Pelapor Khusus PBB Samakan Argumen Israel soal Anak Gaza dengan Dalih Nazi
Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk situasi hak asasi manusia di Palestina, Francesca Albanese, menyoroti alasan yang digunakan untuk membenarkan tindakan Israel di Jalur Gaza. Albanese menyamakan argumen tersebut dengan dalih yang pernah digunakan para pejabat Nazi untuk membenarkan pembunuhan anak-anak Yahudi dalam Holocaust pada masa Perang Dunia II.
Pernyataan Albanese disampaikan melalui unggahan di platform X pada Sabtu (19/9). Ia merespons pernyataan model Israel, Sarai Givaty, dalam wawancara dengan stasiun televisi berbahasa Ibrani, i24NEWS. Dalam wawancara itu, Givaty menyatakan bahwa dirinya tetap merasa sedih melihat penderitaan anak-anak Palestina. Namun, ia juga berpendapat bahwa anak-anak tersebut berpotensi tumbuh menjadi teroris apabila tidak ada tindakan terhadap mereka.
Pernyataan Sarai Givaty tentang Anak-Anak Palestina
Dalam wawancara tersebut, Givaty mengatakan bahwa rasa sedih terhadap anak-anak yang menderita merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Ia menegaskan bahwa dirinya turut merasakan kesedihan ketika melihat anak-anak Palestina menjadi korban konflik.
“Apakah mungkin bagi saya untuk tidak merasa sedih atas setiap anak yang menangis di dunia?” kata Givaty.
Meski demikian, ia kemudian menyampaikan alasan yang menjadi sorotan. Menurut Givaty, anak-anak tersebut dapat tumbuh menjadi teroris apabila tidak ada tindakan terhadap mereka sejak dini.
“Saya sedih. Tetapi saya juga menyadari bahwa jika kita tidak bertindak, anak ini akan tumbuh menjadi teroris,” lanjutnya.
Francesca Albanese Kaitkan Argumen dengan Holocaust
Albanese membagikan potongan wawancara tersebut melalui unggahannya di X. Ia kemudian mengkritik cara pandang yang menghubungkan anak-anak dengan potensi ancaman di masa depan sebagai pembenaran atas tindakan mematikan terhadap mereka.
Dalam tanggapannya, Albanese menulis bahwa pernyataan mengenai anak-anak yang kelak tumbuh dewasa juga pernah digunakan oleh pejabat Nazi dalam persidangan Nuremberg. Menurut Albanese, argumen tersebut dipakai untuk membenarkan pembunuhan anak-anak selama Holocaust.
“(Anak-anak akan tumbuh dewasa.) Ini juga merupakan argumen yang digunakan oleh para pejabat Nazi selama persidangan Nuremberg untuk membenarkan mengapa mereka membunuh anak-anak selama Holocaust,” tulis Albanese, seperti dikutip Middle East Monitor.
Pernyataan itu kembali menegaskan sikap kritis Albanese terhadap kebijakan dan operasi Israel di Jalur Gaza. Sepanjang perang Gaza, ia telah menyampaikan sejumlah laporan dan pernyataan yang mengecam tindakan Israel serta dampaknya terhadap warga Palestina.
Albanese Pernah Mendapat Tekanan dari Amerika Serikat
Sikap Albanese sebelumnya juga memicu tekanan dari Amerika Serikat (AS). Pada Juli 2025, Washington menjatuhkan sanksi terhadapnya. Sanksi tersebut berkaitan dengan upayanya mendorong Mahkamah Pidana Internasional mengambil tindakan terhadap pejabat, perusahaan, serta eksekutif dari AS dan Israel.
AS juga sebelumnya meminta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mencopot Albanese dari posisinya. Washington menuduh Albanese melakukan antisemitisme, tuduhan yang muncul di tengah kritik kerasnya terhadap tindakan Israel di Gaza.
Korban Anak di Gaza Melampaui 21.500 Jiwa
Di tengah perdebatan mengenai pernyataan tersebut, jumlah korban anak-anak di Gaza turut menjadi perhatian. Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa lebih dari 21.500 anak telah tewas sejak perang dimulai pada Oktober 2023.
Dalam pernyataannya, kantor tersebut mengatakan bahwa pendudukan terus menyebabkan jatuhnya korban dari kalangan warga sipil, terutama anak-anak. Mereka menyebut jumlah anak yang tewas sejak dimulainya perang pada 7 Oktober 2023 telah melampaui 21.500 jiwa per 24 Agustus.
Kantor Media Pemerintah Gaza menggambarkan angka tersebut sebagai korban yang sangat besar. Mereka juga menyebut kondisi itu sebagai gambaran dari kebrutalan kejahatan terorganisasi.
Kesimpulan
Pernyataan Francesca Albanese menempatkan kembali isu perlindungan anak dalam sorotan konflik Gaza. Ia menolak argumen yang menjadikan kemungkinan perilaku seseorang di masa depan sebagai alasan untuk membenarkan kematian anak-anak saat ini. Perbandingan yang dibuatnya dengan argumen pejabat Nazi dalam persidangan Nuremberg menunjukkan kerasnya kritik terhadap pembenaran kekerasan dalam konflik.
Dengan jumlah korban anak yang dilaporkan telah melampaui 21.500 jiwa, perdebatan mengenai tindakan Israel di Gaza diperkirakan tetap menjadi perhatian dalam isu hak asasi manusia internasional. Pernyataan Albanese, laporan mengenai korban, serta respons dari pihak-pihak terkait akan terus membentuk pembahasan mengenai pertanggungjawaban dan perlindungan warga sipil di Palestina.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment