Menlu Iran Ejek Ancaman Ekonomi Trump: Disebut Kebijakan Gagal dan Ancam Kedaulatan Dunia
Teheran – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengejek ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap perekonomian Iran. Araghchi menyebut rencana tekanan ekonomi Washington sebagai kebijakan gagal yang justru berpotensi menimbulkan kekalahan lebih besar bagi Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi melalui unggahan di media sosial X pada Kamis (20/8). Ia menilai ancaman yang disebut Trump sebagai “D-Day Ekonomi” tidak lebih dari upaya untuk mengalihkan perhatian dari persoalan ekonomi yang sedang dihadapi Amerika Serikat.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah batas waktu negosiasi damai kedua negara berakhir pada 17 Agustus. Tenggat tersebut sebelumnya ditetapkan dalam nota kesepahaman atau MoU yang ditandatangani pada Juni lalu.
Araghchi Sebut Ancaman Trump sebagai Kebijakan Gagal
Dalam unggahannya, Araghchi menilai ancaman ekonomi terhadap Iran tidak akan menghasilkan tujuan yang diinginkan Washington. Menurut dia, penerapan kembali kebijakan tersebut hanya akan memperburuk posisi Amerika Serikat dan memicu penolakan yang lebih besar dari rakyat Iran.
“Apa yang disebut sebagai D-Day Ekonomi hanyalah pengalihan isu dari krisis yang dihadapi Amerika sendiri: utang yang belum pernah terjadi sebelumnya dan lonjakan biaya bunga,” ujar Araghchi, seperti dikutip AFP.
Ia kemudian memperingatkan bahwa pemaksaan kebijakan yang dinilai gagal hanya akan membawa dampak negatif bagi Amerika Serikat.
“Memaksakan kebijakan yang gagal hanya akan mendatangkan kekalahan lebih lanjut serta kebencian dari rakyat Iran,” lanjutnya.
Iran Soroti Dampak terhadap Dunia
Araghchi tidak hanya menilai ancaman tersebut sebagai persoalan bilateral antara Iran dan Amerika Serikat. Ia menyebut tekanan ekonomi Washington juga berpotensi mengancam stabilitas ekonomi global serta kedaulatan negara-negara lain.
Menurut Araghchi, tindakan yang ia sebut sebagai “terorisme ekonomi” Amerika Serikat dapat menjadikan kedaulatan seluruh negara sebagai taruhannya. Ia menilai ancaman terhadap negara atau entitas yang membantu Iran dapat memperluas dampak konflik ke berbagai sektor dan wilayah.
“Terorisme ekonomi AS mengancam ekonomi global dan kedaulatan di seluruh dunia,” kata Araghchi.
Trump Umumkan Operasi Ekonomi terhadap Iran
Sebelumnya, Trump mengumumkan rencana melancarkan operasi ekonomi berskala besar terhadap Iran melalui unggahan di Truth Social pada Rabu (19/8). Ia menggambarkan operasi tersebut sebagai salah satu tekanan ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap Teheran.
Trump menyatakan langkah itu akan berbentuk perang ekonomi dan isolasi dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Washington sedang menyiapkan tekanan yang lebih luas terhadap Iran setelah berakhirnya tenggat negosiasi damai.
“Ini akan menjadi Perang Ekonomi dan Isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis Trump.
Trump Ancam Negara yang Membantu Iran
Selain menargetkan Iran, Trump juga memperingatkan negara maupun entitas yang memberikan bantuan kepada Teheran. Ia menyatakan pihak mana pun yang membantu menopang keberlangsungan Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat besar.
Ancaman tersebut mencakup lembaga keuangan, perusahaan, bandara, hingga entitas pemerintah. Trump menegaskan bahwa bantuan dalam bentuk apa pun dapat membuat pihak yang terlibat ikut terkena dampak dari operasi ekonomi Amerika Serikat.
“Negara mana pun yang membiarkan lembaga keuangan, bisnis, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan bantuan apa pun yang menjadi penopang hidup bagi Iran, akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat besar,” tegas Trump.
Negosiasi Damai AS-Iran Berakhir
Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah batas waktu negosiasi damai resmi berakhir pada 17 Agustus. Kedua negara sebelumnya telah menyepakati tenggat tersebut melalui MoU yang ditandatangani pada Juni.
Namun, setelah tenggat berakhir, Washington dan Teheran masih mempertahankan tuntutan masing-masing. Kedua pihak disebut sama-sama bersikeras agar pihak lawan memenuhi syarat negosiasi yang mereka ajukan.
Situasi semakin tegang karena Amerika Serikat dan Iran juga saling melontarkan ancaman untuk memperluas konflik. Dalam perkembangan tersebut, Amerika Serikat disebut menargetkan Oman, sementara Iran menargetkan Eropa.
Kesimpulan
Perseteruan antara Amerika Serikat dan Iran kini tidak hanya berlangsung melalui pernyataan politik, tetapi juga berpotensi berkembang menjadi tekanan ekonomi dan isolasi yang lebih luas. Abbas Araghchi menilai strategi Donald Trump sebagai kebijakan gagal yang dapat merugikan Washington serta meningkatkan kebencian rakyat Iran.
Di sisi lain, Trump tetap menegaskan rencana melancarkan operasi ekonomi besar terhadap Iran dan mengancam negara atau entitas yang memberikan bantuan kepada Teheran. Setelah negosiasi damai berakhir tanpa kesepakatan lanjutan, arah hubungan kedua negara masih akan ditentukan oleh respons masing-masing pihak terhadap ancaman ekonomi dan kemungkinan perluasan konflik.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment