AS Setujui Potensi Penjualan 48 Jet Tempur F-35 ke Arab Saudi Senilai Rp432,8 Triliun

Amerika Serikat (AS) menyetujui potensi penjualan jet tempur siluman F-35 kepada Arab Saudi dengan nilai diperkirakan mencapai US$24,3 miliar atau sekitar Rp432,8 triliun. Persetujuan tersebut disampaikan Departemen Luar Negeri AS pada Kamis (17/9) dan dikutip CNN pada Jumat (18/9).

Dalam proposal itu, Arab Saudi meminta 48 unit F-35 varian lepas landas dan mendarat konvensional. Selain pesawat tempur, Riyadh juga mengajukan pembelian 49 mesin Pratt & Whitney F135-PW-100 yang digunakan untuk mendukung operasional jet generasi kelima tersebut.

Meski telah mendapat persetujuan dari Departemen Luar Negeri AS, transaksi ini belum sepenuhnya final. Rencana penjualan masih harus melewati proses persetujuan Kongres AS. Jika disetujui, pengiriman jet tempur tersebut juga diperkirakan baru berlangsung dalam beberapa tahun mendatang.

Penjualan F-35 Masih Menunggu Persetujuan Kongres

Sejumlah anggota Kongres AS dilaporkan mewaspadai rencana kerja sama militer yang lebih erat dengan Arab Saudi. Kekhawatiran itu berkaitan dengan hubungan kerajaan tersebut dengan China, terutama dalam konteks kerja sama pertahanan dan teknologi strategis.

Isu serupa sebelumnya muncul dalam rencana penjualan F-35 kepada Uni Emirat Arab (UEA). Pada masa pemerintahan pertama Donald Trump, AS mendorong penjualan jet siluman itu kepada Abu Dhabi. Namun, rencana tersebut gagal berlanjut pada masa pemerintahan Joe Biden karena kekhawatiran terkait hubungan militer UEA dengan China.

Para analis menilai persoalan yang sama juga berpotensi memengaruhi hubungan AS dan Arab Saudi. Kendati demikian, pemerintahan Trump tetap meneruskan rencana penjualan jet tempur tersebut kepada Riyadh.

Fokus AS Bergeser ke Penjualan Senjata

Rencana penjualan F-35 kepada Arab Saudi pada awalnya dikaitkan dengan upaya normalisasi hubungan antara Riyadh dan Israel. Namun, menurut CNN, Trump tampaknya telah meninggalkan persyaratan tersebut dan lebih menitikberatkan kebijakan pada penjualan senjata bernilai miliaran dolar.

Pada 2025, AS telah menyetujui paket senjata senilai hampir US$142 miliar atau sekitar Rp2.529,3 triliun berdasarkan kurs Rp17.812 per dolar AS. Gedung Putih menyebut kesepakatan itu sebagai perjanjian kerja sama pertahanan terbesar dalam sejarah AS.

Potensi penjualan F-35 menambah daftar kerja sama pertahanan berskala besar antara Washington dan Riyadh. Namun, prosesnya tetap menghadapi tahapan politik di Kongres serta perhatian terhadap arah hubungan Arab Saudi dengan China.

Penjualan Muncul di Tengah Memanasnya Konflik Houthi

Kabar mengenai rencana penjualan jet tempur itu muncul beberapa hari setelah fasilitas minyak dan pangkalan militer Arab Saudi diserang kelompok Houthi yang didukung Iran.

Konflik antara Arab Saudi dan Houthi kembali memanas sejak Juli 2026. Serangan menggunakan drone dan rudal dilaporkan menyasar kompleks minyak kerajaan, mengganggu kegiatan operasional, serta mengancam jalur pasokan.

CNN juga melaporkan bahwa kendali efektif Iran atas Selat Hormuz dan pengaruhnya yang semakin kuat di Selat Bab al-Mandeb berpotensi mendorong kenaikan harga minyak. Situasi tersebut menjadi perhatian karena terjadi beberapa pekan sebelum pemilu sela AS pada November.

Israel Soroti Dampak terhadap Keseimbangan Militer

Apabila terealisasi, Arab Saudi akan menjadi negara kedua di Timur Tengah yang mengoperasikan F-35 setelah Israel. Berdasarkan hukum AS, Washington wajib memastikan Israel tetap mempertahankan keunggulan militer kualitatif di kawasan.

Pejabat Israel belum segera memberikan komentar setelah pengumuman potensi penjualan tersebut. Namun, pada November 2025, ketika Trump menyatakan akan menjual F-35 kepada Arab Saudi, seorang sumber keamanan Israel mengungkapkan kekhawatiran terhadap kemungkinan Riyadh memperoleh jet tempur generasi kelima itu.

Ini tidak baik bagi Israel, ujar sumber tersebut.

Pada Juli 2026, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga secara terbuka menentang penjualan F-35 kepada Turki. Ia memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat menghancurkan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.

Potensi penjualan F-35 kepada Arab Saudi karena itu dinilai dapat memengaruhi keseimbangan militer regional. Meski demikian, Departemen Luar Negeri AS menepis kekhawatiran tersebut.

“Usulan penjualan peralatan dan dukungan ini tidak akan mengubah keseimbangan militer di kawasan,” kata Departemen Luar Negeri AS.

Kesimpulan

AS telah menyetujui potensi penjualan 48 jet tempur siluman F-35 beserta peralatan pendukung kepada Arab Saudi dengan nilai sekitar US$24,3 miliar. Namun, kesepakatan tersebut masih harus mendapatkan persetujuan Kongres dan pengiriman pesawat diperkirakan baru dilakukan beberapa tahun lagi.

Rencana ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan Saudi-Houthi, kekhawatiran terhadap hubungan Riyadh dengan China, serta sorotan Israel mengenai keseimbangan militer di Timur Tengah. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada keputusan Kongres AS dan proses politik yang menyertai kerja sama pertahanan Washington dengan Riyadh.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment