Pemerintah Kirim 253 Ton Logistik untuk Korban Gempa NTT, Distribusi Dipercepat Lewat Tiga Jalur

Pemerintah telah mengirimkan 253 ton logistik bantuan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Rabu, 19 Agustus 2026. Bantuan tersebut dikirim secara bertahap sejak hari pertama pascabencana untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdampak, termasuk mereka yang masih berada di lokasi pengungsian.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan, pengiriman bantuan terus dilakukan atas instruksi Presiden. Pada Rabu dini hari, pemerintah kembali memberangkatkan lima pesawat dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta. Kelima pesawat tersebut membawa sekitar 65 ton logistik menuju wilayah NTT.

Lima Pesawat Bawa 65 Ton Bantuan ke NTT

Teddy menyampaikan bahwa pengiriman pada hari kelima pascabencana dilakukan pada pukul 04.00 WIB. Dengan tambahan 65 ton bantuan tersebut, total logistik yang telah diangkut sejak hari pertama mencapai 253 ton.

“Atas instruksi Bapak Presiden, hari ini, hari kelima pascabencana, 19 Agustus 2026, jam 4 pagi kembali diberangkatkan 5 pesawat menuju NTT, hari ini total membawa 65 ton logistik. Jadi sejak hari pertama 27 ton sampai dengan hari kelima ini sudah terangkut 253 ton logistik,” kata Teddy dalam keterangannya, Rabu (19/8).

Logistik yang dikirim mencakup berbagai kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak. Bantuan tersebut terdiri atas makanan, minuman, tenda, perlengkapan kesehatan, serta sejumlah kebutuhan lain yang diperlukan selama masa penanganan bencana.

Dua Posko Utama Percepat Penyaluran Bantuan

Untuk mempercepat proses distribusi, pemerintah menyiapkan dua posko utama di NTT. Kedua posko tersebut berada di Labuan Bajo dan Maumere. Posko ini berfungsi sebagai titik pengelolaan serta penyaluran logistik menuju wilayah-wilayah yang membutuhkan bantuan.

Posko Labuan Bajo

Bantuan yang tiba di Posko Labuan Bajo selanjutnya didorong menuju sejumlah daerah terdampak, termasuk Manggarai dan Ngada. Penyaluran dari posko tersebut diharapkan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan secara lebih cepat dan terarah.

Posko Maumere

Sementara itu, Posko Maumere menjadi pusat distribusi bantuan menuju wilayah Sikka, Ende, dan Nagekeo. Pemerintah terus mengatur alur pengiriman agar logistik yang telah tiba dapat segera diteruskan kepada warga terdampak di masing-masing daerah.

Distribusi Menggunakan Jalur Udara, Laut, dan Darat

Teddy menjelaskan bahwa proses pengiriman logistik dilakukan melalui tiga jalur, yakni udara, laut, dan darat. Jalur udara diperkuat dengan penggunaan helikopter, pesawat Cassa, serta pesawat berukuran lebih kecil. Moda transportasi tersebut digunakan untuk mendukung pengiriman bantuan ke berbagai wilayah yang memerlukan penanganan.

Untuk jalur laut, tiga kapal perang Republik Indonesia (KRI) milik TNI Angkatan Laut telah berada di wilayah terdampak. Selain itu, satu kapal rumah sakit juga dilaporkan hampir berlabuh. Kehadiran armada laut tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mendukung distribusi logistik dan penanganan masyarakat terdampak.

Adapun jalur darat juga telah dapat digunakan. Berdasarkan laporan dari Menteri Pekerjaan Umum, seluruh jalur darat sudah bisa dilewati sejak hari kedua setelah bencana. Kondisi ini membantu memperlancar pengiriman bantuan dari posko utama menuju wilayah tujuan.

Gempa NTT Menyebabkan Korban Jiwa dan Kerusakan Rumah

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 sebelumnya mengguncang wilayah NTT. Berdasarkan catatan Tim SAR per Senin (17/8) pukul 23.30, sebanyak 70 orang dinyatakan meninggal dunia dan 132 orang mengalami luka-luka.

Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Bramantyo menjelaskan, total korban yang tercatat mencapai 202 orang. Dari jumlah tersebut, 40 orang mengalami luka berat, sedangkan 92 lainnya mengalami luka ringan.

Selain korban jiwa dan luka-luka, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mencatat sebanyak 40.040 orang mengungsi. Sementara itu, jumlah rumah yang mengalami kerusakan mencapai 11.925 unit.

Pemerintah Pantau Penanganan Bencana

Teddy menegaskan bahwa pemerintah masih terus memantau proses penanganan bencana di NTT. Pemantauan dilakukan agar seluruh tahapan dapat berjalan cepat dan bantuan yang dikirim segera diterima serta dirasakan manfaatnya oleh masyarakat terdampak.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada aparat, warga, relawan, dan seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan bencana. Menurutnya, kerja sama berbagai pihak berperan penting dalam mempercepat pengiriman logistik kepada masyarakat.

Kesimpulan

Hingga Rabu, 19 Agustus 2026, pemerintah telah mengirimkan 253 ton logistik untuk membantu masyarakat terdampak gempa NTT. Bantuan yang mencakup makanan, minuman, tenda, dan perlengkapan kesehatan disalurkan melalui posko Labuan Bajo dan Maumere dengan dukungan jalur udara, laut, serta darat.

Dengan terus berjalannya distribusi dan pemantauan di lapangan, pemerintah diharapkan dapat memastikan bantuan menjangkau warga di berbagai wilayah terdampak. Percepatan penyaluran logistik menjadi bagian penting dalam mendukung kebutuhan masyarakat selama proses penanganan bencana berlangsung.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment