Kabut Asap Selimuti Pekanbaru, Kualitas Udara Capai Level Berbahaya

Pekanbaru diselimuti kabut asap dengan jarak pandang yang menurun hingga sekitar 2 kilometer. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyebut kondisi tersebut berdampak pada kualitas udara yang berada pada level berbahaya bagi kesehatan.

Prakirawan BMKG Stasiun Pekanbaru, Ranti Kurniati, menyampaikan informasi itu pada Selasa (25/8). Berdasarkan pembaruan data yang dilakukan sejak Senin (24/8) pukul 16.00 WIB, jarak pandang di wilayah Kota Pekanbaru berada di kisaran 2 kilometer.

Kabut asap tersebut berkaitan dengan tingginya konsentrasi partikulat halus atau PM 2,5 di udara. Kondisi ini menjadi perhatian karena kualitas udara di Pekanbaru sejak Selasa dini hari telah menyentuh level berbahaya.

Kualitas Udara Pekanbaru Capai Level Berbahaya

Ranti menjelaskan, kualitas udara Kota Pekanbaru berdasarkan pemantauan PM 2,5 sempat mencapai angka 508,8 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut tercatat pada Selasa pukul 01.00 WIB.

Tingginya konsentrasi PM 2,5 menjadi salah satu indikator memburuknya kualitas udara akibat kabut asap. Selain membuat jarak pandang berkurang, kondisi tersebut juga menyebabkan udara di Kota Pekanbaru berada dalam kategori berbahaya bagi kesehatan.

Data jarak pandang dan kualitas udara itu menunjukkan bahwa kabut asap masih menyelimuti Pekanbaru secara signifikan. Pembaruan kondisi dilakukan berdasarkan hasil pemantauan BMKG Stasiun Pekanbaru sejak Senin sore hingga Selasa.

2.193 Titik Panas Terdeteksi di Sumatera

Di wilayah Sumatera, jumlah titik panas yang terpantau pada Senin (24/8) mencapai 2.193 titik. Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 1.207 titik.

Provinsi Riau berada di urutan berikutnya dengan 393 titik panas. Sementara itu, titik panas lainnya tersebar di sejumlah provinsi, yaitu Jambi sebanyak 262 titik, Lampung 138 titik, Bangka Belitung 77 titik, dan Kepulauan Riau 57 titik.

Titik panas juga terpantau di Bengkulu sebanyak 19 titik, Sumatera Utara 18 titik, Sumatera Barat 13 titik, serta Aceh 9 titik. Sebaran tersebut menggambarkan luasnya wilayah yang terpantau memiliki titik panas di Sumatera pada periode tersebut.

Sebaran Titik Panas di Provinsi Riau

Di Provinsi Riau, Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yaitu 153 titik. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Indragiri Hilir dengan 140 titik panas.

Sejumlah titik panas lainnya tersebar di Kabupaten Bengkalis sebanyak 32 titik, Indragiri Hulu 26 titik, Kampar 12 titik, Siak 6 titik, dan Rokan Hulu 6 titik. Selain itu, terdapat 3 titik panas di Kepulauan Meranti, 3 titik di Kota Pekanbaru, serta 1 titik di Kuantan Singingi.

Kebakaran Lahan Terbesar Berada di Pelalawan

Kebakaran lahan masih terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Riau. Luas kebakaran lahan terbesar tercatat berada di Kabupaten Pelalawan, dengan area mencapai 700 hektare.

Wilayah lain yang mengalami kebakaran lahan adalah Indragiri Hulu dengan luas 471 hektare. Sementara itu, kebakaran lahan juga terjadi di Indragiri Hilir dan Kampar dengan luasan mencapai puluhan hektare.

Kesimpulan

Kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru menyebabkan jarak pandang turun menjadi sekitar 2 kilometer. Pada saat yang sama, kualitas udara berdasarkan PM 2,5 mencapai level berbahaya, bahkan sempat menyentuh 508,8 mikrogram per meter kubik pada Selasa dini hari.

Kondisi tersebut berlangsung di tengah tingginya jumlah titik panas di Sumatera dan masih terjadinya kebakaran lahan di Provinsi Riau. Pelalawan tercatat sebagai wilayah dengan titik panas dan luas kebakaran lahan terbesar di Riau. Perkembangan jarak pandang, kualitas udara, titik panas, serta kebakaran lahan masih perlu menjadi perhatian berdasarkan pembaruan data BMKG dan pemantauan kondisi di lapangan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment