BMKG Ungkap Asap Karhutla Kalimantan Terbawa Angin hingga Sumatra dan Malaysia
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap pola pergerakan angin yang membawa asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari wilayah Kalimantan ke Sumatra. Pergerakan angin tersebut membuat asap menyebar ke sejumlah wilayah di sekitarnya, termasuk kawasan Sumatra bagian tengah dan selatan.
Berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari-9 pada 19 Agustus 2026, sebaran asap karhutla terdeteksi di beberapa wilayah Sumatra serta Kalimantan. BMKG menyebut sebagian asap terbawa pola angin sehingga cakupan penyebarannya meluas. Kondisi ini menjadi perhatian karena asap karhutla tidak hanya berdampak pada daerah yang menjadi lokasi kebakaran, tetapi juga berpotensi memengaruhi wilayah lain yang berada di sekitar jalur pergerakan angin.
Asap Karhutla Terdeteksi di Sumatra dan Kalimantan
Hasil analisis BMKG menunjukkan adanya sebaran asap karhutla di wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan. Selain itu, asap juga terpantau di sejumlah kawasan Kalimantan. Pergerakan angin berperan dalam membawa asap dari sumber kebakaran menuju wilayah lain.
Pola tersebut menyebabkan asap tidak berhenti di sekitar titik kejadian karhutla. Sebagian asap dapat menyebar mengikuti arah angin dan menjangkau daerah yang lebih luas. BMKG pun mengingatkan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap potensi dampak dari kondisi tersebut, terutama di wilayah yang berada dekat kawasan terdampak asap.
Musim Kemarau dan Curah Hujan Rendah Memicu Karhutla
BMKG menyatakan kondisi karhutla salah satunya didukung oleh berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Dalam analisis Dasarian I Agustus 2026, sebanyak 535 Zona Musim (ZOM), atau 76,5 persen wilayah Indonesia, telah mengalami musim kemarau.
Pada periode yang sama, curah hujan kategori rendah mendominasi 90,79 persen wilayah Indonesia. Rendahnya curah hujan membuat kondisi lahan menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar. Apabila terdapat sumber api, baik akibat aktivitas manusia maupun faktor lainnya, api berpotensi lebih cepat meluas pada kawasan yang memiliki vegetasi kering.
Pengaruh El Nino dan IOD Positif
Perkembangan cuaca dan iklim tersebut juga sejalan dengan kondisi El Nino yang telah mencapai intensitas sangat kuat. Selain itu, Indian Ocean Dipole (IOD) berada dalam fase positif. Kedua kondisi tersebut turut mendukung berkurangnya curah hujan secara umum di sebagian besar wilayah Indonesia.
BMKG menyebut penurunan curah hujan tersebut berimplikasi pada sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia. Informasi itu disampaikan dalam Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan untuk periode 21-27 Agustus 2026.
Dampak Asap Karhutla hingga Sarawak
Karhutla di wilayah Kalimantan juga diketahui berdampak pada sejumlah kawasan di Malaysia. Salah satu wilayah yang terdampak adalah Sarawak, yang berbatasan langsung dengan Kalimantan. Penyebaran asap lintas wilayah tersebut berkaitan dengan pola angin yang membawa partikel asap menjauh dari lokasi kebakaran.
Berdasarkan data Malaysian Air Pollutant Index Management System (APIMS), pada Sabtu, 22 Agustus, hingga pukul 16.00 waktu setempat, Serian mencatat indeks polusi udara (API) tertinggi di Sarawak. Nilainya mencapai 217 dan masuk kategori sangat tidak sehat.
Sembilan wilayah lain di Sarawak juga mencatat indeks polusi udara dalam kategori tidak sehat. Setelah Serian, Sri Aman menjadi wilayah dengan tingkat polusi tertinggi berikutnya dengan angka 186. Kemudian, Sarikei mencatat API sebesar 173, Kuching 171, dan Samarahan 170.
Sementara itu, Sibu dan Samalaju masing-masing mencatat API sebesar 156. Bintulu berada pada angka 153, Mukah 125, dan Kapit 108. Data tersebut menunjukkan bahwa dampak asap karhutla telah dirasakan di sejumlah wilayah Sarawak dengan tingkat pencemaran udara yang berbeda-beda.
BMKG Imbau Masyarakat Waspada
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah maupun membuka lahan secara sembarangan. Imbauan tersebut terutama ditujukan untuk aktivitas di kawasan yang mudah terbakar, seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan.
Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan apabila menemukan indikasi titik api atau hotspot. Pelaporan lebih awal penting untuk membantu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran kebakaran di tengah kondisi kemarau dan curah hujan yang rendah.
Kesimpulan
BMKG mendeteksi sebaran asap karhutla di Sumatra bagian tengah dan selatan serta Kalimantan berdasarkan citra satelit Himawari-9 pada 19 Agustus 2026. Pola angin membuat sebagian asap menyebar ke wilayah sekitar, bahkan berdampak pada kualitas udara di sejumlah daerah Sarawak, Malaysia.
Kondisi kemarau yang meluas, curah hujan rendah, El Nino berintensitas sangat kuat, dan IOD positif menjadi faktor yang mendukung meningkatnya potensi karhutla. Ke depan, kewaspadaan masyarakat dan pencegahan pembakaran terbuka menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kebakaran serta membatasi penyebaran asap ke wilayah lain.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment