TAFI Ungkap Dugaan Kampanye China Promosikan Rencana Lima Tahun di Pasifik
China dinilai sangat mungkin mengoordinasikan kampanye diplomatik terarah di Kepulauan Pasifik untuk mendorong negara-negara di kawasan tersebut menyelaraskan strategi pembangunan mereka dengan Rencana Lima Tahun terbaru Beijing. Dugaan ini tertuang dalam laporan lembaga think tank berbasis di Washington, The Alliance Futures Initiative (TAFI), berjudul China’s Model on the Offensive: Why China’s Five-Year Plan Promotion in the Pacific Matters.
Laporan tersebut menyoroti cara China membingkai Rencana Lima Tahun, yang pada dasarnya merupakan dokumen perencanaan domestik, sebagai cetak biru bagi pertumbuhan dan kerja sama internasional. TAFI menilai pendekatan ini dilakukan melalui aktivitas diplomatik, publikasi di media lokal, serta komunikasi langsung dengan pejabat pemerintahan dan tokoh berpengaruh di negara-negara kepulauan Pasifik.
Diplomat China Aktif Mempromosikan Rencana Lima Tahun
TAFI mendokumentasikan bahwa kepala perwakilan diplomatik China menerbitkan tulisan opini di media lokal di delapan dari sembilan negara kepulauan Pasifik yang memiliki kedutaan besar Beijing. Tulisan-tulisan tersebut berisi promosi terhadap keunggulan kerangka kebijakan nasional China yang diusulkan pada akhir 2025 dan disahkan secara resmi pada Maret 2026.
Sejak Oktober 2025, TAFI mengamati aktivitas kedutaan besar China dan menemukan lebih dari 30 kasus promosi Rencana Lima Tahun oleh para duta besar. Menurut lembaga tersebut, frekuensi, kemiripan isi, serta waktu publikasi berbagai materi itu mengindikasikan kemungkinan adanya arahan langsung dari Kementerian Luar Negeri China.
Dalam laporannya, TAFI menyebut Republik Rakyat China secara sengaja mengubah persepsi terhadap Rencana Lima Tahun di mata audiens internasional. Dokumen itu tidak lagi hanya ditampilkan sebagai rencana pembangunan domestik, tetapi juga sebagai model pertumbuhan serta kerja sama global yang dinilai dapat diprediksi dan berbasis perencanaan ilmiah.
Strategi Persuasi Lewat Tata Kelola dan Diplomasi
Selain menerbitkan opini di media lokal, diplomat China disebut melakukan penjangkauan bilateral terkait tata kelola. Mereka juga menggelar pengarahan diplomatik dengan tokoh-tokoh penting dari kalangan pemerintahan dan dunia usaha.
Penulis laporan sekaligus Asisten Direktur Penelitian TAFI, Jonah Bock, mengatakan kepada Radio Free Asia bahwa unsur penting dalam kampanye tersebut adalah persuasi, bukan pemaksaan. Menurutnya, pendekatan ini memungkinkan China memperkenalkan berbagai aspek model tata kelolanya secara bertahap kepada mitra di Pasifik.
Contoh Pendekatan di Vanuatu dan Naoero
Di Vanuatu, Duta Besar China Li Minggang memuji mekanisme pengawasan pelayanan sipil China saat bertemu dengan Ombudsman Hamilson Bulu. Sementara itu, di Naoero, yang sebelumnya dikenal sebagai Nauru, Duta Besar Lyu Jin membahas kerja sama di bidang peradilan dengan Ketua Mahkamah Agung Jay Udit.
Bock menilai pertemuan-pertemuan semacam itu berpotensi memengaruhi cara negara-negara Pasifik menjalankan institusi pemerintahannya. Ia menyoroti peran ombudsman dalam mengaudit pemerintah serta fungsi peradilan dalam membatasi kekuasaan, yang menurutnya dapat membantu menormalisasi penerapan unsur-unsur model China.
Menurut Bock, persuasi juga menjadi strategi yang relatif murah bagi Beijing. Berbeda dengan pemaksaan yang dapat menimbulkan perlawanan, persuasi dinilai mampu mendorong pejabat di negara-negara Pasifik untuk mempertimbangkan strategi pembangunan China dan lebih terbuka terhadap kerja sama yang ditawarkan Beijing.
Tiga Narasi Utama yang Diusung Beijing
Dalam laporan TAFI, para duta besar China disebut berfokus pada tiga topik utama ketika menjelaskan manfaat penyelarasan dengan Rencana Lima Tahun. Ketiganya adalah pembangunan hijau, keterbukaan ekonomi, dan kesejahteraan bersama.
Pembangunan Hijau
Di Fiji, Federasi Mikronesia atau FSM, serta Tonga, kedutaan besar China menekankan klaim bahwa Beijing berkontribusi terhadap seperempat kawasan hijau baru di dunia. Mereka juga menyoroti pembangunan sistem pembangkit listrik bersih terbesar di dunia.
Keterbukaan Ekonomi
Di Fiji dan Papua Nugini, narasi yang disampaikan lebih banyak berkaitan dengan penolakan terhadap proteksionisme. Diplomasi China menyoroti pencabutan pembatasan investasi asing di sektor manufaktur China sebagai bagian dari pesan mengenai keterbukaan ekonomi.
Kesejahteraan Bersama
Sementara itu, di FSM, Duta Besar Wu Wei menyoroti sistem pendidikan dan keamanan China. Kedua sektor tersebut disebut berkontribusi terhadap peningkatan rasa bahagia dan aman di tengah masyarakat.
Potensi Dampak terhadap Kepentingan Amerika Serikat
Jonah Bock memperingatkan bahwa keberhasilan China mencapai seluruh tujuannya di Pasifik dapat membuat kawasan tersebut menjadi kurang bersahabat bagi kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Taiwan. Selain itu, penerapan model tata kelola China dinilai berpotensi menanamkan benih otoritarianisme serta meningkatkan ketergantungan ekonomi.
Untuk merespons langkah Beijing, TAFI memberikan sejumlah rekomendasi bagi Washington. Amerika Serikat disarankan memprioritaskan penguatan hubungan dengan Federasi Mikronesia, Kepulauan Marshall, Palau, dan Papua Nugini. Negara-negara tersebut dinilai penting karena berkaitan dengan posisi pertahanan dan rantai pulau kedua atau second-island-chain.
TAFI juga mendorong Amerika Serikat meningkatkan persaingan di ranah institusional. Langkah yang disarankan mencakup pertukaran peradilan, pelatihan di sektor hukum, serta kemitraan pelayanan sipil. Salah satu contoh yang disebut adalah program terkait proses legislasi bagi staf parlemen Kepulauan Solomon bersama Kongres Amerika Serikat di Washington, D.C.
Selain kerja sama antarlembaga, Washington disarankan memanfaatkan modal swasta ketika bantuan pemerintah dinilai bergerak terlalu lambat. TAFI juga meminta Amerika Serikat mendokumentasikan dan mempublikasikan aktivitas China di Pasifik. Langkah tersebut dipandang penting untuk menguji klaim Beijing mengenai prinsip tidak ikut campur atau non-interference dengan membandingkannya terhadap materi yang diterbitkan oleh kedutaan-kedutaan China sendiri.
Kesimpulan
Laporan TAFI menggambarkan upaya China memperluas pengaruh di Kepulauan Pasifik melalui promosi Rencana Lima Tahun dan pendekatan diplomasi berbasis persuasi. Kampanye tersebut tidak hanya dilakukan melalui tulisan opini, tetapi juga lewat komunikasi langsung mengenai tata kelola, ekonomi, pendidikan, keamanan, dan pembangunan hijau.
Jika temuan tersebut terus berkembang, persaingan pengaruh antara China dan Amerika Serikat di Pasifik diperkirakan semakin berfokus pada institusi serta model pembangunan. Negara-negara kepulauan di kawasan itu akan menjadi ruang penting bagi kedua kekuatan untuk menawarkan kerja sama, sekaligus membentuk arah tata kelola dan kebijakan pembangunan masing-masing negara.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment