Profesor IIUM Solehah Yaacob Dipecat Usai Kontroversi Klaim Sejarah Melayu
Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM) memecat Solehah Yaacob, profesor linguistik Arab, setelah sejumlah pernyataannya mengenai sejarah Melayu menuai kontroversi. Klaim-klaim tersebut dinilai memicu perdebatan di kalangan akademisi dan sejarawan Malaysia karena dianggap tidak memiliki dasar sejarah yang kuat.
Salah satu pernyataan yang paling banyak mendapat sorotan adalah klaim bahwa orang Melayu kuno dapat terbang dan mengajarkan seni “kungfu terbang” kepada orang China. Pernyataan itu kemudian disebut oleh sejumlah sejarawan Malaysia sebagai mitos, bukan fakta sejarah.
IIUM Tegaskan Solehah Yaacob Bukan Lagi Profesor
Dalam pernyataannya, IIUM menegaskan bahwa Solehah Yaacob tidak lagi berstatus sebagai profesor di universitas tersebut. Kampus juga menyatakan bahwa Solehah tidak berhak mengklaim hubungan apa pun dengan IIUM.
“Dia bukan lagi profesor dan tidak berhak mengeklaim hubungan apa pun dengan universitas. IIUM berharap klarifikasi ini akan membantu menghindari kesalahpahaman dan menjunjung tinggi integritas serta kedudukan akademik universitas,” demikian pernyataan IIUM.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah nama Solehah berulang kali muncul dalam pemberitaan terkait klaim-klaim pseudo-historis mengenai orang Melayu, sejarah kawasan, serta hubungan masyarakat Melayu dengan peradaban lain.
Rangkaian Klaim yang Memicu Kontroversi
Klaim Orang Melayu Kuno Bisa Terbang
Tahun lalu, Solehah menjadi sorotan setelah menyampaikan klaim bahwa orang Melayu kuno mampu terbang. Ia juga menyebut orang Melayu mengajarkan seni kungfu terbang kepada orang China.
Klaim tersebut menuai kritik dari sejarawan Malaysia. Mereka menilai pernyataan itu lebih dekat dengan mitos daripada sejarah yang dapat dibuktikan melalui sumber akademik.
Bangsa Romawi Disebut Belajar Membuat Kapal dari Pelaut Melayu
Pada November 2025, Solehah kembali memicu kontroversi setelah mengatakan bahwa bangsa Romawi belajar membuat kapal dari pelaut-pelaut Melayu. Pernyataan itu diberitakan oleh berbagai media Malaysia.
Kontroversi tersebut kemudian mendorong IIUM membentuk panel penyelidikan internal. Panel itu bertugas memeriksa klaim-klaim Solehah, sementara proses disipliner terhadap yang bersangkutan juga berjalan.
Artikel Akademis dan Penggunaan Sumber Satir
Pada bulan yang sama, akademisi Malaysia Sharifah Munirah Alatas menyoroti sebuah artikel akademis yang terbit pada 2018. Ia menyatakan bahwa artikel tersebut mengutip sumber berita satir The Onion sebagai bukti faktual.
Sharifah mendesak agar makalah itu ditarik dan direvisi. Ia juga meminta agar artikel tersebut menjalani proses peninjauan sejawat yang ketat sebelum diajukan kembali untuk dipublikasikan.
Walaupun Sharifah tidak menyebut nama Solehah secara langsung, artikel berjudul “Diskursus tentang Garis Waktu Kerangka Kompilasi Alkitab: Hubungan dengan Perkembangan Sumber Islam” diketahui ditulis oleh Solehah Yaacob.
Teori tentang Bijih Besi di Kedah
Awal bulan ini, Solehah kembali mendapat perhatian setelah menyampaikan teori bahwa endapan bijih besi dalam jumlah besar di Kedah kemungkinan berasal dari hantaman meteor. Salah satu meteor tersebut disebut menabrak Gunung Jerai.
Teori itu dibantah oleh studi arkeologi mengenai bijih besi yang ditemukan di Kompleks Arkeologi Sungai Batu. Studi tersebut menyimpulkan bahwa bijih besi di Kedah berasal dari bumi. Selain itu, tidak terdapat catatan mengenai hujan meteor di kawasan tersebut.
Klaim tentang Khadijah
Pernyataan kontroversial lainnya disampaikan Solehah pada September 2024. Saat itu, ia mengklaim bahwa Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW, kemungkinan berasal dari dunia Melayu.
Solehah kemudian membantah pernyataan tersebut. Ia mengatakan bahwa video yang memuat pernyataan mengenai Khadijah telah mengalami penyuntingan.
Latar Belakang Akademik Solehah Yaacob
Sebelum terseret kontroversi, Solehah dikenal sebagai ahli bahasa, akademisi, dan penulis. Ia menjabat sebagai profesor linguistik Arab di IIUM serta dikenal melalui karya-karya ilmiahnya mengenai filsafat tata bahasa Arab dan perkembangan historis bahasa tersebut.
Berdasarkan laman IIUM yang kini telah dihapus, Solehah menempuh seluruh pendidikan tingginya di universitas tersebut. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang bahasa dan sastra Arab, kemudian meraih gelar magister dalam Pengajaran Bahasa Arab sebagai Bahasa Kedua.
Solehah selanjutnya memperoleh gelar doktor atau PhD di bidang linguistik Arab. Disertasinya meneliti evolusi historis teori klasik ‘amal, yang merupakan salah satu landasan dalam analisis tata bahasa Arab.
Ia memulai karier di IIUM pada 1995, yakni di kampus tempatnya menempuh pendidikan. Pada 2020, Solehah diangkat sebagai profesor penuh.
Selain menjalankan tugas akademik, Solehah juga pernah menjadi editor kepala Jurnal Penelitian Khusus Bahasa Arab atau J-ALSR. Ia turut mengawasi publikasi mengenai perdebatan kontemporer dan klasik dalam bidang linguistik Arab.
Solehah juga tercatat pernah berkolaborasi dengan Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), IIIT, serta sejumlah badan penelitian nasional dalam kajian bahasa Arab dan Islamisasi ilmu humaniora.
Kesimpulan
Pemecatan Solehah Yaacob menunjukkan seriusnya perhatian IIUM terhadap pernyataan akademik yang dinilai kontroversial dan tidak sejalan dengan standar pembuktian ilmiah. Berbagai klaim mengenai kemampuan terbang orang Melayu kuno, asal-usul teknologi pelayaran bangsa Romawi, bijih besi di Kedah, hingga asal-usul Khadijah telah memicu perdebatan luas.
Ke depan, kontroversi ini diperkirakan tetap menjadi perhatian dalam diskusi mengenai integritas akademik, pentingnya verifikasi sumber, dan batas antara interpretasi sejarah dengan klaim yang tidak didukung bukti. IIUM sendiri telah menegaskan bahwa Solehah tidak lagi memiliki hubungan resmi dengan universitas tersebut.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment