10 Solusi Anak Picky Eater agar Lebih Mau Mencoba Beragam Makanan

Banyak orang tua merasa khawatir ketika anak mulai pilih-pilih makanan atau menjadi picky eater. Anak dapat menolak makanan tertentu, bahkan makanan yang sebelumnya disukai. Pilihan tersebut juga bisa berubah-ubah, sehingga menu yang dimakan dengan lahap hari ini belum tentu diterima pada hari berikutnya.

Kondisi ini kerap membuat orang tua cemas karena kebutuhan nutrisi anak dikhawatirkan tidak terpenuhi dengan baik. Namun, menghadapi anak picky eater tidak harus dilakukan dengan memaksa anak menghabiskan makanan. Ada sejumlah cara sederhana yang dapat diterapkan di rumah untuk membantu anak mengenal lebih banyak jenis makanan sekaligus membuat waktu makan terasa lebih menyenangkan.

Dikutip dari UNICEF, solusi anak picky eater perlu dilakukan secara bertahap, sabar, dan konsisten. Berikut beberapa cara yang dapat dicoba orang tua untuk membangun kebiasaan makan yang lebih positif.

Solusi Anak Picky Eater yang Dapat Diterapkan di Rumah

1. Tetap Tawarkan Makanan yang Ditolak

Orang tua sebaiknya tidak langsung menyerah ketika anak menolak makanan baru. Makanan tersebut tetap dapat ditawarkan kembali pada kesempatan berikutnya, tetapi tanpa paksaan. Selera anak dapat berubah seiring waktu. Makanan yang sebelumnya tidak disukai bukan tidak mungkin mulai diterima pada kesempatan lain.

Agar lebih mudah dicoba, makanan yang kurang disukai dapat dicampurkan dalam jumlah sedikit dengan makanan yang sudah familiar bagi anak. Sebagai contoh, sayuran dapat ditambahkan ke dalam telur atau menu favorit si kecil. Cara ini dapat membantu anak mengenal rasa makanan baru secara perlahan.

2. Sediakan Pilihan Makanan yang Beragam

Memberikan pilihan makanan yang beragam menjadi salah satu solusi penting untuk anak picky eater. Meskipun anak belum tentu mau mencoba semua makanan yang tersedia, kesempatan untuk melihat, mengenali, dan berinteraksi dengan berbagai jenis makanan tetap bermanfaat.

Orang tua dapat menyajikan kombinasi makanan dari sumber karbohidrat, kacang-kacangan, biji-bijian, susu dan produk olahannya, telur, ikan, daging, buah, serta sayuran. Variasi juga dapat dilakukan melalui bentuk, warna, tekstur, dan cara pengolahan makanan.

3. Libatkan Anak dalam Menyiapkan Makanan

Anak mungkin menjadi lebih tertarik untuk makan ketika dilibatkan dalam proses menyiapkan makanan. Saat berbelanja, orang tua dapat mengajak anak memilih buah atau sayuran. Pada kesempatan tersebut, orang tua bisa mengenalkan nama, warna, aroma, dan tekstur makanan yang dipilih.

Di rumah, berikan tugas sederhana yang sesuai dengan usia anak. Misalnya, anak dapat diajak mengaduk adonan atau menata potongan buah di piring. Rasa bangga karena ikut menyiapkan makanan dapat meningkatkan antusiasme anak untuk mencicipi hidangan tersebut.

4. Hindari Memaksa Anak Menghabiskan Makanan

Anak perlu belajar mengenali rasa lapar dan kenyang dari tubuhnya sendiri. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak memaksa anak menghabiskan makanan ketika ia hanya makan sedikit atau menolak menu tertentu.

Orang tua juga tidak perlu langsung mengganti makanan utama dengan camilan tinggi gula hanya karena anak menolak makan. Selama anak tetap aktif dan tumbuh dengan baik, makanan bergizi dapat terus ditawarkan tanpa menciptakan pertengkaran saat waktu makan.

5. Sajikan Porsi Kecil Sesuai Kebutuhan Anak

Porsi makan anak tidak harus disamakan dengan porsi orang dewasa. Sajikan makanan dalam jumlah kecil sesuai usia dan kebutuhan anak. Porsi yang terlalu banyak dapat membuat anak merasa terbebani sebelum mulai makan.

Jika makanan tersebut habis, orang tua dapat menawarkan tambahan. Berikan pula apresiasi ketika anak mau mencoba makanan atau menghabiskan hidangan, meskipun jumlahnya tidak banyak.

6. Hindari Menjadikan Makanan sebagai Hadiah

Memberikan makanan tertentu sebagai hadiah dapat membuat anak menganggap makanan tersebut lebih istimewa dibandingkan makanan lain. Misalnya, permen atau makanan manis selalu diberikan ketika anak berperilaku baik.

Sebagai alternatif, orang tua dapat memberikan penghargaan dalam bentuk aktivitas yang menyenangkan. Bermain bersama, membaca buku, atau berjalan-jalan dapat menjadi pilihan apresiasi tanpa menggunakan makanan sebagai imbalan.

Orang Tua Perlu Menjadi Contoh bagi Anak

Anak banyak belajar dengan meniru perilaku orang-orang di sekitarnya. Oleh sebab itu, orang tua perlu memberikan contoh dengan mengonsumsi makanan bergizi dan menunjukkan bahwa mencoba makanan baru dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Jika memungkinkan, biasakan makan bersama keluarga. Dalam suasana tersebut, orang tua dapat mengajak anak berbicara tentang makanan di piring, termasuk rasa, warna, dan teksturnya. Kebiasaan ini dapat membantu anak mengenal makanan dengan cara yang lebih santai.

Kesimpulan

Menghadapi anak picky eater membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Orang tua tidak perlu memaksa anak menghabiskan makanan atau langsung mengganti menu utama dengan camilan tinggi gula ketika anak menolak makan.

Dengan terus menawarkan makanan baru, menyediakan pilihan yang beragam, melibatkan anak dalam persiapan makanan, memberikan porsi kecil, serta menjadi contoh yang baik, orang tua dapat membantu si kecil mengenal lebih banyak jenis makanan. Penerapan solusi anak picky eater secara bertahap diharapkan membuat kebiasaan makan menjadi lebih positif dan waktu makan terasa lebih menyenangkan bagi seluruh keluarga.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment