Karhutla Gunung Semeru Padam, Lebih dari 3.000 Hektare Kawasan Terdampak

Lumajang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Semeru akhirnya dinyatakan padam. Petugas gabungan tidak lagi menemukan titik api di lapangan setelah melakukan serangkaian upaya pemadaman melalui jalur darat dan udara.

Penanganan karhutla tersebut secara resmi dinyatakan selesai pada 5 September 2026. Meski api telah padam, pengawasan terhadap kawasan terdampak akan tetap dilakukan untuk memastikan tidak muncul kembali titik api, terutama di area yang sebelumnya mengalami kebakaran cukup luas.

Karhutla Gunung Semeru Dinyatakan Tuntas

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Isnugroho, mengatakan kegiatan penanganan karhutla telah dinyatakan tuntas setelah petugas memastikan tidak ada lagi titik api yang ditemukan di lapangan.

Menurut Isnugroho, BPBD Lumajang telah berkoordinasi dengan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah III Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Ranupani. Setelah tahap pemadaman dinyatakan selesai, pengawasan kawasan selanjutnya dilakukan oleh pihak TNBTS melalui patroli rutin.

“Kami berkoordinasi dengan Seksi PTN Wilayah III TNBTS Ranupani di Lumajang karena per tanggal 5 September 2026, kegiatan dinyatakan selesai karena sudah tidak ada titik api dan selanjutnya akan dilaksanakan patroli oleh pihak TNBTS,” kata Isnugroho, Senin (7/9).

Pemadaman Menggunakan Jalur Darat dan Water Bombing

Proses pemadaman karhutla di kawasan Gunung Semeru dilakukan melalui kombinasi penyisiran jalur darat dan operasi water bombing menggunakan helikopter. Langkah tersebut dilakukan untuk menjangkau area-area yang terdampak kebakaran serta memastikan bara api yang tersisa dapat dikendalikan.

Selain melakukan pemadaman, petugas gabungan juga melaksanakan pembasahan di sejumlah lokasi. Upaya ini diperlukan untuk menekan kemungkinan munculnya kembali api di kawasan yang sebelumnya terbakar.

Berdasarkan data TNBTS, luas area yang terbakar hingga 1 September 2026 tercatat mencapai 3.072 hektare. Namun, jumlah keseluruhan area yang terdampak hingga 5 September 2026 masih dalam proses penghitungan oleh petugas di lapangan.

Ranu Kumbolo Jadi Area Terdampak Terluas

Isnugroho menjelaskan, karhutla tersebar di sejumlah blok di kawasan Gunung Semeru. Di Blok Dingklik, Pacis Bincil, Kedaluh, dan Penanjakan, luas area yang terbakar tercatat sekitar 211,24 hektare.

Sementara itu, area yang meliputi Bantengan, Watangan, Jantur, dan B29 memiliki luas terdampak sekitar 881,78 hektare. Adapun wilayah dengan dampak paling luas berada di Ranu Kumbolo dan kawasan sekitarnya.

Luas area terdampak karhutla di Ranu Kumbolo dan sekitarnya mencapai sekitar 1.887 hektare. Angka tersebut menjadikan kawasan itu sebagai lokasi dengan dampak kebakaran paling besar berdasarkan rincian sementara yang disampaikan BPBD Lumajang.

“Dampak karhutla yang terluas berada di Ranu Kumbolo dan sekitarnya mencapai 1.887 hektare,” ujar Isnugroho.

Penghitungan di Blok Krepelan Masih Berlangsung

Meski penanganan karhutla telah dinyatakan selesai, petugas masih melakukan penghitungan di Blok Krepelan, Desa Ranupani. Karena proses tersebut belum rampung, angka pasti luas total area yang terdampak hingga 5 September 2026 belum dapat dipastikan.

Tim regu siaga BPBD Lumajang bersama petugas gabungan juga telah melakukan penyisiran dan pembasahan di Blok Krepelan menuju Ranupani. Kegiatan tersebut dilakukan dengan menggunakan jet shooter dan blower untuk membantu penanganan di area terdampak.

Patroli TNBTS Jadi Tahap Pengawasan Berikutnya

Setelah seluruh titik api dinyatakan tidak ditemukan, tanggung jawab pengawasan kawasan akan dilanjutkan melalui patroli rutin oleh petugas TNBTS. Patroli ini menjadi bagian penting dari tahap pascapemadaman, khususnya untuk memantau area yang sebelumnya dilanda kebakaran.

Dengan dinyatakannya karhutla padam, fokus penanganan kini beralih pada pemantauan kawasan dan penyelesaian pendataan luas area terdampak. Hasil penghitungan di Blok Krepelan akan melengkapi informasi mengenai total dampak karhutla di kawasan Gunung Semeru.

Kesimpulan

Karhutla di kawasan Gunung Semeru dinyatakan padam pada 5 September 2026 setelah petugas gabungan tidak lagi menemukan titik api. Kebakaran tersebut tercatat telah melanda lebih dari 3.000 hektare kawasan, dengan dampak terluas berada di Ranu Kumbolo dan sekitarnya yang mencapai sekitar 1.887 hektare.

Penanganan dilakukan melalui penyisiran darat, pembasahan, serta water bombing menggunakan helikopter. Ke depan, petugas TNBTS akan melanjutkan pengawasan melalui patroli rutin, sementara penghitungan luas area terdampak di Blok Krepelan masih terus dilakukan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment