BMKG: Puncak Musim Kemarau di Indonesia Diprediksi Berlangsung hingga Akhir Oktober 2026

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan puncak musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026. Kondisi tersebut membuat risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) masih perlu diwaspadai dalam beberapa pekan ke depan.

BMKG menyebut durasi musim kemarau tahun ini bervariasi antara tiga hingga tujuh bulan, bergantung pada karakteristik masing-masing wilayah. Musim kemarau berpotensi berlangsung lebih panjang di 437 Zona Musim (ZOM), yang mencakup sekitar 48,77 persen dari total luas daratan Indonesia.

Puncak Kemarau Berlangsung hingga Akhir Oktober

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan puncak musim kemarau masih diperkirakan terjadi hingga penghujung Oktober 2026. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan yang dimuat di laman resmi BMKG pada Kamis (17/9).

“Puncak musim kemarau diprakirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026,” kata Faisal.

Seiring dengan prakiraan tersebut, BMKG meminta upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan mitigasi terus diperkuat sampai wilayah Indonesia memasuki periode musim hujan. Langkah ini dinilai penting karena sejumlah daerah masih menghadapi kebakaran hutan dan lahan.

Curah Hujan Masih Rendah hingga Menengah

Menurut prakiraan BMKG, pada Dasarian III September hingga Dasarian II Oktober 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori rendah hingga menengah. Jumlah curah hujan diperkirakan berkisar antara 0 hingga 150 milimeter per dasarian.

Curah hujan yang masih terbatas menunjukkan pasokan uap air untuk mendukung pembentukan awan hujan belum cukup melimpah. Kondisi tersebut turut berkaitan dengan pengaruh fenomena El Nino kategori sangat kuat.

Fenomena El Nino dapat mengurangi suplai kelembapan ke wilayah Indonesia. Akibatnya, kondisi kering masih berpotensi berlanjut di sejumlah daerah. Situasi ini juga dapat meningkatkan risiko karhutla, terutama ketika musim kemarau belum sepenuhnya berakhir.

Pengaruh El Nino dan Indian Ocean Dipole

Faisal menjelaskan, musim kemarau yang berlangsung cukup panjang juga dipengaruhi oleh El Nino sangat kuat. Fenomena yang berkembang di Samudra Pasifik tersebut berpotensi bersinggungan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia sekitar September.

IOD merupakan perbedaan suhu antara wilayah barat dan timur Samudra Hindia tropis. Perbedaan suhu tersebut dapat memengaruhi pola curah hujan dan angin di negara-negara yang berada di sekitar Samudra Hindia.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan terdapat kemungkinan sebesar 90 persen bahwa 2026 menghasilkan El Nino terkuat dalam 150 tahun terakhir. Fenomena tersebut juga diperkirakan bertepatan dengan IOD positif.

Ahli pemodelan iklim Institut Meteorologi Tropis India, Ankur Srivastava, mengatakan sekitar sepertiga kejadian IOD positif dipicu oleh El Nino yang berkembang lebih lambat pada musim panas India, seperti yang terjadi tahun ini.

Dampak terhadap Curah Hujan di Asia Selatan

Srivastava menjelaskan, dampak pertemuan El Nino dan IOD positif di Asia Selatan akan bergantung pada kekuatan masing-masing fenomena serta kemunculan fenomena cuaca lain dalam periode yang sama.

El Nino sebelumnya telah menyebabkan defisit curah hujan pada monsun India, terutama selama Juli dan Agustus. Jika IOD positif berkembang cukup kuat, fenomena tersebut berpotensi membawa tambahan kelembapan dan mengurangi defisit curah hujan pada akhir musim.

Namun, apabila IOD positif tidak menguat pada akhir musim panas, India berisiko mengalami periode kekeringan yang lebih panjang. Departemen Meteorologi India juga menyatakan bahwa pengaruh El Nino telah mendominasi sejak awal musim monsun. Dengan demikian, peluang pemulihan akibat IOD positif kemungkinan hanya terbatas pada akhir musim.

Risiko Hujan Ekstrem Tetap Perlu Diwaspadai

El Nino sangat kuat tidak hanya berpotensi menimbulkan defisit curah hujan. Fenomena tersebut juga dapat menyebabkan jeda monsun berlangsung lebih lama. Apabila hujan berintensitas tinggi turun secara tiba-tiba setelah periode kering, risiko banjir bandang dan tanah longsor dapat meningkat.

Srivastava menegaskan bahwa wilayah Himalaya dan kaki bukitnya tetap rentan terhadap hujan serta tanah longsor berdampak tinggi, meskipun musim yang berlangsung lebih kering dari kondisi rata-rata.

Kesimpulan

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia bertahan hingga akhir Oktober 2026. Dengan curah hujan yang masih rendah hingga menengah dan pengaruh El Nino sangat kuat, risiko kekeringan serta karhutla masih perlu menjadi perhatian.

Upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan mitigasi perlu dipertahankan hingga musim hujan tiba. Di sisi lain, dinamika El Nino dan IOD juga menunjukkan bahwa perubahan kondisi cuaca tetap harus dicermati karena periode kering yang panjang dapat diikuti hujan intensitas tinggi yang berpotensi memicu banjir bandang dan tanah longsor.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment