berharga bukan hanya berasal dari kegiatan akademik atau perjalanan, melainkan juga dari cara pandang masyarakat lokal. Warga Wuhan terlihat fokus pada pendidikan, pekerjaan, dan pengembangan diri. Mereka tidak terlalu sibuk menilai orang lain berdasarkan penampilan luar.
Pola pikir yang berorientasi pada pengembangan diri tersebut memberikan sudut pandang baru. Kehidupan di Wuhan mengajarkan pentingnya berkonsentrasi pada tujuan pribadi tanpa terlalu terpengaruh penilaian dari lingkungan sekitar.
Kesimpulan
Wuhan bagi mahasiswa Indonesia bukan lagi sekadar kota yang dibayangi ketakutan akibat pandemi. Melalui pengalaman karantina, proses adaptasi kuliner, interaksi lintas budaya, kegiatan komunitas, dan kehidupan akademik, Wuhan justru menjadi ruang untuk bertumbuh.
Kota tersebut mempertemukan pengalaman belajar, persahabatan, keberagaman, dan pemahaman baru tentang masyarakat Tiongkok. Ke depan, pengalaman hidup di Wuhan dapat menjadi bekal penting untuk terus melihat dunia secara lebih terbuka, mengurangi prasangka, serta menghargai perbedaan budaya. Bagi mahasiswa tersebut, Wuhan telah menjelma menjadi rumah kedua yang menyimpan kisah berharga selama menjalani kehidupan di perantauan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment