Kisah Nur Ainanta, Perempuan Indonesia yang Menjadi Tentara Kamboja dan Bertugas Memberantas Perdagangan Manusia
Nur Ainanta, perempuan asal Indonesia, mengambil keputusan tidak biasa setelah kedatangannya ke Kamboja yang semula hanya untuk berlibur. Ia kemudian tertarik bergabung dengan aparat keamanan dan mendapat izin untuk menjadi bagian dari militer Kamboja. Keputusan tersebut berawal dari rasa penasaran, tetapi berlanjut menjadi pilihan hidup yang membawanya menjalankan tugas di bidang pemberantasan perdagangan manusia.
Dalam menjalankan tugasnya, Nur mengaku prihatin terhadap banyak warga Indonesia maupun warga negara lain yang terjebak di Kamboja. Ia pun memilih bergabung dengan unit yang menangani pemberantasan perdagangan manusia. Selain menangani kasus perdagangan manusia, Nur juga terlibat dalam penanganan jaringan penipuan daring di wilayah perbatasan.
Berawal dari Keinginan Mencoba Saat Berlibur
Nur menuturkan, keputusannya bergabung dengan aparat keamanan Kamboja bermula ketika dirinya berada di negara tersebut untuk berlibur. Saat itu, ia mengaku hanya ingin berjalan-jalan dan tidak memiliki rencana untuk menjadi tentara.
Ketertarikan untuk bergabung muncul secara spontan. Nur menyebut keinginannya tersebut berawal dari keisengan, sebelum akhirnya mendapat persetujuan untuk masuk ke lingkungan aparat keamanan Kamboja.
“Awalnya cuma jalan-jalan saja, dan karena iseng saja ingin masuk di aparat. Alhamdulillah disetujui,” kata Nur.
Setelah mendapat izin, Nur menjalani peran sebagai bagian dari militer Kamboja. Pilihannya untuk bertugas di bidang pemberantasan perdagangan manusia didorong oleh kepeduliannya terhadap para korban yang terjebak di Kamboja.
Memilih Bertugas Memberantas Perdagangan Manusia
Nur mengatakan banyak warga Indonesia dan warga negara lain yang mengalami persoalan di Kamboja. Kondisi tersebut membuatnya memilih bagian yang berfokus pada pemberantasan perdagangan manusia.
“Pengalamanku bisa ikut karena kasihan banyak warga Indonesia, warga lain terjebak di Kamboja dan makanya saya pilih di bagian pemberantasan,” ujarnya.
Selama bertugas, Nur juga terlibat dalam penanganan jaringan penipuan daring di wilayah perbatasan. Ia mengaku pengalaman menangani kasus-kasus tersebut cukup berat dan bahkan meninggalkan trauma.
“Pengalamannya lumayan tragis, pertama saja bikin trauma,” kata Nur.
Syarat Menjadi Tentara Kamboja
Menurut Nur, salah satu persyaratan utama untuk menjadi tentara Kamboja adalah memiliki kewarganegaraan Kamboja. Untuk memenuhi ketentuan tersebut, ia harus berpindah kewarganegaraan.
Selain status kewarganegaraan, calon personel juga dituntut memiliki kesiapan mental. Mereka harus bersedia ditempatkan di berbagai wilayah dan mengikuti keputusan dari pusat. Kesiapan untuk menjalankan tugas apa pun menjadi bagian penting dalam menjalani profesi tersebut.
“Masalah persyaratan yang lain cuma dari mental dan siap ditugaskan di mana saja. Harus siap sedia apa pun keputusan dari pusat,” katanya.
Aturan Mengenai Hijab dan Cadar
Nur merupakan perempuan yang mengenakan hijab dan cadar. Ia menjelaskan bahwa secara umum aturan militer Kamboja melarang penggunaan pakaian tersebut. Namun, terdapat perbedaan aturan di unit tempatnya bertugas.
Menurut Nur, unit yang dipilihnya memperbolehkan penggunaan hijab dan cadar. Hal itu membuatnya tetap dapat menjalankan tugas dengan pakaian yang dikenakannya.
“Sebenarnya dilarang keras, tapi di bagian tim yang saya ambil dibolehkan,” ujar Nur.
Pernah Berada di Wilayah Perbatasan
Nur mengaku saat ini telah berpangkat kolonel di militer Kamboja. Ia juga pernah berada di wilayah perbatasan ketika terjadi konfrontasi militer antara Thailand dan Kamboja.
Meski berada di lokasi tersebut, Nur menegaskan bahwa tugasnya bukan terlibat langsung dalam pertempuran. Ia berada di wilayah perbatasan untuk melakukan pengecekan serta memberikan arahan.
“Memang saya juga pernah di situ, tapi cuma bertugas mengecek saja, kasih arahan saja,” ujarnya.
Dukungan Keluarga terhadap Pilihan Nur
Keputusan Nur untuk menjadi tentara Kamboja mendapat dukungan dari keluarganya. Ia mengatakan keluarga telah memberikan izin dan mendukung pilihannya untuk menjalani tugas tersebut.
Kesimpulan
Kisah Nur Ainanta menunjukkan perubahan besar dalam perjalanan hidupnya. Kedatangannya ke Kamboja yang semula hanya untuk berlibur berujung pada keputusan menjadi bagian dari militer negara tersebut. Setelah memenuhi persyaratan kewarganegaraan dan kesiapan mental, Nur memilih bertugas dalam pemberantasan perdagangan manusia karena prihatin terhadap warga Indonesia dan warga negara lain yang terjebak di Kamboja.
Pengalamannya menangani perdagangan manusia dan jaringan penipuan daring di wilayah perbatasan juga tidak mudah, bahkan sempat menimbulkan trauma. Meski demikian, Nur tetap menjalankan perannya hingga mengaku telah berpangkat kolonel. Ke depan, pengalamannya memperlihatkan bahwa penanganan perdagangan manusia dan perlindungan terhadap warga yang terjebak di luar negeri tetap menjadi persoalan penting yang membutuhkan perhatian.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment