Bagas Maulana/Apriyani Rahayu Mulai Perburuan Poin dari Nol di Ganda Campuran

Pasangan baru Bagas Maulana dan Apriyani Rahayu harus memulai kembali perburuan poin ranking dunia dari nol setelah resmi beralih ke sektor ganda campuran. Perubahan nomor pertandingan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi keduanya karena poin yang telah dikumpulkan saat tampil di sektor sebelumnya tidak dapat dibawa ke nomor baru.

Bagas sebelumnya dikenal sebagai pemain ganda putra, sedangkan Apriyani lebih lama berkiprah di nomor ganda putri. Setelah dipasangkan untuk bermain di ganda campuran, keduanya perlu membangun kembali perolehan poin melalui hasil pertandingan mereka bersama.

Poin Ranking BWF Tidak Bisa Dibawa ke Sektor Baru

Sistem ranking Badminton World Federation atau BWF melekat pada kombinasi pasangan dan nomor pertandingan. Artinya, poin yang dimiliki seorang pemain tidak otomatis mengikuti ketika ia berganti pasangan atau berpindah sektor.

Dengan demikian, poin yang sebelumnya dikoleksi Bagas di ganda putra dan Apriyani di ganda putri tidak dapat digunakan untuk memperkuat posisi mereka di ganda campuran. Bagas dan Apriyani harus mengawali perjalanan baru dengan mengumpulkan poin secara bertahap dari hasil pertandingan sebagai pasangan.

Apriyani menyadari bahwa situasi tersebut membuat mereka harus bekerja lebih keras. Ia menilai hasil pertandingan yang diraih di awal perjalanan akan sangat penting karena menjadi modal utama untuk membangun peringkat mereka di sektor ganda campuran.

“Karena poin kami di ganda campuran enggak ada. Jadi memang kami harus ekstra banget. Saya dan Bagas juga begitu. Memang harus benar-benar hasilnya yang bagus banget, bukan bagus doang, tapi bagus banget, karena itu modal buat poin kita,” ujar Apriyani saat ditemui di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (16/9).

Bagas juga memahami bahwa proses mengumpulkan poin membutuhkan perjuangan lebih besar. Ia menegaskan bahwa upaya tersebut bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga berkaitan dengan perjuangan membela Indonesia di arena bulu tangkis.

“Untuk tahun depan, kami harus berjuang lebih keras, karena ini demi Indonesia juga,” kata Bagas.

Senior, tetapi Tidak Merasa Terbebani

Meskipun harus memulai dari awal dan berstatus sebagai pemain senior, Bagas dan Apriyani tidak menganggap kondisi tersebut sebagai beban. Keduanya justru melihat perpindahan ke ganda campuran sebagai kesempatan untuk menghadapi tantangan baru sekaligus mempelajari hal-hal berbeda dalam permainan.

Apriyani menyebut perubahan ini sebagai pengalaman baru yang masih ingin dijalaninya. Keinginan untuk terus belajar menjadi salah satu alasan dirinya menerima tantangan bermain bersama Bagas di sektor ganda campuran.

“Ini perubahan baru, tantangan baru. Jadi, kenapa aku enggak ambil? Karena aku merasa aku masih bisa. Aku juga masih mau banget belajar lagi,” ucap Apriyani.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Apriyani tidak ingin terjebak pada pencapaian atau kematangan yang telah diraih di sektor sebelumnya. Perpindahan nomor pertandingan membuatnya harus kembali menyesuaikan diri dengan pola permainan ganda campuran.

Bagas pun memiliki pandangan serupa. Menurut dia, pengalaman dan kematangan yang telah dimiliki di sektor sebelumnya tidak bisa menjadi satu-satunya pegangan. Mereka perlu membangun kembali pola pikir serta perjalanan sebagai pasangan baru.

“Sebenarnya kalau dilihat dari sektor sebelumnya memang sudah matang, cuma kita harus kembali lagi berpikir jangan seperti itu. Ini sebenarnya enggak apa-apa, memang sudah jalannya buat kita,” tutur Bagas.

Debut di Surabaya International Challenge 2026

Bagas dan Apriyani baru menjalani lima hari latihan sejak dipasangkan oleh pelatih Nova Widianto. Waktu persiapan yang singkat membuat keduanya masih berada dalam tahap membangun chemistry, memahami karakter permainan masing-masing, serta menyesuaikan diri dengan tuntutan di sektor ganda campuran.

Debut pasangan baru ini dijadwalkan berlangsung di turnamen Surabaya International Challenge 2026. Kompetisi tersebut akan digelar pada 22-27 September mendatang. Turnamen itu menjadi kesempatan awal bagi Bagas dan Apriyani untuk tampil bersama sekaligus mulai mengumpulkan poin ranking BWF.

Kesimpulan

Peralihan Bagas Maulana dan Apriyani Rahayu ke sektor ganda campuran membuat keduanya harus membangun kembali perolehan poin dari nol. Sistem ranking BWF yang melekat pada kombinasi pasangan dan nomor pertandingan menyebabkan poin mereka di ganda putra maupun ganda putri tidak dapat digunakan di sektor baru.

Meski menghadapi tantangan besar, Bagas dan Apriyani tidak merasa terbebani. Keduanya memandang perubahan ini sebagai kesempatan baru untuk belajar dan berkembang. Dengan persiapan yang masih singkat, debut di Surabaya International Challenge 2026 akan menjadi langkah awal bagi pasangan tersebut dalam membangun perjalanan baru di ganda campuran.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment