Letusan Krakatau 1883 dan Mercusuar Cikoneng: Jejak Sejarah dari Masa Raja Willem III

Letusan Gunung Krakatau pada 26–27 Agustus 1883 tercatat sebagai salah satu bencana alam terdahsyat yang pernah terjadi di dunia. Peristiwa yang berlangsung di Nusantara tersebut tidak hanya menghancurkan wilayah di sekitarnya, tetapi juga menimbulkan tsunami dengan jumlah korban lebih dari 36.000 orang. Dampaknya bahkan terdengar dan terukur hingga berbagai wilayah di dunia.

Di balik catatan mengenai kedahsyatan letusan itu, terdapat kisah tentang pemerintahan kolonial Belanda dan pembangunan kembali salah satu infrastruktur penting yang hancur akibat bencana. Dua tahun setelah letusan, Raja Willem III memerintahkan pembangunan kembali mercusuar di Anyer. Bangunan tersebut kini dikenal sebagai Mercusuar Cikoneng dan masih berdiri sebagai salah satu jejak sejarah letusan Krakatau.

Letusan Krakatau Menjadi Bencana Berskala Dunia

Letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada 26–27 Agustus 1883 menghasilkan dampak luar biasa besar. Menurut tulisan Monique R. Morgan di situs Branch Collective, letusan tersebut memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 36.000 orang. Suara letusannya juga terdengar hingga jarak sekitar 3.000 mil.

Selain menimbulkan korban jiwa dan kerusakan di wilayah sekitar, letusan Krakatau menyebabkan perubahan yang dapat diukur pada permukaan laut dan tekanan udara di seluruh dunia. Catatan tersebut menunjukkan bahwa bencana Krakatau tidak hanya menjadi peristiwa penting bagi Nusantara, tetapi juga memiliki dampak yang dirasakan dalam skala global.

Kerusakan akibat bencana itu turut menghancurkan berbagai infrastruktur, termasuk mercusuar di Anyer. Pada masa tersebut, wilayah Indonesia masih berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda dengan Raja Willem III sebagai penguasa.

Raja Willem III dan Pemerintahan Belanda

Raja Willem III memimpin Belanda sejak 1849 hingga wafat pada 1890. Masa pemerintahannya mencakup peristiwa letusan dahsyat Gunung Krakatau pada Agustus 1883. Berdasarkan keterangan Britannica, Willem III dikenal sebagai raja yang konservatif.

Dalam perjalanan politiknya, pada 1867 Willem III pernah mencoba menjual kedaulatannya kepada Prancis. Namun, ia kemudian mengalah terhadap tuntutan Prusia agar wilayah tersebut merdeka. Pada waktu yang sama, ia menggabungkan sebagian wilayah Limburg ke Belanda.

Setelah berlangsungnya krisis Luksemburg, pengaruh Willem III di parlemen mengalami penurunan secara drastis. Dalam kehidupan keluarganya, ia menikah dengan Emma dari Waldeck-Pyrmont pada 1879 setelah istri pertamanya meninggal pada 1877. Emma kemudian menjadi wali raja pada 1890 ketika Willem III sedang sakit. Setelah sang raja wafat, putrinya dari Emma, Wilhelmina, naik takhta Belanda.

Pembangunan Kembali Mercusuar Anyer

Kabar mengenai letusan Krakatau dan kerusakan infrastruktur yang ditimbulkannya sampai kepada Raja Willem III. Pada 1885, atau dua tahun setelah bencana, ia memerintahkan pembangunan kembali mercusuar di Anyer yang hancur akibat letusan dan dampaknya.

Mercusuar tersebut kini masih berdiri kokoh dan sering disebut sebagai Mercusuar Cikoneng karena berada di Desa Cikoneng. Menara itu memiliki tinggi 75,5 meter dan dicat berwarna putih. Nama Raja Willem III tercantum di bagian pintu masuk, menjadi penanda hubungan antara bangunan tersebut dan pemerintahan Belanda pada masa itu.

Mercusuar Cikoneng sebagai Jejak Sejarah

Keberadaan Mercusuar Cikoneng memperlihatkan bahwa jejak letusan Krakatau tidak hanya tersimpan dalam catatan mengenai tsunami, korban jiwa, serta perubahan permukaan laut dan tekanan udara. Bangunan tersebut juga menjadi bagian dari warisan sejarah yang berkaitan langsung dengan upaya pembangunan kembali setelah bencana.

Dengan menara yang tetap berdiri, Mercusuar Cikoneng mengingatkan masyarakat pada skala kehancuran yang ditimbulkan letusan Krakatau sekaligus pada respons pemerintah kolonial terhadap kerusakan infrastruktur. Nama Willem III yang tercantum di pintu masuk semakin memperkuat nilai historis bangunan tersebut.

Kesimpulan

Letusan Gunung Krakatau pada 26–27 Agustus 1883 merupakan bencana besar yang menewaskan lebih dari 36.000 orang, memicu tsunami, terdengar hingga ribuan mil, serta menimbulkan perubahan terukur pada permukaan laut dan tekanan udara di seluruh dunia. Peristiwa tersebut juga menghancurkan berbagai infrastruktur, termasuk mercusuar di Anyer.

Dua tahun kemudian, Raja Willem III memerintahkan pembangunan kembali mercusuar tersebut. Kini, Mercusuar Cikoneng tetap berdiri sebagai penanda sejarah letusan Krakatau dan masa pemerintahan Willem III. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa catatan sejarah bencana perlu terus dirawat agar generasi mendatang dapat memahami besarnya dampak peristiwa tersebut.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment