Salt Bread Masih Digemari di Indonesia, Ini Alasan Roti Gurih Bertekstur Renyah Itu Populer

Salt bread masih menjadi salah satu kudapan yang digemari masyarakat Indonesia. Meski sempat ramai sebagai tren kuliner, popularitas roti ini ternyata belum mereda. Justru, semakin banyak produsen lokal yang menawarkan salt bread dengan cita rasa dan variasi masing-masing.

Roti yang tampak sederhana tersebut berhasil menarik perhatian karena memiliki perpaduan rasa dan tekstur yang dianggap sesuai dengan selera masyarakat Indonesia. Gurihnya mentega, rasa asin dari taburan garam, bagian luar yang renyah, serta tekstur dalam yang lembut membuat salt bread tidak hanya dikenal karena viral, tetapi juga mampu bertahan sebagai pilihan camilan.

Berawal dari Tren Kuliner di Korea Selatan

Sebelum populer di Indonesia, salt bread lebih dahulu mencuri perhatian di Korea Selatan. Salah satu toko yang dikenal menjual roti ini adalah Jayeondo Sogeumpang. Dengan hanya menawarkan satu menu utama, toko tersebut tetap ramai dikunjungi warga lokal maupun wisatawan asing.

Antusiasme pelanggan terlihat dari kesediaan mereka mengantre untuk mendapatkan satu paket berisi empat salt bread. Paket tersebut dibanderol dengan harga 12 ribu won atau sekitar Rp156 ribu. Popularitas Jayeondo Sogeumpang kemudian ikut membuat salt bread semakin dikenal secara luas melalui internet.

Roti Sederhana dengan Perpaduan Rasa yang Khas

Secara tampilan, salt bread memiliki bentuk seperti gulungan dengan kedua ujung yang sedikit mengerucut. Warnanya cokelat keemasan dan biasanya dihiasi taburan garam di bagian atas. Penampilannya memang terlihat sederhana, tetapi rasa yang ditawarkan cukup kompleks.

Ketika disantap, roti ini memberikan rasa gurih dari lelehan mentega dan sentuhan asin dari garam. Bagian luarnya terasa renyah, sementara bagian dalamnya tetap lembut. Perpaduan tersebut menjadi salah satu alasan utama salt bread mudah diterima oleh berbagai kalangan.

Perbedaan Shio Pan dan Sogeum Ppang

Meski dikenal luas melalui Korea Selatan, salt bread sebenarnya berasal dari Jepang. Roti ini mulanya dikenal dengan nama shio pan dan dikreasikan oleh para baker di Prefektur Ehime. Shio pan kemudian mulai populer sejak dekade 2010-an.

Namun, shio pan memiliki perbedaan dengan sogeum ppang, sebutan untuk salt bread ala Korea. Shio pan cenderung memiliki rasa yang lebih ringan. Sementara itu, sogeum ppang menawarkan cita rasa yang lebih kaya dengan rasa mentega yang lebih kuat.

Perbedaan lainnya dapat ditemukan pada bagian bawah roti. Pada sogeum ppang, bagian tersebut menghadirkan sensasi mentega yang terkaramelisasi. Karakter ini memberikan tambahan rasa serta tekstur yang membuat pengalaman menyantap salt bread semakin menarik.

Selera Asin Masyarakat Indonesia Jadi Faktor Pendukung

Popularitas salt bread di Korea Selatan akhirnya sampai ke Indonesia. Tidak membutuhkan waktu lama, sejumlah produsen lokal mulai menghadirkan salt bread dengan cita rasa yang tidak kalah menarik.

Tren yang belum meredup juga terlihat dari ekspansi Dough Darling, jenama yang dikenal melalui produk donat, melalui jenama baru bernama Sunday Batch. Co-Founder Sunday Batch, Sidney Mohede, menilai masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan menyukai kudapan asin.

Menurut Sidney, karakter rasa dan tekstur salt bread sangat sesuai dengan selera konsumen Indonesia. Roti ini memiliki rasa asin, tekstur lembut, serta bagian yang renyah. Kombinasi tersebut membuat salt bread tetap memiliki daya tarik meskipun tren awalnya telah berlalu.

“Lidah kita ini sebenarnya lidah asin. Lalu kita orang Indonesia itu suka tekstur jadi ada asin, lembut, ada crunchy. Saya rasa orang Indonesia suka banget [karena faktor itu],” ujar Sidney dalam grand launching Sunday Batch di Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (3/9).

Bukan Sekadar Viral, tetapi Juga Comfort Food

Co-Founder Sunday Batch lainnya, Ivan Mario, turut membagikan pengalamannya ketika mencicipi salt bread untuk pertama kali saat berlibur ke Korea Selatan. Menurutnya, daya tarik salt bread tidak semata-mata berasal dari popularitasnya di internet.

Ivan menilai salt bread dapat menjadi comfort food atau makanan yang nyaman untuk dinikmati. Meskipun saat itu belum tersedia banyak pilihan rasa seperti yang ditawarkan Sunday Batch, ia tetap dapat menyantap salt bread beberapa kali tanpa merasa bosan. Roti tersebut juga dinilai tidak menimbulkan rasa terlalu berat atau “eneg”.

Cara Menikmati Salt Bread agar Lebih Nikmat

Salt bread paling nikmat disantap dalam kondisi hangat. Saat dipanaskan, tekstur renyah pada bagian kulit akan terasa lebih kuat sehingga memberikan sensasi yang lebih menggugah selera.

Untuk menghangatkannya, salt bread dapat dipanaskan menggunakan teflon atau wajan antilengket dengan api kecil. Cara lain yang lebih praktis adalah menggunakan air fryer atau oven. Panaskan roti pada suhu 170 derajat Celsius selama sekitar empat menit.

Kesimpulan

Salt bread mampu mempertahankan popularitasnya di Indonesia karena menawarkan perpaduan rasa asin dan gurih dengan tekstur yang beragam. Pengaruh tren dari Korea Selatan memang turut memperkenalkannya kepada masyarakat luas, tetapi daya tarik roti ini tidak berhenti pada faktor viral.

Selera masyarakat Indonesia terhadap kudapan asin, lembut, dan renyah menjadi alasan salt bread tetap digemari. Dengan semakin hadirnya produsen lokal dan berbagai pilihan yang ditawarkan, salt bread berpeluang terus menjadi bagian dari tren kuliner Indonesia, bukan sekadar fenomena sesaat.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment