Karhutla di Desa Katunjung Kapuas Belum Terkendali, Akses Sungai dan Asap Tebal Jadi Kendala
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung di wilayah pedalaman Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Titik api baru yang berada di lokasi kedua, Desa Katunjung, Kecamatan Mantangai, hingga Sabtu (22/8) pagi belum berhasil dikendalikan. Api dilaporkan masih bergerak meluas dan menimbulkan kepulan asap pekat di sekitar lokasi.
Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman menghadapi berbagai hambatan. Selain kobaran api yang belum sepenuhnya dapat dikendalikan, petugas juga harus berhadapan dengan jarak pandang terbatas, sulitnya akses menuju lokasi, keterbatasan jaringan komunikasi, serta kondisi pasang surut sungai. Situasi itu membuat tim di lapangan perlu bekerja ekstra hati-hati dan berpacu dengan waktu.
Titik Api di Katunjung Masih Mengeluarkan Asap Pekat
Kepala BPBD Kabupaten Kapuas, Pangeran S. Pandiangan, mengatakan titik api kedua di Desa Katunjung telah terbakar sejak Jumat (21/8) dan masih belum aman untuk dinyatakan terkendali hingga pagi berikutnya. Lokasi kebakaran berada pada koordinat -2,2314428, 114.35173405.
Menurut Pangeran, kobaran api di lokasi tersebut memunculkan asap tebal. Kepulan asap itu menghambat jarak pandang petugas yang sedang menjalankan upaya pemadaman. Dengan pandangan yang terbatas, pergerakan di sekitar titik api menjadi lebih sulit dan harus dilakukan secara cermat.
Pergerakan api yang dilaporkan masih meluas juga menjadi perhatian. Tim di lapangan harus berupaya mencegah kobaran menjalar ke area lain, meskipun kondisi lokasi dan lingkungan sekitar tidak mendukung proses pemadaman secara cepat.
Akses Menuju Lokasi Mengandalkan Perahu Ces
Medan menuju titik kebakaran menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan karhutla di Katunjung. Akses darat yang terbatas membuat petugas tidak dapat langsung mencapai lokasi melalui jalur darat. Sebagai gantinya, tim harus menggunakan perahu ces untuk menyusuri jalur sungai menuju titik api.
Kondisi Pasang Surut Memengaruhi Perjalanan
Perjalanan menuju lokasi harus disesuaikan dengan kondisi air. Petugas perlu memperhitungkan waktu karena debit sungai dapat kembali surut dan memengaruhi kelancaran perahu saat melintas. Kondisi pasang surut menjadi faktor penting yang menentukan apakah akses sungai dapat digunakan dengan baik.
Pangeran menjelaskan, tim tidak hanya dituntut mencapai lokasi secepat mungkin, tetapi juga harus mempertimbangkan keadaan sungai. Ketergantungan pada perahu ces dan kondisi air membuat proses mobilisasi personel menuju lokasi kebakaran menjadi lebih menantang.
Sembilan Personel Dikerahkan untuk Pemadaman
Untuk menangani titik api tersebut, sebanyak sembilan personel telah dikerahkan. Mereka terdiri atas tiga personel KPHL Kapuas Kahayan dan enam personel Masyarakat Peduli Api (MPA) binaan.
Para personel bekerja di tengah kepulan asap yang mengganggu pandangan. Ketiadaan jaringan komunikasi di sekitar lokasi juga menyulitkan koordinasi secara langsung. Karena itu, petugas harus bergerak dengan kewaspadaan tinggi ketika melakukan penanganan di sekitar area yang terbakar.
Keterbatasan sinyal menjadi persoalan tersendiri dalam penyampaian informasi dari lapangan. Situasi tersebut membuat koordinasi tidak mudah dilakukan, terutama ketika kondisi api masih bergerak dan akses menuju lokasi sangat bergantung pada jalur sungai.
BPBD Terus Memantau Perkembangan dari Posko
Hingga Sabtu (22/8), status titik api kedua di Katunjung masih belum dapat dinyatakan terkendali. Pangeran menyebut pergerakan api masih meluas, disertai kepulan asap tebal. Kendala utama yang dihadapi petugas meliputi tidak adanya sinyal komunikasi, jarak pandang yang terbatas, serta akses yang bergantung pada perahu ces dan kondisi pasang surut.
Di tengah keterbatasan tersebut, Pusdalops BPBD Kabupaten Kapuas terus berkoordinasi dengan posko terdepan. Koordinasi dilakukan untuk memperoleh perkembangan terbaru mengenai kondisi kebakaran dan penanganan yang berlangsung di lapangan.
Kesimpulan
Karhutla di titik kedua Desa Katunjung, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, masih belum berhasil dikendalikan. Api yang terus bergerak, asap pekat, medan yang sulit dijangkau, keterbatasan jaringan komunikasi, serta kondisi pasang surut sungai menjadi tantangan utama bagi petugas.
Sembilan personel dari KPHL Kapuas Kahayan dan MPA binaan telah dikerahkan untuk menangani kebakaran tersebut. Selanjutnya, perkembangan penanganan masih menunggu laporan dari posko terdepan yang terus dipantau dan dikoordinasikan oleh Pusdalops BPBD Kabupaten Kapuas.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment