Bilal Hasan Menang KO dalam Debut UFC, Fransino Tirta Soroti Proses Ujiannya

Bilal Hasan mencatatkan debut gemilang di Ultimate Fighting Championship (UFC) setelah mengalahkan Nilson Rojas melalui kemenangan knockout (KO) dalam ajang UFC Shanghai. Penampilan tersebut langsung mendapat perhatian dari praktisi mixed martial arts (MMA) sekaligus CEO One Pride MMA, Fransino Tirta.

Menurut Fransino, keberhasilan Bilal menembus UFC dalam waktu singkat merupakan bagian dari proses seleksi ketat yang dilakukan organisasi tersebut. Bilal hanya membutuhkan waktu 18 hari sejak meraih kemenangan di Dana White Contender Series (DWCS) hingga tampil di octagon UFC untuk menghadapi Rojas.

Bilal Hasan Langsung Mendapat Ujian Berat

Fransino menilai cepatnya Bilal mendapatkan kesempatan bertanding di UFC tidak serta-merta menunjukkan bahwa organisasi tersebut telah menetapkannya sebagai calon bintang utama. UFC disebut memiliki banyak petarung yang sudah berstatus bintang, sehingga peluang untuk membentuk figur baru tetap harus melalui proses penilaian yang ketat.

Dalam pandangan Fransino, pertarungan melawan Rojas merupakan pertemuan antara dua prospek muda yang sama-sama menjanjikan. Keduanya memiliki catatan tidak terkalahkan sebelum laga tersebut dan dianggap mempunyai potensi untuk berkembang di level UFC.

“Ini bisa dibilang yang jago ketemu jago. Dua-duanya sama-sama potensi, dua-duanya sama-sama tak terkalahkan, dua-duanya masih muda. Tapi hot prospect ini langsung diadu, mana yang benar-benar hot prospect, mana yang nggak,” kata Fransino.

Ia menilai UFC sengaja mempertemukan Bilal dan Rojas untuk menyaring calon bintang baru. Dengan menghadapi lawan yang memiliki level serta status prospek yang relatif setara, kualitas masing-masing petarung dapat terlihat secara lebih jelas.

Trial by Fire untuk Calon Bintang UFC

Fransino menyebut langkah UFC tersebut sebagai trial by fire atau ujian berat sejak awal. Menurutnya, terdapat banyak petarung lain yang masih menunggu kesempatan untuk tampil dan membuktikan kemampuan mereka di panggung UFC.

Karena itu, seorang petarung tidak cukup hanya memiliki potensi. Mereka juga harus mampu menunjukkan performa ketika langsung dihadapkan pada lawan yang tangguh. Hasil pertarungan seperti ini dapat menjadi penentu apakah seorang prospek layak terus didorong atau justru harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan kesempatan berikutnya.

“Langsung diuji coba, lolos atau tidak, langsung ketahuan mana yang bakal bersinar, mana yang langsung redup. Karena mungkin masih ada puluhan atau belasan lagi yang antre untuk menjadi bintang UFC berikutnya,” ujar Fransino.

Pernyataan tersebut menggambarkan ketatnya persaingan di UFC. Setiap petarung yang masuk ke organisasi itu harus siap menghadapi tantangan besar, terlebih ketika langsung dipertemukan dengan lawan yang juga memiliki rekor serta prospek menjanjikan.

Menang KO dan Raih Performance of the Night

Bilal berhasil menjawab tantangan tersebut dengan hasil meyakinkan. Ia menuntaskan pertarungan melawan Rojas melalui kemenangan KO dalam debutnya di UFC Shanghai. Performa impresif itu juga membuat Bilal mendapatkan penghargaan Performance of the Night.

Kemenangan atas Rojas turut memperpanjang catatan positif Bilal sepanjang kariernya. Sebelum tampil di UFC, ia telah membukukan sembilan kemenangan dan satu hasil no contest dari total 10 penampilan di atas matras.

Hasil tersebut menjadi modal penting bagi Bilal untuk melanjutkan perjalanan di UFC. Namun, Fransino mengingatkan bahwa satu kemenangan belum cukup untuk menempatkan seorang petarung sebagai kontender serius perebutan gelar juara.

Masih Harus Menapaki Ranking UFC

Fransino menilai Bilal masih perlu menjalani proses panjang sebelum benar-benar diperhitungkan dalam persaingan gelar. Setelah memenangi debut, sang petarung harus lebih dulu menaiki peringkat UFC secara bertahap.

“Kalau sekarang ini saya rasa belum bisa dia disebut sebagai kontender yang serius. Dia baru memenangkan debut. Tentunya dia harus menaiki ranking, mungkin sekarang ini masuk ke 20 besar atau bahkan 30 besar,” ungkap Fransino.

Menurutnya, status sebagai kontender serius baru layak disematkan ketika Bilal mampu menembus jajaran 10 besar ranking UFC. Untuk mencapai tahap tersebut, Bilal diperkirakan akan menghadapi lawan dengan gaya bertarung dan teknik yang semakin beragam.

Tantangan Lebih Kompleks Menanti Bilal

Fransino memperkirakan Bilal membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga tahun untuk berkembang hingga menjadi kontender. Perkiraan itu berkaitan dengan perjalanan panjang yang harus dilalui, termasuk menghadapi petarung-petarung dengan kemampuan yang lebih bervariasi.

Meski demikian, kemenangan KO dalam debut serta penghargaan Performance of the Night menjadi awal yang sangat positif. Bilal telah melewati ujian pertamanya dengan baik, tetapi konsistensi dalam pertandingan-pertandingan berikutnya akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kariernya di UFC.

Kesimpulan

Debut Bilal Hasan di UFC berlangsung gemilang setelah ia mengalahkan Nilson Rojas melalui KO dan meraih penghargaan Performance of the Night. Fransino Tirta menilai pertarungan tersebut merupakan ujian langsung bagi dua prospek muda yang sama-sama tidak terkalahkan sebelum laga.

Walaupun hasil debutnya sangat menjanjikan, Bilal belum dapat disebut sebagai kontender serius. Ia masih harus menapaki ranking UFC secara bertahap dan menghadapi tantangan dengan teknik yang lebih beragam. Jika mampu menjaga konsistensi, perjalanan dua hingga tiga tahun ke depan akan menjadi periode penting bagi Bilal untuk membuktikan apakah dirinya dapat menembus jajaran 10 besar UFC.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment