Film Dokumenter NAZA Pecahkan Rekor Standing Ovation di Venice Film Festival 2026

Film dokumenter NAZA mencuri perhatian dalam penyelenggaraan Venice Film Festival 2026. Tayangan yang melakukan pemutaran perdana pada 10 September 2026 tersebut mendapat standing ovation selama 24,5 menit dari penonton. Durasi tepuk tangan itu sekaligus mencatatkan rekor baru dalam sejarah festival film bergengsi tersebut.

Capaian NAZA melampaui rekor sebelumnya yang diraih The Voice of Hind Rajab pada 2025. Film tersebut memperoleh sambutan penonton selama 22 menit. Sementara itu, dalam rangkaian Venice Film Festival tahun ini, rekor sebelumnya dipegang Bunker, film yang dibintangi Penelope Cruz dan Javier Bardem, dengan durasi tepuk tangan 16 menit 30 detik.

NAZA Pecahkan Rekor Sambutan di Venice Film Festival

Standing ovation selama 24,5 menit menjadi salah satu momen paling menonjol dalam pemutaran NAZA di Venice Film Festival 2026. Sambutan panjang tersebut memperlihatkan kuatnya respons penonton terhadap dokumenter yang mengangkat isu konflik dan kemanusiaan di Gaza.

Momen emosional itu dipimpin oleh Jonathan Glazer, produser eksekutif NAZA sekaligus sutradara pemenang Oscar. Glazer terlihat memeluk erat dua sutradara film tersebut, Yuval Abraham dan Rachel Szor, di tengah penonton yang memberikan tepuk tangan. Dalam suasana tersebut, bendera Palestina turut dibentangkan.

Respons tersebut juga memperkuat perhatian publik terhadap film yang sejak awal membawa tema sensitif dan kontroversial. NAZA tidak hanya menampilkan gambaran mengenai konflik di Gaza, tetapi juga berusaha mengungkap sistem yang berada di balik serangan militer Israel di Jalur Gaza.

Dokumenter Investigatif tentang Konflik Gaza

NAZA merupakan film dokumenter yang digarap oleh Yuval Abraham dan Rachel Szor. Keduanya dikenal sebagai sineas sekaligus jurnalis investigatif asal Israel. Film ini diproduksi oleh media Inggris The Guardian bersama JW Films.

Dokumenter tersebut menyoroti genosida yang sedang berlangsung di Gaza akibat tindakan pasukan Israel sejak Oktober 2023. Dalam film ini, istilah NAZA dijelaskan sebagai akronim militer yang berasal dari frasa bahasa Ibrani, “nezek agavi”. Istilah tersebut digunakan oleh Israeli Defense Force atau IDF untuk menunjukkan perkiraan jumlah warga sipil yang kemungkinan tewas dalam serangan udara sebagai dampak kolateral.

Proses pembuatan film dilakukan secara rahasia dari atap-atap bangunan di Tel Aviv ketika Perang Gaza masih berlangsung. Melalui pendekatan tersebut, NAZA berupaya memperlihatkan peran pemerintah Israel dalam pembunuhan massal warga sipil Palestina selama konflik berlangsung.

Wawancara dengan Perwira dan Prajurit Intelijen

Salah satu bagian penting dalam NAZA adalah wawancara dengan 24 perwira dan prajurit intelijen militer Israel. Kesaksian mereka digunakan untuk membongkar sistem di balik pelaksanaan serangan militer Israel di Jalur Gaza.

Film ini juga memanfaatkan data jumlah korban yang bersumber dari laporan media aktivis Israel, yakni +972 Magazine dan Local Call. Selain itu, dokumenter tersebut menggunakan laporan The Guardian yang diterbitkan pada periode 2023 hingga 2025.

Dengan materi tersebut, NAZA menyajikan penyelidikan mengenai cara kerja institusi militer serta dampak serangan terhadap warga sipil Palestina. Film ini juga menempatkan pengalaman dan posisi pembuatnya sebagai bagian penting dalam upaya mengungkap institusi militer Israel dari perspektif internal.

Meraih Penilaian Tinggi dari Kritikus

Sambutan positif terhadap NAZA tidak hanya terlihat dari standing ovation di Venice Film Festival 2026. Berdasarkan data hingga 11 September 2026, film ini memperoleh skor Tomatometer sebesar 100 persen di Rotten Tomatoes dari 14 ulasan. Nilai rata-rata yang tercatat mencapai 9 dari 10.

Di Metacritic, NAZA mendapatkan skor rata-rata tertimbang 96 dari 100 berdasarkan 13 ulasan kritikus. Skor tersebut menempatkan film ini dalam kategori universal acclaim atau mendapat pengakuan universal dari para pengulas.

Penilaian tinggi dari kedua situs agregator tersebut sejalan dengan reaksi penonton di Venice Film Festival. Standing ovation yang berlangsung lebih dari 24 menit menjadi penanda bahwa film ini memperoleh perhatian besar sejak pemutaran perdananya.

Yuval Abraham Ungkap Dorongan Membuat NAZA

Yuval Abraham sebelumnya meraih piala Oscar 2025 melalui film dokumenter No Other Land. Dalam penggarapan NAZA, ia mengaku terdorong untuk memanfaatkan posisinya sebagai warga Israel guna membedah institusi militer negaranya sendiri.

Menurut Abraham, langkah tersebut dilakukan untuk menguliti sistem yang oleh berbagai lembaga hak asasi manusia internasional dinilai sebagai aksi genosida terhadap warga Palestina. Pernyataan itu menjadi salah satu landasan penting bagi dokumenter NAZA dalam menempatkan konflik Gaza sebagai persoalan kemanusiaan dan pertanggungjawaban institusional.

Kesimpulan

NAZA menjadi salah satu film paling banyak dibicarakan di Venice Film Festival 2026 setelah meraih standing ovation selama 24,5 menit. Dokumenter karya Yuval Abraham dan Rachel Szor itu memecahkan rekor festival, melampaui catatan The Voice of Hind Rajab pada 2025 dan Bunker pada tahun ini.

Selain memperoleh sambutan emosional dari penonton, NAZA juga mencatatkan penilaian tinggi dari Rotten Tomatoes dan Metacritic. Dengan mengangkat kesaksian personel intelijen, data korban, serta sistem di balik serangan militer Israel, film ini diperkirakan akan terus menjadi bahan perbincangan publik seiring meningkatnya perhatian terhadap isu konflik Gaza dan hak asasi manusia.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment