Houthi Serang Pelabuhan King Fahd di Arab Saudi, Ketegangan dengan Riyadh Meningkat

Milisi Houthi kembali melancarkan serangan terhadap Arab Saudi dengan menargetkan Pelabuhan Industri King Fahd pada Jumat (18/9). Serangan tersebut dilaporkan menggunakan rudal balistik dan menyebabkan gangguan signifikan terhadap aktivitas di pelabuhan. Hingga laporan ini disusun, belum ada informasi mengenai korban jiwa akibat operasi tersebut.

Laporan serangan itu muncul ketika hubungan antara Houthi dan Arab Saudi kembali berada dalam situasi tegang. Kedua pihak saling melontarkan tuduhan serangan dan agresi. Houthi menyatakan serangan mereka merupakan bagian dari perlawanan terhadap operasi militer Saudi di Yaman, sementara Riyadh menjadi sasaran serangan milisi tersebut.

Pelabuhan King Fahd Jadi Sasaran Rudal Balistik

Middle East Eye, dengan mengutip media semi pemerintah Iran, melaporkan bahwa Houthi melancarkan serangan rudal balistik ke Pelabuhan Industri King Fahd pada dini hari. Pelabuhan tersebut dikenal sebagai Fahd Port dalam laporan mengenai serangan terbaru ini.

Rekaman yang beredar disebut menunjukkan dampak serangan terhadap fasilitas pelabuhan. Operasi tersebut menimbulkan gangguan signifikan pada aktivitas di area pelabuhan. Meski demikian, belum ada laporan mengenai korban jiwa yang timbul akibat serangan rudal tersebut.

Informasi mengenai tingkat kerusakan maupun rincian lain terkait serangan belum dijelaskan lebih lanjut dalam laporan yang dikutip. Karena itu, dampak keseluruhan terhadap fasilitas pelabuhan masih belum dapat dipastikan.

Houthi Klaim Saudi Lancarkan 37 Serangan Udara

Dalam perkembangan terpisah, juru bicara pasukan Houthi, Yahya Saree, mengeklaim jet tempur F-15 milik Arab Saudi melancarkan 37 serangan udara di Provinsi Taiz dan Hajjah dalam kurun waktu 24 jam terakhir.

Menurut Saree, pesawat-pesawat tempur tersebut lepas landas dari Khamis Mushait. Ia juga menyatakan serangan udara Saudi menyebabkan jatuhnya korban tewas dan luka-luka. Namun, Saree tidak memberikan rincian mengenai jumlah korban maupun lokasi pasti dampak serangan tersebut.

Klaim tersebut disampaikan setelah Houthi menyerang pelabuhan di wilayah Saudi. Laporan mengenai serangan udara dan rudal ini memperlihatkan kembali pola saling balas antara kedua pihak dalam konflik yang melibatkan Yaman dan Arab Saudi.

Pemimpin Houthi Tuduh Saudi Melakukan Agresi

Pemimpin Houthi, Sayyed Abdul Malik, menuduh Arab Saudi terus melakukan agresi dan pengepungan terhadap Yaman. Ia menyebut tindakan tersebut berlangsung di bawah pengawasan Amerika Serikat serta hasutan Israel.

Abdul Malik juga menegaskan bahwa kelompoknya siap menghadapi kampanye berkepanjangan dari pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh Houthi. Ia menyatakan kemenangan yang diraih kelompoknya merupakan hasil pertolongan Tuhan dan bagian dari perjuangan rakyat Yaman.

“Kemenangan yang diraih datang dengan pertolongan Tuhan dan dalam kerangka perjuangan rakyat kita yang adil,” kata Abdul Malik, seperti dikutip Tasnim.

Lebih lanjut, Abdul Malik mengatakan Houthi tidak pernah memulai perang dan tetap berada dalam posisi bertahan. Menurut dia, eskalasi terbaru bermula ketika Riyadh melancarkan serangan terhadap Bandara Sana’a.

Ketegangan Saudi dan Houthi Terus Meningkat

Serangan ke Pelabuhan Industri King Fahd menambah daftar insiden antara Houthi dan Arab Saudi. Sebelumnya, milisi tersebut juga dilaporkan pernah menggempur pipa Riyadh serta pangkalan udara milik negara Teluk tersebut.

Di sisi lain, Houthi mengeklaim serangan udara Saudi menghantam sejumlah wilayah di Yaman. Saling tuduh ini menunjukkan bahwa ketegangan antara kedua pihak masih belum mereda.

Kesimpulan

Houthi dilaporkan menyerang Pelabuhan Industri King Fahd di Arab Saudi menggunakan rudal balistik. Serangan itu menyebabkan gangguan signifikan di pelabuhan, tetapi belum ada laporan korban jiwa. Pada saat yang sama, juru bicara Houthi mengeklaim Saudi melancarkan puluhan serangan udara di Taiz dan Hajjah.

Pernyataan pemimpin Houthi menunjukkan kelompok tersebut tetap mempertahankan narasi bahwa mereka berada dalam posisi bertahan. Dengan meningkatnya serangan dan tuduhan dari kedua pihak, situasi Saudi-Houthi diperkirakan masih akan diwarnai ketegangan serta kampanye militer berkepanjangan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment