Trump Ancam Oman Jika Hambat Kesepakatan AS-Iran soal Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam Oman dengan tindakan militer apabila negara tersebut dianggap menghambat kesepakatan antara Washington dan Teheran mengenai masa depan Selat Hormuz. Ancaman itu disampaikan ketika Amerika Serikat dan Iran masih berupaya merundingkan penghentian perang serta membahas pengaturan jalur pelayaran di kawasan strategis tersebut.

Dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (17/8), Trump menyatakan bahwa Oman akan menghadapi konsekuensi berat jika menghalangi kesepakatan yang diinginkan Amerika Serikat. “Jika Oman menghalangi, kami akan mengajar mereka habis-habisan,” ujar Trump.

Pernyataan tersebut muncul di tengah situasi konflik yang belum sepenuhnya berakhir. Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah memiliki nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) untuk mengakhiri perang dan menerapkan gencatan senjata pada April lalu. Namun, berdasarkan informasi yang tersedia, kedua negara masih terus berperang dan kembali berusaha mencari jalan keluar melalui perundingan.

Mengapa Trump Mengancam Oman?

Ancaman Trump berkaitan dengan keterlibatan Oman dalam negosiasi bersama Iran mengenai masa depan Selat Hormuz. Perundingan antara Muscat dan Teheran itu tidak melibatkan Amerika Serikat. Kondisi tersebut menjadi persoalan bagi Trump karena Washington disebut ingin memiliki kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut.

Selat Hormuz sebelumnya ditutup oleh Teheran sebagai respons terhadap serangan besar-besaran yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Iran pada akhir Februari. Penutupan itu kemudian mendorong pembahasan mengenai pembentukan jalur aman bagi kapal-kapal yang hendak melintasi perairan tersebut.

Oman dan Iran kini membahas rute yang akan digunakan kapal untuk melintas serta mekanisme keamanan maritim di Selat Hormuz. Negosiasi tersebut dilakukan secara bilateral, tanpa melibatkan pihak ketiga, termasuk Amerika Serikat.

Negosiasi Rute Pelayaran Memasuki Tahap Akhir

Pada awal Agustus, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pembicaraan mengenai masa depan jalur pelayaran di Selat Hormuz telah mendekati tahap akhir. Pernyataan itu disampaikan melalui laporan Mehr News, media pemerintah Iran.

“Negosiasi berada di jalur menuju finalisasi dan sedang memasuki tahap akhir,” kata Araghchi seperti dikutip media tersebut.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Iran dan Oman tengah berupaya merumuskan kesepakatan mengenai jalur aman yang dapat digunakan kapal. Namun, kesepakatan tersebut tidak serta-merta berarti Selat Hormuz akan kembali dibuka sepenuhnya seperti sebelum perang.

Iran Tegaskan Selat Hormuz Tidak Kembali seperti Sebelum Perang

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan bahwa situasi Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang. Ia juga menyampaikan bahwa kesepakatan dengan Oman tidak otomatis membuka seluruh jalur pelayaran di kawasan tersebut.

“Dalam keadaan apa pun Selat Hormuz tidak akan kembali ke situasi sebelum perang,” ujar Baghaei pada awal Agustus.

Menurut Baghaei, jalur yang akan disepakati nantinya bukanlah jalur utara maupun jalur selatan yang digunakan saat ini. Iran dan Oman akan menentukan rute baru melalui kesepakatan bilateral. Kedua negara juga disebut memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga keamanan maritim dan memastikan navigasi kapal berlangsung secara aman.

Pengelolaan Selat Hormuz dan Isi MoU Iran-AS

Baghaei juga merujuk pada poin kelima MoU yang telah ditandatangani Iran dan Amerika Serikat pada Juni. Dalam poin tersebut disebutkan bahwa pengelolaan Selat Hormuz pada masa mendatang akan dilakukan oleh Teheran dengan berkonsultasi bersama Oman dan negara-negara lain di kawasan.

Ia menjelaskan, selama 22 atau 23 hari pertama pelaksanaan perjanjian, jalur utara Selat Hormuz masih aman dan dapat dilalui kapal. Namun, sebelum periode 30 hari berakhir, terjadi tindakan agresi terhadap Iran. Padahal, periode tersebut sebelumnya direncanakan untuk memulihkan lalu lintas maritim ke kondisi sebelum perang.

“Namun, sebelum periode 30 hari berakhir, yang tadinya direncanakan untuk memulihkan lalu lintas maritim ke kondisi sebelum perang, terjadi tindakan agresi terhadap Iran,” kata Baghaei, dikutip Mehr News.

Masa Depan Selat Hormuz Masih Dipengaruhi Negosiasi

Baghaei menekankan bahwa pembicaraan antara Iran dan Oman bersifat bilateral serta tidak melibatkan pihak ketiga. Iran juga ingin memastikan Selat Hormuz tidak digunakan oleh pihak-pihak yang sebelumnya melakukan agresi terhadap Teheran.

“Kita harus memastikan Selat Hormuz tak bisa disalahgunakan pihak-pihak yang sudah melakukan agresi terhadap Iran,” ujarnya.

Dengan demikian, masa depan Selat Hormuz masih bergantung pada hasil negosiasi antara Iran dan Oman, sekaligus dinamika perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Ancaman Trump terhadap Oman menunjukkan adanya perbedaan kepentingan dalam menentukan pengelolaan serta akses pelayaran di jalur tersebut.

Kesimpulan

Donald Trump mengancam Oman dengan tindakan keras apabila Muscat dianggap menghambat kesepakatan Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran dan Oman terus melakukan negosiasi bilateral untuk menentukan rute baru bagi pelayaran serta menjaga keamanan maritim.

Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang dan kesepakatan dengan Oman tidak otomatis berarti pembukaan penuh jalur tersebut. Ke depan, hasil perundingan Iran-Oman serta pembicaraan Washington-Teheran akan menjadi faktor penting dalam menentukan akses dan pengelolaan Selat Hormuz.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment