Relawan Karhutla di Kotawaringin Timur Masuk IGD akibat Sesak Napas dan Kelelahan
KOTAWARINGIN TIMUR – Upaya membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, berujung pada kondisi nahas bagi seorang relawan. Rizky Mubarrak harus mendapatkan perawatan di instalasi gawat darurat (IGD) RSUD dr Murjani Sampit setelah berjibaku memadamkan api di wilayah Kecamatan Baamang, sekitar Semekto.
Relawan asal Kecamatan Mentawa Baru Ketapang tersebut mengalami sesak napas dan kelelahan setelah berada selama berjam-jam di lokasi kebakaran. Kondisinya diduga menurun akibat terpapar asap tebal serta aktivitas pemadaman yang menguras tenaga.
Relawan Karhutla Mengalami Sesak Napas
Camat Mentawa Baru Ketapang, Irpansyah, mengatakan Rizky mendapat penanganan medis setelah kondisi fisiknya menurun di tengah kegiatan pemadaman. Berdasarkan pemeriksaan dokter, keluhan yang dialami Rizky berupa sesak napas dan kelelahan.
“Diduga terpapar asap tebal dan kelelahan setelah berjam-jam berada di lokasi kebakaran, kondisi Rizky kemudian menurun. Ia mendapat penanganan medis di rumah sakit,” kata Irpansyah, seperti dikutip detikcom, Kamis (20/8).
Setelah menjalani perawatan, kondisi Rizky disebut mulai stabil. Meski demikian, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa kegiatan pemadaman karhutla memiliki risiko besar, terutama ketika relawan harus bekerja dalam kepungan asap dan menghadapi medan yang sulit.
Karhutla di Mentawa Baru Ketapang Meluas
Rizky merupakan bagian dari kelompok relawan yang selama ini aktif membantu masyarakat dalam berbagai kegiatan kebencanaan. Keterlibatan mereka tidak terbatas pada penanganan karhutla, tetapi juga dilakukan dalam kegiatan sosial dan kebencanaan lainnya.
Kelompok relawan tersebut turut membantu pemadaman karhutla di sejumlah wilayah yang masih dapat dijangkau. Namun, kondisi kebakaran di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang disebut semakin meluas dan mengkhawatirkan.
Irpansyah menyebut titik karhutla membentang dari ujung Desa Bapanggang hingga Kelurahan Pasir Putih. Menurut dia, kondisi kebakaran di wilayah tersebut sudah sulit dikendalikan.
Relawan Diminta Tidak Memaksakan Diri
Melihat kondisi lapangan yang semakin berat, Irpansyah mengaku telah mengingatkan para relawan, termasuk Rizky, agar tidak memaksakan diri. Peringatan itu terutama ditujukan untuk lokasi kebakaran yang berada jauh dari permukiman.
Sejumlah titik api sulit dijangkau karena akses yang terbatas. Selain itu, ketersediaan sumber air di lokasi juga menjadi kendala utama. Karena keterbatasan tersebut, masyarakat di beberapa desa bahkan harus melakukan pemadaman secara mandiri.
Irpansyah mengatakan keselamatan relawan perlu menjadi prioritas. Api yang berada jauh dari permukiman diminta tidak langsung dikejar apabila upaya tersebut berisiko menguras tenaga. Pemadaman dapat difokuskan ketika api mulai mendekati kawasan permukiman.
Pemadaman Dilakukan Secara Swadaya
Dalam satu bulan terakhir, upaya pemadaman karhutla di wilayah Mentawa Baru Ketapang dilakukan dengan mengandalkan swadaya para relawan dan masyarakat. Kondisi itu terjadi karena dukungan peralatan dan kebutuhan operasional masih terbatas.
Persediaan air dan bahan bakar minyak (BBM) menjadi kendala terbesar dalam kegiatan pemadaman. Upaya menggerakkan masyarakat melalui rukun tetangga (RT) untuk membantu mengirimkan air juga belum berjalan optimal.
Pasalnya, banyak warga tidak memiliki kendaraan maupun sarana yang memadai untuk mengangkut air ke lokasi kebakaran. Keterbatasan tersebut membuat proses pemadaman berlangsung lebih sulit, terlebih ketika titik api berada jauh dari permukiman.
Pada Rabu (19/8), warga menerima bantuan BBM sebanyak 30 liter dari BPBD Kotawaringin Timur. Namun, jumlah tersebut dinilai belum mencukupi kebutuhan operasional pemadaman yang telah berlangsung selama lebih dari satu bulan.
Irpansyah menuturkan, khusus di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, masyarakat dan relawan selama ini masih mengandalkan kemampuan sendiri untuk menjalankan kegiatan pemadaman.
Kesimpulan
Rizky Mubarrak harus menjalani perawatan di IGD RSUD dr Murjani Sampit setelah mengalami sesak napas dan kelelahan saat membantu memadamkan karhutla di Kotawaringin Timur. Kondisinya kemudian disebut mulai stabil setelah mendapatkan penanganan medis.
Kasus tersebut menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi relawan dalam menangani karhutla, khususnya ketika asap tebal, keterbatasan air, akses sulit, dan minimnya BBM menghambat pemadaman. Di tengah karhutla yang masih meluas dari Desa Bapanggang hingga Kelurahan Pasir Putih, keselamatan relawan dan masyarakat perlu tetap diperhatikan. Upaya penanganan ke depan juga sangat bergantung pada dukungan sarana, air, serta kebutuhan operasional agar pemadaman dapat dilakukan secara lebih aman dan efektif.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment