459 Warga Kampung Golo Mengungsi dan Tidur di Area Kuburan Usai Gempa M7,7
Manggarai Timur – Ratusan warga Kampung Golo, Desa Nanga Labang, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), terpaksa mengungsi ke area kuburan setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8). Hingga Rabu (19/8), warga masih bertahan di lokasi itu karena khawatir terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan dan runtuhan bangunan.
Warga mengaku belum mendapatkan perlindungan yang memadai selama empat hari berada di tempat pengungsian. Mereka tidur di area kuburan yang dinilai lebih aman dibandingkan berada di dalam rumah yang telah rusak atau berpotensi mengalami keruntuhan.
459 Warga Mengungsi Setelah Gempa
Berdasarkan data yang disampaikan warga setempat, gempa tersebut menyebabkan enam rumah mengalami kerusakan total. Selain itu, 18 rumah lainnya juga dilaporkan rusak. Dampak kerusakan itu membuat sebanyak 459 jiwa harus meninggalkan rumah dan mengungsi.
Warga Kampung Golo kini membutuhkan berbagai bantuan dasar untuk memenuhi kebutuhan selama berada di pengungsian. Dionisius Parera, salah seorang warga, mengatakan kebutuhan yang paling mendesak antara lain beras, tenda, dan susu bayi.
“Total hancur 6 rumah. Rusak 18 rumah. Jumlah pengungsi 459 jiwa. Mereka butuh beras, tenda, susu bayi,” kata Dionisius, Rabu.
Sekitar 300 Orang Tidur di Area Kuburan
Area kuburan menjadi tempat berkumpulnya para pengungsi karena dianggap lebih aman dari risiko tertimpa bangunan jika gempa susulan terjadi secara tiba-tiba. Namun, kondisi pengungsian tersebut jauh dari memadai. Sekitar 300 orang disebut tidur di area kuburan setiap malam.
Sergis (25), warga Kampung Golo, mengatakan warga tidak memiliki banyak pilihan setelah gempa mengguncang wilayah mereka. Rasa takut dan trauma terus dirasakan, terutama ketika malam tiba. Warga pun memilih tetap berada di luar rumah meski harus tidur di area terbuka.
“Mau bagaimana lagi. Gempa ini tiap hari bikin kami takut dan trauma, apalagi malam hari,” ujar Sergis kepada CNN Indonesia, Rabu pagi.
Bayi dan Lansia Turut Berada di Pengungsian
Di antara para pengungsi terdapat bayi berusia tiga bulan bersama ibunya. Selain itu, puluhan lansia yang sakit-sakitan juga ikut bertahan di lokasi pengungsian. Keberadaan kelompok rentan tersebut membuat kebutuhan terhadap tempat perlindungan, makanan, dan penerangan semakin mendesak.
Warga mengaku harus tidur dalam kondisi gelap gulita setiap malam. Selain meminta bantuan bahan pangan seperti beras, mi instan, dan telur, mereka juga membutuhkan lampu pengisi daya tenaga surya untuk menerangi area pengungsian.
“Selain beras, mi instan, telur, kami juga butuh lampu charger sinar matahari untuk penerangan malam. Khawatir hujan dan gelap. Kasihan juga ada balita dan banyak lansia di sini,” kata Sergis.
Warga Menunggu Bantuan dan Perlindungan
Meski merasa takut dan tidak nyaman, warga terpaksa bertahan di area kuburan. Mereka khawatir kembali ke rumah karena masih dihantui kemungkinan terjadinya gempa susulan, sementara sebagian rumah telah hancur atau mengalami kerusakan.
Sergis mengatakan warga hanya dapat menunggu bantuan dari pemerintah. Kondisi tersebut membuat mereka berada dalam situasi yang sulit, terlebih terdapat balita dan lansia yang membutuhkan perhatian lebih selama berada di pengungsian.
“Takut iya, tapi mau bagaimana lagi. Pasrah dan tunggu belas kasihan pemerintah saja sekarang,” ucap Sergis.
Kesimpulan
Gempa magnitudo 7,7 memaksa 459 warga Kampung Golo mengungsi selama empat hari dan tidur di area kuburan. Kerusakan enam rumah hingga hancur total serta 18 rumah lainnya yang rusak membuat warga belum berani kembali ke tempat tinggal masing-masing. Di tengah kondisi tersebut, mereka membutuhkan beras, mi instan, telur, tenda, susu bayi, dan lampu penerangan.
Warga berharap bantuan dan perlindungan yang memadai segera tersedia, terutama bagi bayi, anak-anak, serta lansia yang berada di lokasi pengungsian. Selama masih merasa terancam oleh gempa susulan, area pengungsian yang aman, terang, dan memiliki kebutuhan dasar menjadi hal penting bagi warga Kampung Golo.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment