Konflik Houthi dan Arab Saudi Memanas, Riyadh Jadi Sasaran Serangan Rudal
Konflik antara kelompok Houthi di Yaman dan Arab Saudi kembali memanas. Pada Sabtu (19/9), Riyadh, ibu kota Arab Saudi, menjadi sasaran serangan yang dilancarkan Houthi. Serangan tersebut memicu bunyi sirene peringatan udara di berbagai penjuru ibu kota dan menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang berperang melawan Houthi di Yaman menyatakan telah mencegat serangan yang diarahkan ke Riyadh dan sejumlah wilayah Saudi lainnya. Meski rudal-rudal tersebut berhasil dihalau, puing-puing hasil pencegatan dilaporkan jatuh ke sejumlah lokasi dan melukai beberapa warga.
Riyadh Menjadi Target Serangan Houthi
Menurut laporan yang dikutip dari Al Jazeera, serangan Houthi menyebabkan sirene peringatan udara meraung di seluruh Riyadh. Peristiwa ini menjadi perhatian karena merupakan peringatan serangan udara pertama yang terdengar di ibu kota Arab Saudi sejak konflik antara kedua pihak kembali pecah pada Juli lalu.
Houthi mengklaim serangan itu menyasar sejumlah lokasi yang mereka sebut sebagai titik-titik “sensitif” di Riyadh. Selain itu, kelompok tersebut menyatakan telah menargetkan fasilitas minyak milik Aramco yang berada di Kota Yanbu.
Dalam keterangannya, Houthi mengaku menggunakan berbagai jenis persenjataan, termasuk rudal jelajah, rudal balistik, dan pesawat nirawak. Kelompok tersebut juga menyebut serangan itu menimbulkan “kebakaran besar”. Namun, klaim mengenai dampak serangan tersebut disampaikan oleh pihak Houthi, sementara pasukan koalisi Saudi menyatakan serangan berhasil dicegat.
Konflik Kembali Meletus sejak Juli
Eskalasi terbaru ini berawal dari serangan terhadap bandara di Sanaa, ibu kota Yaman, pada 13 Juli. Serangan tersebut menyebabkan pesawat yang membawa delegasi Houthi dari Iran tidak dapat mendarat. Houthi kemudian menuduh Arab Saudi sebagai pihak yang berada di balik serangan itu.
Serangan terhadap bandara tersebut dilancarkan oleh pemerintah Yaman yang mendapat dukungan dari Arab Saudi. Setelah kejadian itu, Houthi meningkatkan serangan ke berbagai wilayah Saudi. Kelompok tersebut juga memblokade jalur perairan yang digunakan oleh kapal-kapal milik Riyadh.
Salah satu serangan sebelumnya sempat dituduhkan menyasar Kota Mekkah. Namun, Houthi membantah tuduhan tersebut dan menyatakan tidak menyerang kota suci umat Islam itu.
Houthi Peringatkan Negara Lain
Anggota biro politik Houthi, Mohamed Al Bukhaiti, memberikan pernyataan kepada Associated Press pada Minggu (20/9). Ia memperingatkan negara-negara lain agar tidak bergabung dengan Arab Saudi dalam menghadapi Houthi.
Al Bukhaiti menyatakan Houthi memiliki kemampuan untuk berperang di berbagai front apabila ada negara lain yang terlibat dalam apa yang disebutnya sebagai agresi terhadap Yaman bersama Arab Saudi. Menurut dia, Yaman kini mampu menghadapi konflik bukan hanya di tingkat internal, tetapi juga dalam lingkup internasional.
“Saat ini, Yaman mampu berperang bukan hanya di lingkungan internal, tetapi juga secara internasional,” ujar Al Bukhaiti.
Serangan Diklaim Akan Berlanjut
Al Bukhaiti mengatakan serangan terhadap Arab Saudi akan terus dilakukan hingga Riyadh mengakhiri blokade yang disebut telah berlangsung selama satu dekade terhadap wilayah-wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman.
Selain mengakhiri blokade, Houthi juga menuntut agar kapal-kapal dapat kembali mencapai pelabuhan yang mereka kuasai di kawasan Laut Merah. Jika tuntutan tersebut dipenuhi, Al Bukhaiti menyatakan Houthi siap membuka jalan menuju perundingan damai dengan Arab Saudi.
Dalam wawancara melalui Zoom dari ibu kota Yaman, Al Bukhaiti juga menegaskan bahwa sasaran Houthi hanya Arab Saudi. Ia menyatakan kelompok tersebut tidak bermaksud menyerang kapal-kapal lain, termasuk kapal milik Amerika Serikat.
“Kami menegaskan bahwa kami tidak menargetkan Amerika Serikat, atau negara lain mana pun, di selat ini, kecuali Saudi,” kata Al Bukhaiti kepada AP.
Kesimpulan
Serangan ke Riyadh menandai peningkatan ketegangan terbaru antara Houthi dan Arab Saudi. Meskipun serangan berhasil dicegat oleh pasukan koalisi, jatuhnya puing-puing rudal dan adanya warga yang terluka menunjukkan risiko konflik terhadap masyarakat sipil.
Houthi menyatakan serangan akan berlanjut selama blokade terhadap wilayah yang mereka kuasai belum diakhiri. Di sisi lain, kelompok tersebut mengaku terbuka terhadap perundingan damai apabila tuntutan terkait blokade dan akses kapal menuju pelabuhan di Laut Merah dipenuhi. Dengan demikian, perkembangan konflik selanjutnya akan sangat bergantung pada sikap Riyadh serta kemungkinan terbukanya kembali jalur negosiasi antara kedua pihak.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment