Netanyahu Skeptis Diplomasi AS-Iran, Sebut Kesepakatan Sulit Tercapai
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan keraguannya terhadap peluang Amerika Serikat mencapai kesepakatan diplomatik dengan Iran. Dalam pernyataannya, Netanyahu bahkan menyebut para penguasa Iran dengan istilah yang sangat keras dan menilai kesepakatan sulit diwujudkan selama kelompok tersebut masih memegang kekuasaan.
Pernyataan itu disampaikan Netanyahu dalam sebuah acara pada Selasa malam, 25 Agustus. Dalam kesempatan tersebut, ia juga memuji tekanan ekonomi baru yang dilancarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran. Sikap itu muncul ketika negosiasi antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang belum menghasilkan kesepakatan.
Netanyahu Ragukan Peluang Kesepakatan dengan Iran
Netanyahu menceritakan pertemuannya dengan Trump yang berlangsung baru-baru ini. Menurut dia, dalam pertemuan tersebut, keduanya turut membahas kemungkinan menempuh jalur diplomasi dengan Iran untuk mengakhiri konflik yang masih berlangsung.
Meski demikian, Netanyahu mengaku skeptis terhadap peluang tercapainya kesepakatan. Ia menilai pihak yang berkuasa di Iran tidak dapat diajak mencapai perjanjian diplomatik yang bisa mengakhiri perang.
“Saya ragu kesepakatan dapat dicapai dengan kelompok yang ada di sana, dengan orang-orang biadab itu. Saya katakan kepada Anda (Trump), kesepakatan tidak dapat dicapai,” ujar Netanyahu, seperti dikutip dari pernyataannya dalam acara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan ketika Netanyahu menghadiri sebuah acara di permukiman Israel yang berada di Tepi Barat Palestina. Permukiman tersebut disebut sebagai wilayah yang diduduki secara ilegal oleh Israel.
Sikap Lama Netanyahu terhadap Diplomasi Iran
Keraguan Netanyahu terhadap diplomasi dengan Iran bukanlah sikap yang baru. Perdana Menteri Israel itu telah lama mengambil posisi skeptis terhadap upaya perundingan dengan Teheran.
Netanyahu sebelumnya juga secara terbuka berkampanye menentang kesepakatan nuklir Iran pada 2015. Kesepakatan tersebut dirundingkan ketika Barack Obama menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.
Namun, di tengah upaya Trump untuk menyelesaikan perang melalui jalur perundingan, Netanyahu tampak berhati-hati agar tidak menyampaikan kritik terbuka terhadap presiden Amerika Serikat tersebut. Sikap itu menunjukkan adanya perbedaan pendekatan antara keduanya, terutama terkait peluang diplomasi dengan Iran.
Trump Berupaya Mengakhiri Perang Melalui Negosiasi
Trump saat ini berupaya mendorong Iran agar menyepakati negosiasi untuk mengakhiri perang. Upaya tersebut dilakukan setelah muncul tekanan dari dalam negeri dan komunitas internasional.
Sejumlah pihak menilai Amerika Serikat belum berhasil mencapai tujuan yang diharapkan selama perang Iran berlangsung. Konflik tersebut juga berjalan lebih lama daripada perkiraan awal Trump, yang sebelumnya memperkirakan perang dapat berakhir dalam waktu enam hingga delapan pekan.
Tekanan Ekonomi terhadap Teheran
Di tengah kebuntuan perundingan, Trump melancarkan tekanan ekonomi baru terhadap Iran. Langkah tersebut justru mendapat pujian dari Netanyahu, yang selama ini dikenal menolak pendekatan diplomatik terhadap Teheran.
Tekanan ekonomi itu menjadi bagian dari upaya Washington untuk mendorong Iran masuk ke meja negosiasi. Namun, berdasarkan pernyataan Netanyahu, peluang tercapainya kesepakatan masih dipandang sangat kecil.
Hubungan Netanyahu dan Trump Berpotensi Menegang
Trump sebelumnya melancarkan serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Februari. Serangan tersebut kemudian memicu perang dengan Teheran yang terus meluas hingga saat ini.
Di sisi lain, Netanyahu terlihat enggan menghentikan perang dengan Iran. Israel bahkan disebut kerap melancarkan provokasi yang berpotensi mengganggu perundingan antara Iran dan Amerika Serikat.
Situasi tersebut dilaporkan membuat Trump frustrasi dan berkontribusi terhadap merenggangnya hubungan antara kedua pemimpin. Perbedaan sikap mengenai kelanjutan perang dan jalur diplomasi menjadi salah satu persoalan utama dalam hubungan Israel dan Amerika Serikat.
Kesimpulan
Pernyataan Benjamin Netanyahu memperlihatkan bahwa Israel masih meragukan keberhasilan diplomasi Amerika Serikat dengan Iran. Netanyahu mendukung tekanan ekonomi yang diterapkan Donald Trump, tetapi pada saat yang sama menilai kesepakatan dengan para penguasa Iran sulit dicapai.
Sementara itu, Trump tetap berupaya mendorong negosiasi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih lama dari perkiraan. Ke depan, arah konflik akan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan upaya diplomasi tersebut, sikap Iran terhadap tekanan Washington, serta keputusan Israel mengenai kelanjutan operasi militernya.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment