BMKG Ungkap Bantul Catat Hari Tanpa Hujan Terpanjang Selama El Nino 2026
JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sebagai wilayah dengan durasi Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang di Indonesia selama periode El Nino 2026. Berdasarkan pemantauan BMKG, Bantul telah mengalami kondisi tanpa hujan selama 131 hari atau lebih dari empat bulan.
Fenomena tersebut menjadi salah satu gambaran dampak kekeringan meteorologis ekstrem yang meluas di sejumlah wilayah Indonesia. BMKG menyebut periode tanpa hujan dengan durasi panjang kini telah terjadi di pos-pos pengamatan iklim yang tersebar di 25 provinsi.
Bantul Catat 131 Hari Tanpa Hujan
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan banyak lokasi pengamatan melaporkan Hari Tanpa Hujan secara berurutan selama lebih dari 60 hari. Namun, rekor terpanjang saat ini tercatat di Kabupaten Bantul dengan durasi mencapai 131 hari.
“Banyak lokasi pengamatan melaporkan HTH berurutan lebih dari 60 hari. Rekor HTH terpanjang saat ini berada di wilayah Bantul yaitu sepanjang 131 hari,” ujar Ardhasena dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/9), sebagaimana dikutip dari Antara.
Catatan tersebut menunjukkan kuatnya tekanan kekeringan yang terjadi selama El Nino 2026. Tidak turunnya hujan selama lebih dari empat bulan membuat Bantul menjadi wilayah dengan periode HTH terpanjang yang dipantau BMKG di Indonesia.
El Nino Sangat Kuat Picu Kekeringan Meluas
Menurut BMKG, meluasnya periode tanpa hujan dipengaruhi oleh fenomena El Nino dalam kategori sangat kuat yang berlangsung di Samudra Pasifik. Salah satu indikatornya terlihat dari anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 pada periode Juli hingga September 2026 yang mencapai angka plus 2,63.
Kondisi El Nino tersebut berdampak langsung terhadap 556 Zona Musim (ZOM). Jumlah itu setara dengan 61,91 persen luas daratan Indonesia yang masih mengalami musim kemarau panjang.
Sejumlah Zona Musim Basah Berubah Mengalami Kemarau
Tekanan iklim akibat El Nino 2026 juga memengaruhi wilayah yang biasanya memiliki karakteristik basah sepanjang tahun. BMKG mencatat sebanyak 98 dari total 110 ZOM yang berkategori basah sepanjang tahun berbalik mengalami kemarau.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa dampak El Nino tidak hanya dirasakan di wilayah yang secara umum memiliki musim kemarau, tetapi juga menjangkau daerah-daerah yang biasanya tetap basah sepanjang tahun. Situasi ini turut memperluas wilayah yang menghadapi periode tanpa hujan dalam waktu panjang.
Awal Musim Hujan Diprediksi Berlangsung Bertahap
BMKG memproyeksikan fenomena El Nino masih bertahan hingga kuartal pertama 2027. Meski demikian, dampak kekeringan ekstrem di berbagai wilayah Indonesia diperkirakan mulai berangsur mereda seiring datangnya awal musim hujan secara bertahap.
Ardhasena menjelaskan, awal musim hujan diperkirakan dimulai pada November 2026. Pada periode tersebut, sebanyak 185 ZOM atau 24,66 persen luas daratan Indonesia diprediksi mulai memasuki musim hujan.
Selanjutnya, pada Desember 2026, awal musim hujan diperkirakan meluas ke 266 ZOM atau sekitar 17,31 persen luas daratan Indonesia. Perkembangan ini menunjukkan bahwa masuknya musim hujan tidak terjadi secara serentak di seluruh wilayah.
Curah Hujan Diprediksi Berada pada Kategori Normal
Meskipun awal musim hujan diperkirakan datang terlambat, BMKG memprediksi akumulasi curah hujan pada 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan Indonesia berada dalam kategori normal.
Untuk puncak musim hujan, BMKG memperkirakan waktunya akan berlangsung secara bergelombang. Puncak musim hujan pada Desember 2026 diprediksi terjadi di 155 ZOM atau 36,94 persen daratan Indonesia.
Selanjutnya, puncak musim hujan pada Januari 2027 diperkirakan berlangsung di 162 ZOM atau 25,68 persen daratan. Sementara itu, pada Februari 2027, puncak musim hujan diproyeksikan terjadi di 190 ZOM atau 16,79 persen daratan Indonesia.
Kesimpulan
Kabupaten Bantul menjadi wilayah dengan Hari Tanpa Hujan terpanjang selama El Nino 2026, yakni mencapai 131 hari. BMKG menyebut kekeringan meteorologis ekstrem telah meluas ke pos pengamatan iklim di 25 provinsi, dengan 556 ZOM masih mengalami kemarau panjang.
El Nino yang diproyeksikan bertahan hingga kuartal pertama 2027 membuat kondisi kekeringan masih perlu dicermati. Namun, BMKG memperkirakan dampaknya berangsur mereda setelah awal musim hujan datang secara bertahap mulai November 2026. Puncak musim hujan kemudian diprediksi berlangsung bergelombang hingga Februari 2027, sementara sebagian besar wilayah diperkirakan memperoleh akumulasi curah hujan dalam kategori normal.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment