BMKG Catat HTH Ekstrem hingga 131 Hari, Yogyakarta Jadi Wilayah Terlama
JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap sejumlah wilayah di Indonesia mengalami hari tanpa hujan (HTH) ekstrem dengan durasi lebih dari 100 hari. Berdasarkan pemutakhiran data hingga 10 September 2026, kondisi tersebut tersebar di 17 provinsi.
Hasil monitoring BMKG menunjukkan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi wilayah dengan durasi HTH ekstrem terlama. Di daerah tersebut, periode tanpa hujan tercatat mencapai 131 hari. Posisi berikutnya ditempati Jawa Tengah dengan 130 hari, disusul Jawa Timur yang mengalami HTH selama 129 hari.
HTH Ekstrem Tercatat di 1.637 Titik
Secara keseluruhan, BMKG mencatat sebanyak 1.637 titik mengalami HTH kategori ekstrem. Dalam klasifikasi BMKG, HTH ekstrem berarti suatu wilayah tidak mengalami hujan selama lebih dari 60 hari berturut-turut.
Wilayah yang mengalami kondisi tersebut terutama berada di Indonesia bagian selatan. Cakupannya meliputi Lampung, sebagian besar wilayah Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Selatan, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua Selatan.
Data ini menggambarkan bahwa kondisi atmosfer di sejumlah daerah berada dalam keadaan relatif kering. Durasi HTH yang panjang juga menunjukkan adanya kekeringan meteorologis yang perlu terus dipantau melalui perkembangan curah hujan harian.
Pengaruh El Nino Sangat Kuat
BMKG menyebut atmosfer yang relatif kering tersebut didukung oleh pengaruh El Nino yang masih berada pada kategori sangat kuat. Pada Dasarian I September 2026, anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 tercatat mencapai +2,76 derajat Celsius.
Fenomena tersebut menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia. Namun, informasi mengenai HTH tetap ditentukan berdasarkan hasil pengamatan curah hujan harian di masing-masing titik pengamatan.
Pengertian Hari Tanpa Hujan
Hari tanpa hujan atau HTH merupakan periode atau jumlah hari berturut-turut ketika suatu wilayah tidak mengalami hujan atau hanya menerima curah hujan yang sangat rendah, yakni kurang dari 1 milimeter.
BMKG menggunakan indikator HTH untuk memantau sekaligus mengklasifikasikan tingkat kekeringan meteorologis di berbagai daerah Indonesia. Pengelompokan berdasarkan durasi penting untuk menggambarkan tingkat panjang atau pendeknya periode tanpa hujan di suatu wilayah.
Klasifikasi HTH Menurut BMKG
BMKG membagi HTH ke dalam beberapa kategori. HTH sangat pendek berlangsung selama 0-5 hari, sedangkan kategori pendek mencakup 6-10 hari. Selanjutnya, HTH menengah berada pada rentang 11-20 hari dan kategori panjang berlangsung selama 21-30 hari.
Untuk kategori sangat panjang, durasinya mencapai 31-60 hari. Sementara itu, HTH ekstrem ditetapkan untuk periode tanpa hujan lebih dari 60 hari berturut-turut.
Cara Menghitung HTH
Perhitungan HTH dilakukan dengan menganalisis data curah hujan harian. Jumlah hari tanpa hujan berturut-turut dihitung dari hari terakhir pengamatan. Apabila pada hari terakhir pengamatan tidak terjadi hujan, maka periode tersebut dihitung sesuai dengan kriteria HTH.
Sebaliknya, apabila pada hari terakhir terdapat hujan, kondisi tersebut langsung dikategorikan sebagai hari hujan atau HH. Dengan demikian, status HTH dapat berubah berdasarkan hasil pengamatan curah hujan terbaru.
Kesimpulan
BMKG mencatat HTH ekstrem panjang di 17 provinsi berdasarkan pemutakhiran data per 10 September 2026. DIY menjadi wilayah dengan durasi terlama, yakni 131 hari, diikuti Jawa Tengah selama 130 hari dan Jawa Timur selama 129 hari. Secara keseluruhan, terdapat 1.637 titik dengan HTH lebih dari 60 hari.
Kondisi atmosfer yang relatif kering tersebut berlangsung ketika pengaruh El Nino masih berada pada kategori sangat kuat. Ke depan, pemantauan curah hujan dan perkembangan HTH tetap penting untuk mengetahui perubahan kondisi kekeringan meteorologis di berbagai wilayah Indonesia.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment