Ocean City Kerahkan Burung Pemangsa untuk Usir Camar Pencuri Makanan Wisatawan
Setiap musim panas, Ocean City di pesisir New Jersey, Amerika Serikat, menjadi tujuan wisata bagi sekitar 150 ribu orang. Kota yang berada di sebuah pulau tersebut menawarkan pantai berpasir yang ramai dikunjungi wisatawan untuk berjemur dan menikmati suasana pesisir.
Namun, meningkatnya jumlah pengunjung juga diikuti persoalan lain, yakni populasi burung camar yang semakin banyak. Burung-burung tersebut kerap mengganggu wisatawan dengan mencuri makanan, mulai dari pizza, kentang goreng, hingga es krim. Untuk mengatasi masalah itu, pemerintah Ocean City menggunakan bantuan burung pemangsa sebagai cara alami untuk mengusir camar dari kawasan wisata.
Ribuan Burung Camar Memadati Ocean City
Angelina Caselli, falconer atau pelatih burung pemangsa yang telah bekerja di Ocean City sejak 2019, menyebut populasi burung camar di kota tersebut dapat mencapai 3.000 hingga 4.000 ekor selama musim panas.
Jumlah itu meningkat bersamaan dengan lonjakan wisatawan yang datang ke Ocean City. Keberadaan camar menjadi salah satu gangguan yang paling sering dikeluhkan pengunjung karena burung-burung tersebut tidak ragu mendekati manusia demi mendapatkan makanan.
Berbagai jenis makanan yang dibawa wisatawan dapat menjadi sasaran. Camar bahkan diketahui mencuri makanan yang sedang dinikmati pengunjung di kawasan pantai.
Burung Pemangsa Dikerahkan untuk Menakut-nakuti Camar
Untuk mengurangi gangguan tersebut, Caselli bersama East Coast Falcons, kelompok falconer dari North Jersey, mengerahkan burung-burung pemangsa di sejumlah kawasan wisata Ocean City.
Melibatkan Burung Hantu, Alap-alap, dan Elang
Saat ini, terdapat 13 burung pemangsa yang bertugas di Ocean City. Mereka terdiri atas burung hantu, alap-alap, dan elang. Selain itu, terdapat satu burung pemangsa lain yang sedang bertugas di Atlantic City sehingga total burung yang menjadi bagian dari program tersebut mencapai 14 ekor.
Burung-burung itu merupakan hasil penangkaran yang telah dilatih dan terbiasa berinteraksi dengan manusia. Para falconer yang menangani mereka juga merupakan tenaga ahli yang telah memenuhi persyaratan hukum untuk menjalankan pekerjaan tersebut.
Dalam menjalankan tugas, Caselli dan tim memantau burung-burung pemangsa menggunakan GPS, radio telemetry, peluit, umpan, serta lonceng kecil. Peralatan tersebut membantu mereka mengetahui posisi burung sekaligus memanggilnya kembali setelah patroli selesai.
Bukan untuk Membunuh, Melainkan Mengusir
Burung pemangsa yang dikerahkan tidak dilatih untuk membunuh burung camar. Kehadiran mereka dimanfaatkan sebagai ancaman alami agar camar menjauh dari kawasan kota dan tidak lagi mengganggu wisatawan.
Meski demikian, naluri berburu burung pemangsa tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Karena itu, tetap ada kemungkinan beberapa burung camar terbunuh ketika program berlangsung.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap hasil buruan, burung-burung pemangsa tersebut dilatih dalam kondisi sekitar 10 persen di atas hunting weight, yakni bobot yang menjadi acuan dalam pelatihan burung pemangsa.
Kondisi itu membuat mereka tetap memiliki dorongan untuk mengejar, tetapi tidak perlu berburu untuk memenuhi kebutuhan makanannya. Setelah menjalankan tugas, burung-burung tersebut diberi makan daging burung puyuh.
Camar Mulai Mengenali Falconer
Burung camar ternyata tidak mudah dikelabui. Hewan tersebut mampu beradaptasi dengan kehadiran manusia dan bahkan mengenali wajah serta kendaraan para falconer yang melakukan patroli.
Swanson, master falconer di East Coast Falcons, mengatakan burung camar dapat mengenali wajah para falconer, termasuk mobil dan truk yang digunakan. Ketika melihat kendaraan atau orang yang mereka kenali di tempat parkir, camar akan membunyikan alarm dan berteriak.
Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa burung camar dapat mempelajari pola ancaman di lingkungan mereka. Oleh sebab itu, pekerjaan para falconer membutuhkan pemantauan dan pengelolaan yang berkelanjutan.
Kontrak Diperpanjang hingga 2029
Program penggunaan burung pemangsa untuk mengatasi gangguan camar telah diuji oleh pemerintah Ocean City sejak 2019. Pada awalnya, program tersebut hanya bersifat percobaan.
Setelah dinilai berhasil, pemerintah Ocean City memperpanjang kontrak dengan East Coast Falcons hingga 2029. Nilai kontrak itu mencapai US$369.996 atau sekitar Rp6,6 miliar.
Alternatif dari Metode Pengusiran Lain
Sebelum menggunakan burung pemangsa, pemerintah Ocean City telah mencoba sejumlah metode untuk mengusir burung camar. Cara yang digunakan antara lain suara keras, tali pancing, pemasangan burung hantu plastik, serta imbauan kepada wisatawan agar tidak memberi makan camar.
Namun, metode-metode tersebut dinilai tidak efektif. Penggunaan racun dan pemburu bersenjata juga dianggap terlalu tidak manusiawi. Karena itu, burung pemangsa dipilih sebagai predator alami untuk membuat camar menjauh dari kawasan wisata.
Kesimpulan
Ocean City memanfaatkan burung pemangsa untuk mengatasi gangguan burung camar yang meningkat selama musim panas. Strategi ini tidak ditujukan untuk membasmi camar, melainkan menakut-nakuti mereka agar menjauh dari wisatawan dan kawasan pantai.
Program yang telah berjalan sejak 2019 tersebut kini memperoleh perpanjangan kontrak hingga 2029. Ke depan, keberlanjutan program ini akan bergantung pada kemampuan para falconer dalam mengendalikan burung pemangsa sekaligus menghadapi adaptasi burung camar yang mulai mengenali wajah dan kendaraan mereka.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment