Menkes Ungkap Jawa Barat Catat Angka Kematian Ibu dan Bayi Tertinggi di Indonesia

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa Jawa Barat tercatat sebagai provinsi dengan tingkat kematian ibu dan bayi paling tinggi di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat bersama Komisi IX DPR pada Senin (14/9). Menurut Budi, persoalan ini menjadi perhatian serius karena sebagian kasus kematian terjadi saat pasien menjalani penanganan di rumah sakit yang telah memiliki akreditasi paripurna.

Secara nasional, angka kematian ibu dan bayi masih menjadi tantangan besar bagi sektor kesehatan. Budi menyebut Indonesia mencatat sekitar 30 ribu kematian bayi dan 4 ribu kematian ibu setiap tahun. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia pada posisi yang kurang baik di kawasan ASEAN.

Jawa Barat Jadi Perhatian Pemerintah

Dalam rapat tersebut, Budi menyampaikan bahwa hasil peninjauan menunjukkan Jawa Barat memiliki angka kematian ibu dan anak yang termasuk paling tinggi di Indonesia. Kondisi itu dinilai semakin memprihatinkan karena kematian tersebut terjadi di rumah sakit dengan status akreditasi paripurna.

“Kita di ASEAN itu termasuk yang jelek posisinya. Sesudah kita lihat di Jawa Barat, Jawa Barat itu termasuk yang paling tinggi angkanya, dan itu terjadi di rumah sakit paripurna,” ujar Budi dalam rapat Komisi IX DPR.

Budi juga menyebut terdapat tiga kota dan tiga kabupaten di Jawa Barat yang memiliki tingkat kematian ibu dan anak paling tinggi. Namun, ia tidak memerinci jumlah kematian maupun menyampaikan nama wilayah kabupaten dan kota yang dimaksud.

Infeksi Disebut Menjadi Salah Satu Penyebab

Berdasarkan penjelasan Menteri Kesehatan, sebagian besar pasien ibu dan anak meninggal ketika berada dalam penanganan rumah sakit. Padahal, rumah sakit tersebut termasuk dalam kategori akreditasi paripurna. Temuan ini menunjukkan bahwa status akreditasi belum cukup apabila tidak disertai dengan penerapan standar pelayanan dan kebersihan yang konsisten.

Budi mengatakan, salah satu persoalan yang ditemukan berkaitan dengan infeksi di rumah sakit. Pengelolaan kebersihan yang belum baik dinilai dapat meningkatkan risiko bagi pasien, termasuk ibu dan bayi yang membutuhkan perawatan medis.

“Ada kabupaten yang ini, dan kita lihat rumah sakitnya kenapa meninggal? Karena banyak infeksi. Jadi cara mereka menata kebersihan rumah sakitnya itu enggak bagus,” kata Budi.

Rumah Sakit Diminta Segera Berbenah

Untuk menangani persoalan tersebut, Kementerian Kesehatan memberikan perhatian khusus terhadap rumah sakit yang mencatat angka kematian ibu dan bayi tinggi. Rumah sakit yang dianggap bermasalah telah didata dan akan mendapatkan pendampingan dari pemerintah.

Budi menyatakan, rumah sakit terkait diberikan waktu selama satu tahun untuk melakukan pembenahan dan memperbaiki kualitas layanan. Pendampingan ini diharapkan dapat mendorong rumah sakit meningkatkan standar penanganan pasien serta mencegah terjadinya kematian yang sebenarnya dapat ditekan.

“Jadi semua rumah sakit-rumah sakit yang tinggi dari sisi kematian ibu bayinya, kita sudah list dan kita akan dampingi,” ujar Budi.

Indikator Mutu Akan Diperketat

Selain memberikan pendampingan, pemerintah juga berencana memasukkan sejumlah indikator dalam proses evaluasi rumah sakit. Salah satu indikator yang disebut adalah antimicrobial resistance atau resistansi antimikroba. Indikator tersebut akan diukur secara lebih konkret untuk mengetahui kondisi dan kualitas penanganan di masing-masing rumah sakit.

Menurut Budi, penerapan indikator yang terukur dapat membantu pemerintah mengevaluasi layanan kesehatan secara lebih objektif. Dengan demikian, perbaikan tidak hanya didasarkan pada status akreditasi, tetapi juga pada hasil pelayanan dan keselamatan pasien.

Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong perubahan dalam pengelolaan rumah sakit, terutama terkait pencegahan infeksi dan peningkatan mutu layanan bagi ibu serta bayi.

Kesimpulan

Ungkapan Menteri Kesehatan mengenai tingginya angka kematian ibu dan bayi di Jawa Barat menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan pengelola rumah sakit. Indonesia sendiri masih mencatat puluhan ribu kematian bayi serta ribuan kematian ibu setiap tahun, dengan posisi yang dinilai kurang baik di ASEAN.

Ke depan, pendataan rumah sakit, pendampingan selama satu tahun, serta penerapan indikator seperti resistansi antimikroba diharapkan dapat memperbaiki kualitas layanan kesehatan. Pembenahan kebersihan rumah sakit dan evaluasi berbasis indikator terukur menjadi bagian penting untuk menekan angka kematian ibu dan bayi.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment