Topan Dujuan Terjang Jepang, Empat Orang Tewas dan Puluhan Terluka

Topan Dujuan menerjang wilayah timur Jepang pada Senin (21/9), membawa hujan deras, tanah longsor, serta kerusakan di sejumlah daerah sekitar Tokyo. Bencana tersebut menyebabkan sedikitnya empat orang meninggal dunia dan 22 lainnya mengalami luka-luka. Dampak topan juga dirasakan melalui pemadaman listrik, kerusakan rumah, serta gangguan terhadap berbagai kegiatan di ibu kota Jepang.

Wilayah yang paling terdampak berada di Prefektur Chiba dan Prefektur Kanagawa. Kedua prefektur tersebut terletak tidak jauh dari Tokyo dan menjadi lokasi jatuhnya korban jiwa akibat terjangan badai. Pihak berwenang masih melakukan pencarian terhadap sejumlah orang yang dilaporkan hilang setelah tanah longsor terjadi di beberapa lokasi.

Empat Orang Meninggal Dunia akibat Topan

Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang melaporkan tiga orang tewas di Prefektur Chiba, sementara satu korban lainnya meninggal dunia di Prefektur Kanagawa. Selain korban jiwa, sebanyak 22 orang dilaporkan terluka akibat dampak topan Dujuan yang menyapu kawasan timur Jepang.

Tanah longsor menjadi salah satu ancaman utama dalam bencana ini. Hujan dengan intensitas tinggi membuat kondisi tanah di sejumlah wilayah menjadi labil dan meningkatkan risiko longsor. Operasi pencarian dan penanganan darurat masih berlangsung karena terdapat sejumlah orang yang belum ditemukan.

Ribuan Rumah di Chiba Terdampak

Selain menimbulkan korban jiwa, topan Dujuan juga mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan mengganggu aktivitas warga. Lebih dari 45 ribu rumah di Prefektur Chiba mengalami pemadaman listrik setelah topan menerjang wilayah tersebut.

Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada lebih dari 460 rumah. Angka tersebut menunjukkan besarnya dampak badai terhadap permukiman warga di kawasan sekitar Tokyo. Pemadaman listrik dan kerusakan bangunan menjadi tantangan tambahan bagi masyarakat serta petugas yang tengah menangani situasi darurat.

Peringatan Hujan Lebat Mulai Diturunkan

Pada Selasa (22/9) pagi, Topan Dujuan bergerak menjauhi pesisir Jepang menuju Samudra Pasifik. Seiring dengan pergerakan tersebut, pihak berwenang mencabut atau menurunkan level peringatan hujan lebat dan tanah longsor di sebagian besar wilayah.

Meski kekuatan topan telah melemah dan sistem badai bergerak ke arah timur laut, hujan akibat Dujuan masih terasa di sejumlah bagian Tokyo. Kondisi ini membuat kewaspadaan tetap diperlukan, terutama di wilayah yang sebelumnya telah diguyur hujan deras dan berpotensi mengalami longsor.

Curah Hujan Capai Rekor di Sejumlah Wilayah

Besarnya curah hujan yang dibawa Topan Dujuan terlihat dari catatan di beberapa daerah. Oshima, yang berjarak sekitar 120 kilometer dari pusat Tokyo, mencatat curah hujan sebesar 832 milimeter dalam 48 jam. Jumlah tersebut setara dengan dua kali rata-rata curah hujan bulanan di wilayah itu selama September.

Sementara itu, wilayah Edogawa di Tokyo mencatat curah hujan hingga 282,5 milimeter dalam kurun waktu 24 jam. Angka tersebut menjadi rekor baru untuk wilayah tersebut dan menggambarkan tingginya intensitas hujan yang terjadi selama topan melintas.

Aktivitas di Tokyo Ikut Terganggu

Terjangan Topan Dujuan turut memengaruhi kegiatan publik di ibu kota Jepang. Salah satu pameran video gim terbesar di dunia yang digelar di Tokyo terpaksa ditutup lebih awal. Keputusan tersebut diambil di tengah kondisi cuaca buruk dan potensi bahaya yang ditimbulkan oleh badai.

Jepang memang kerap dilanda topan kuat pada akhir musim panas dan awal musim gugur. Sejumlah badai yang muncul pada periode tersebut bahkan pernah mengganggu pertandingan Asian Games yang diselenggarakan di Negeri Sakura.

Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Hujan Lebat

Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia dapat memperburuk risiko hujan lebat. Atmosfer yang lebih hangat mampu menampung lebih banyak uap air, sehingga berpotensi menghasilkan hujan dengan intensitas lebih tinggi ketika kondisi badai terjadi.

Kesimpulan

Topan Dujuan menyebabkan sedikitnya empat orang tewas, 22 orang terluka, serta menimbulkan kerusakan dan pemadaman listrik di wilayah timur Jepang. Meskipun badai telah bergerak menjauhi pesisir menuju Samudra Pasifik dan peringatan cuaca di sejumlah daerah mulai diturunkan, operasi pencarian terhadap orang hilang dan penanganan dampak bencana masih berlanjut.

Catatan curah hujan ekstrem di Oshima dan Edogawa juga menunjukkan besarnya ancaman yang ditimbulkan oleh topan tersebut. Ke depan, perhatian utama akan tertuju pada proses pencarian korban, pemulihan wilayah terdampak, serta kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana lanjutan akibat tanah yang masih labil dan curah hujan yang tinggi.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment