Insinyur DeepSeek Kritik Seruan Perlambatan AI dari Anthropic, Persaingan Aturan Industri Memanas
Perdebatan mengenai keselamatan dan masa depan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin tajam. Perselisihan ini tidak hanya menyangkut seberapa cepat teknologi AI dikembangkan, tetapi juga mengenai pihak yang berhak menentukan aturan industri tersebut.
Seorang insinyur DeepSeek, Liu Shengyu, mengecam seruan CEO Anthropic Dario Amodei agar perusahaan-perusahaan teknologi memperlambat pengembangan AI. Menurut Liu, seruan tersebut dapat dilihat sebagai upaya untuk memperoleh kendali lebih besar atas aturan industri sebelum regulasi AI ditetapkan secara penuh.
Pernyataan itu muncul menjelang rencana pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang diperkirakan berlangsung pada 24 September. Di tengah persaingan untuk menjadi pemimpin teknologi global, isu keselamatan AI diperkirakan menjadi salah satu topik penting dalam hubungan kedua negara.
Insinyur DeepSeek Khawatir AI Dikuasai Perusahaan Tertentu
Liu Shengyu merupakan insinyur yang mengembangkan model V4.1 DeepSeek. Ia menyampaikan ketidakpercayaannya terhadap perusahaan seperti Anthropic dan OpenAI dalam mengembangkan AI mutakhir yang bersifat terbuka serta dapat diakses dengan biaya terjangkau.
Dalam unggahan di media sosial yang dikutip South China Morning Post pada Selasa (15/9), Liu menyatakan bahwa dirinya tidak ingin Anthropic menguasai teknologi AI atau artificial general intelligence (AGI) paling canggih.
AGI merujuk pada sistem AI yang memiliki kemampuan setara atau bahkan melampaui kecerdasan manusia. Liu kemudian menggunakan analogi sejarah yang ekstrem untuk menggambarkan risiko apabila satu perusahaan menguasai teknologi AI paling maju.
Analogi Senjata Nuklir dalam Perdebatan AI
Menurut Liu, penguasaan AI tercanggih oleh Anthropic akan memiliki dampak yang dianalogikan dengan kondisi ketika Adolf Hitler dan Nazi Jerman memperoleh senjata nuklir sebelum Blok Sekutu. Analogi tersebut digunakan untuk menekankan kekhawatirannya terhadap konsentrasi kekuatan teknologi pada satu pihak.
Namun, hingga kini DeepSeek maupun Anthropic belum menyampaikan tanggapan resmi mengenai pernyataan Liu. Kritik tersebut juga memperlihatkan adanya perbedaan pandangan antara kelompok yang menekankan keterbukaan akses AI dan pihak yang lebih mengutamakan pengendalian perkembangan teknologi demi alasan keselamatan.
Seruan Dario Amodei untuk Memperlambat Pengembangan AI
CEO Anthropic Dario Amodei sebelumnya menyerukan kepada perusahaan-perusahaan AI agar memperlambat laju pengembangan teknologi tersebut. Seruan itu didasarkan pada pertimbangan keamanan dan keselamatan, terutama karena kemampuan sistem AI terus berkembang.
Pandangan Amodei mendapat dukungan dari sejumlah tokoh industri teknologi, termasuk CEO OpenAI Sam Altman dan pendiri xAI Elon Musk. Dukungan tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran mengenai risiko AI tidak hanya datang dari kalangan pemerintah atau pengamat, tetapi juga dari para pemimpin perusahaan yang terlibat langsung dalam pengembangan teknologi tersebut.
Amodei juga menyarankan Washington untuk mempertahankan pembatasan ekspor chip canggih dan peralatan pembuatan chip ke China. Ia menilai keunggulan China dalam bidang AI dapat menimbulkan “bahaya besar” bagi Amerika Serikat dan dunia.
China Pertanyakan Motif di Balik Seruan Keselamatan AI
Seruan untuk memperlambat perkembangan AI mendapat respons tajam dari Beijing. Para pengamat China mempertanyakan apakah alasan keselamatan dan keselarasan AI menjadi satu-satunya motif di balik sikap perusahaan teknologi Amerika Serikat.
Dongbuyaqiao Research Institute menilai seruan Amodei mungkin berkaitan dengan upaya mendapatkan pengaruh lebih besar dalam penyusunan aturan industri. Penilaian tersebut muncul karena regulasi AI global masih berada dalam tahap pembentukan dan belum sepenuhnya ditetapkan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun bahkan menyebut kekhawatiran para pengembang AI Amerika Serikat sebagai omong kosong belaka. Dalam konferensi pers pada Senin, Guo mengatakan bahwa tindakan menakut-nakuti, konfrontasi, serta persaingan yang tidak sehat hanya akan menghambat upaya membangun aturan AI global yang baik.
Menurut Guo, pendekatan tersebut tidak memberikan keuntungan bagi pihak mana pun. Ia menilai persaingan yang terlalu konfrontatif justru dapat menyulitkan terciptanya kerja sama dalam menetapkan tata kelola AI internasional.
Perdebatan AI Tidak Lepas dari Kepentingan Komersial
Pada hari yang sama, Du Hengfeng dari National Business Daily menulis bahwa keuntungan komersial dapat menjadi motivasi utama di balik seruan perusahaan teknologi Amerika Serikat mengenai keamanan dan keselarasan AI.
Pandangan ini memperlihatkan bahwa perdebatan tentang keselamatan AI memiliki banyak lapisan. Di satu sisi, terdapat kekhawatiran terhadap risiko teknologi yang berkembang terlalu cepat. Di sisi lain, ada dugaan bahwa isu keselamatan dapat digunakan untuk memengaruhi regulasi, membatasi pesaing, atau mempertahankan keunggulan perusahaan dan negara tertentu.
Kesimpulan
Kritik Liu Shengyu terhadap Dario Amodei menambah panas perselisihan global mengenai arah pengembangan AI. Perdebatan tersebut mencakup persoalan keamanan, keterbukaan teknologi, akses yang terjangkau, pembatasan ekspor chip, hingga pengaruh dalam penyusunan regulasi.
Menjelang pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump yang diperkirakan berlangsung pada 24 September, isu keselamatan dan supremasi teknologi AI berpotensi menjadi perhatian penting. Ke depan, persaingan antara Amerika Serikat dan China akan terus memengaruhi cara dunia menentukan batas pengembangan AI serta pihak yang memiliki kewenangan dalam menetapkan aturan globalnya.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment