Malaysia Tunggu Persetujuan Indonesia untuk Bantu Atasi Karhutla dan Kabut Asap ASEAN

Malaysia menawarkan bantuan kepada Indonesia untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap hingga berdampak ke sejumlah negara ASEAN. Namun, pemerintah Malaysia masih menunggu persetujuan resmi dari Indonesia sebelum mengerahkan aset dan metode pemadaman yang telah disiapkan.

Menteri Komunikasi Malaysia Fahmi Fadzil mengatakan, pemerintah Negeri Jiran telah menyampaikan daftar aset yang dapat digunakan untuk membantu Indonesia. Bantuan tersebut disiapkan sebagai bagian dari upaya menangani karhutla yang masih membara dan menimbulkan persoalan kabut asap lintas batas.

Malaysia Telah Kirim Daftar Aset Bantuan

Fahmi menjelaskan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana Malaysia atau NADMA bersama Kementerian Luar Negeri Malaysia, yang dikenal sebagai Wisma Putra, telah menyampaikan informasi mengenai aset bantuan kepada pemerintah Indonesia.

“NADMA dan Wisma Putra memberi tahu kabinet bahwa daftar aset yang dapat kami sediakan untuk membantu negara tetangga telah dikirim ke Indonesia,” kata Fahmi pada Rabu (9/9), seperti dikutip Bernama.

Meski demikian, hingga kini belum ada kepastian mengenai bentuk kerja sama yang akan dijalankan. Pemerintah Malaysia masih menunggu konfirmasi dari Indonesia terkait pemanfaatan aset tersebut, termasuk untuk membantu memadamkan titik api.

Fahmi menyatakan belum ada konfirmasi mengenai kerja sama apa pun untuk menggunakan aset Malaysia dalam upaya pemadaman karhutla. Karena itu, pelaksanaan bantuan masih bergantung pada keputusan dan persetujuan pemerintah Indonesia.

Bantuan Mencakup Water Bombing dan Cloud Seeding

Dalam pernyataan terpisah, Menteri Sumber Daya Alam dan Pelestarian Lingkungan Hidup Malaysia Arthur Joseph mengungkapkan bahwa bantuan yang ditawarkan kepada Indonesia mencakup water bombing dan cloud seeding.

Water bombing merupakan metode pemadaman dengan menjatuhkan air dari udara ke area yang terbakar. Sementara itu, cloud seeding atau penyemaian awan ditawarkan sebagai salah satu metode yang dapat mendukung upaya penanganan kondisi cuaca yang berisiko memperburuk karhutla.

Arthur mengatakan, tawaran bantuan tersebut telah disampaikan kepada Menteri Lingkungan Hidup RI Mohammad Jumhur Hidayat. Penyampaian itu dilakukan setelah keduanya menggelar diskusi bilateral di Bali pada 8 Juli dan melanjutkan komunikasi melalui sambungan telepon pada 24 Agustus.

Komitmen Pencegahan Kebakaran dan Kabut Asap

Menurut Arthur, Malaysia dan Indonesia telah menyatakan komitmen untuk memperkuat pencegahan serta pemadaman dini terhadap risiko kebakaran dan kabut asap lintas batas. Upaya tersebut dinilai penting di tengah fenomena El Nino dan Monsun Barat Daya yang meningkatkan risiko cuaca panas dan kering.

Kondisi cuaca tersebut menjadi salah satu perhatian dalam penanganan karhutla karena dapat meningkatkan potensi kebakaran. Oleh sebab itu, kedua negara menilai koordinasi dan tindakan awal perlu diperkuat untuk menghadapi kemungkinan memburuknya situasi.

Bantuan Harus Berdasarkan Permintaan Indonesia

Arthur menegaskan bahwa koordinasi bantuan akan dilakukan sesuai kesepakatan ASEAN mengenai polusi kabut lintas batas. Dalam kesepakatan tersebut, negara-negara anggota ASEAN dapat menawarkan bantuan kepada negara lain berdasarkan permintaan dan persetujuan negara penerima.

Dengan ketentuan tersebut, Malaysia menyatakan menghormati sepenuhnya kedaulatan Indonesia. Kuala Lumpur juga siap membahas bentuk bantuan yang paling sesuai apabila pemerintah Indonesia menerima tawaran tersebut.

Posisi ini menunjukkan bahwa bantuan Malaysia tidak akan dijalankan secara sepihak. Pelaksanaannya tetap memerlukan persetujuan Indonesia, termasuk terkait jenis aset, metode bantuan, dan mekanisme kerja sama yang akan digunakan untuk menangani karhutla.

Kerja Sama Bilateral Dinilai Penting

Malaysia memandang persoalan kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap lintas batas sebagai tantangan yang perlu ditangani melalui tindakan dini, koordinasi erat, dan semangat tanggung jawab bersama.

Arthur menilai kerja sama yang kuat antara Malaysia dan Indonesia sangat penting untuk mengatasi kondisi saat ini. Kerja sama tersebut juga dibutuhkan untuk memperkuat kesiapan kedua negara menghadapi risiko yang berpotensi meningkat selama periode cuaca panas dan kering.

Kesimpulan

Malaysia telah menawarkan sejumlah bantuan kepada Indonesia untuk menangani karhutla, termasuk melalui metode water bombing dan cloud seeding. Daftar aset bantuan telah dikirimkan, tetapi pelaksanaannya masih menunggu persetujuan resmi dari pemerintah Indonesia.

Ke depan, koordinasi kedua negara akan menjadi faktor penting dalam penanganan kebakaran dan kabut asap lintas batas. Sesuai mekanisme ASEAN, setiap bantuan harus diberikan berdasarkan permintaan serta persetujuan negara penerima. Malaysia menyatakan siap merundingkan bentuk bantuan apabila Indonesia memberikan lampu hijau.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment