Menlu Iran Sebut Netanyahu “Ular” yang Menipu AS untuk Berperang

Teheran – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melontarkan kritik tajam terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Araghchi menyebut Netanyahu sebagai “ular” yang dinilai telah menipu Pemerintah Amerika Serikat hingga terlibat dalam perang melawan Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi melalui akun X pada Senin (31/8). Ia menuding Netanyahu secara terbuka membanggakan keberhasilannya memengaruhi kebijakan Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran. Menurut Araghchi, Netanyahu melakukan hal tersebut dengan memanfaatkan ruang siaran televisi di Amerika Serikat selama ratusan jam.

Araghchi Tuduh Netanyahu Menipu Pemerintah AS

Dalam unggahannya, Abbas Araghchi mengklaim bahwa Netanyahu, ketika berbicara dalam bahasa Ibrani, secara terbuka menyatakan dirinya telah menipu Pemerintah Amerika Serikat agar berperang melawan Iran untuk kepentingan Israel.

“Dalam bahasa Ibrani, Netanyahu secara terbuka membual telah menipu Pemerintahan AS untuk berperang melawan Iran atas nama Israel,” kata Araghchi dalam pernyataannya di X.

Araghchi juga menyinggung pernyataan Netanyahu dalam bahasa Inggris. Menurut dia, Perdana Menteri Israel tersebut memuji kepemimpinan Presiden Amerika Serikat sekaligus menggambarkan dirinya dengan istilah “serpent” atau ular.

“Dalam bahasa Inggris, dia memuji kepemimpinan POTUS (President of the United States/Presiden Amerika Serikat). Serpent (ular),” imbuh Araghchi.

Makna Istilah “Serpent”

Istilah serpent secara harfiah dapat merujuk pada ular berbisa atau ular berukuran besar. Namun, dalam berbagai tradisi agama dan literatur masa lalu, kata tersebut juga kerap digunakan sebagai simbol iblis, kelicikan, serta godaan.

Penggunaan istilah itu oleh Araghchi memperlihatkan kerasnya retorika Iran dalam mengkritik Netanyahu dan kebijakan Israel. Dengan menyebut Netanyahu sebagai “ular”, Araghchi berusaha menggambarkan sosok tersebut sebagai tokoh yang licik dan mampu memengaruhi pihak lain untuk mencapai kepentingannya.

Kritik Muncul di Tengah Perang AS dan Iran

Pernyataan Araghchi disampaikan ketika perang antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung. Pemerintahan Donald Trump bersama Israel disebut telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Serangan tersebut menimbulkan dampak besar bagi kepemimpinan Iran. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah anggota keluarganya dilaporkan tewas dalam operasi tersebut. Sejumlah pejabat tinggi di bidang pertahanan Iran juga disebut menjadi korban gempuran.

Setelah Khamenei tewas, kepemimpinan tertinggi Iran kemudian beralih kepada putranya, Mojtaba Khamenei. Ia terpilih sebagai pemimpin tertinggi melalui mekanisme yang disebut sesuai dengan konstitusi Iran.

Gencatan Senjata dan Ancaman Baru

Amerika Serikat dan Iran sebelumnya sempat mencapai gencatan senjata pada April. Kedua negara juga menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) pada Juni dengan tujuan mengakhiri perang.

Namun, kesepakatan tersebut belum sepenuhnya menghentikan ketegangan. Washington disebut berulang kali melayangkan ancaman kepada Teheran. Sebagian ancaman dinilai hanya berupa pernyataan, sementara ancaman lainnya berujung pada serangan militer.

Dalam perkembangan konflik, pasukan Amerika Serikat bahkan disebut menyerang infrastruktur sipil, termasuk jembatan. Tindakan terhadap fasilitas sipil tersebut dinilai sebagai perbuatan yang masuk dalam kategori kejahatan perang.

Pakistan Berupaya Membuka Kembali Perundingan

Di tengah konflik yang belum berakhir, Pakistan berperan sebagai mediator antara Amerika Serikat dan Iran. Negara tersebut berusaha membawa kedua pihak kembali ke meja perundingan untuk mencari jalan menuju penghentian perang secara permanen.

Meski demikian, hingga kini belum ada negosiasi baru yang berlangsung. Upaya diplomatik tersebut masih menghadapi tantangan karena hubungan Washington dan Teheran tetap diwarnai ancaman serta aksi militer.

Kesimpulan

Kritik Abbas Araghchi terhadap Benjamin Netanyahu mencerminkan tingginya ketegangan politik di tengah perang Amerika Serikat dan Iran. Tuduhan bahwa Netanyahu menipu Pemerintah AS untuk berperang atas nama Israel menjadi bagian dari perang retorika antara Iran dan Israel.

Di sisi lain, konflik yang telah menewaskan sejumlah tokoh penting Iran dan merusak infrastruktur sipil masih belum menemukan penyelesaian permanen. Upaya Pakistan untuk mempertemukan kembali Washington dan Teheran menjadi salah satu jalur diplomatik yang diharapkan dapat menghentikan peperangan. Namun, selama belum ada negosiasi baru, arah konflik dan peluang tercapainya perdamaian masih belum dapat dipastikan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment