Granit Xhaka Terancam Hukuman Penjara atas Kasus Sertifikat Vaksin Covid-19 Palsu

Granit Xhaka menghadapi penyelidikan hukum di Swiss setelah mengakui pernah menggunakan sertifikat vaksin Covid-19 palsu saat masih memperkuat Arsenal. Pengakuan tersebut berkaitan dengan kejadian pada 2022, ketika sertifikat vaksin menjadi salah satu syarat yang berlaku bagi pemain yang tampil di Liga Inggris.

Pihak berwenang Swiss kini tengah mendalami dugaan pelanggaran yang dilakukan Xhaka. Jika proses hukum memutuskan dirinya bersalah, kapten Sunderland tersebut berpotensi menghadapi denda dalam jumlah besar atau hukuman penjara maksimal lima tahun.

Xhaka Dijadwalkan Memberikan Keterangan

Dilansir dari Daily Mail, Xhaka dijadwalkan memberikan keterangan kepada pihak berwenang di Swiss pada Oktober mendatang. Pemanggilan tersebut menjadi bagian dari proses penyelidikan terhadap penggunaan sertifikat vaksin Covid-19 palsu yang diakuinya.

Belum ada keputusan akhir terkait status hukum Xhaka dalam perkara tersebut. Otoritas Swiss masih melakukan pemeriksaan untuk menentukan bentuk pelanggaran serta konsekuensi hukum yang mungkin diterapkan.

Kasus ini kembali menjadi perhatian setelah Xhaka menyampaikan pengakuan secara terbuka melalui pernyataan di akun Instagram miliknya. Ia menjelaskan alasan yang melatarbelakangi tindakannya pada saat itu.

Pengakuan Xhaka soal Sertifikat Vaksin Palsu

Xhaka mengakui bahwa dirinya memiliki keraguan dan kekhawatiran serius terhadap vaksin Covid-19. Pemain berusia 33 tahun itu mengatakan tidak mempercayai vaksin tersebut ketika aturan vaksinasi masih berlaku bagi pemain yang berkompetisi di Liga Inggris.

Pada masa itu, sertifikat Covid-19 juga dapat membantu memperpendek masa karantina setelah seseorang melakukan perjalanan. Kondisi tersebut membuat sertifikat vaksin menjadi dokumen penting bagi pemain yang harus bepergian untuk menjalani pertandingan maupun kegiatan bersama klub.

Dalam pernyataan yang diunggah melalui Instagram pada Senin (21/9), Xhaka menyebut dirinya ingin memberikan tanggapan pribadi mengenai pemberitaan yang kembali membahas kejadian tersebut.

“Terkait vaksinasi Covid-19, secara pribadi saya merasa sangat ragu dan memiliki kekhawatiran serius pada saat itu,” ujar Xhaka dalam pernyataannya.

Ia kemudian mengakui bahwa rasa takut dan ketidakpastian membuatnya mengambil keputusan yang keliru. Alih-alih mencari jawaban atas pertanyaan dan keraguannya melalui saluran yang semestinya, Xhaka memilih memperoleh sertifikat vaksinasi palsu.

“Saya merasa sangat tidak percaya terhadap vaksin tersebut dan didera rasa takut serta ketidakpastian. Dalam kondisi emosional yang kacau itu, saya justru memperoleh sertifikat vaksinasi palsu alih-alih mencari kejelasan atas pertanyaan-pertanyaan saya melalui saluran yang semestinya,” tutur Xhaka.

Meminta Maaf atas Kesalahan Masa Lalu

Xhaka menyadari bahwa tindakannya tersebut merupakan sebuah kesalahan. Ia mengakui kealpaannya dan menyampaikan permintaan maaf atas keputusan yang diambilnya pada 2022.

“Kini saya menyadari sepenuhnya bahwa tindakan tersebut bukanlah langkah yang tepat. Ini adalah sebuah kesalahan. Saya memohon maaf,” kata Xhaka.

Pengakuan tersebut berpotensi menjadi bagian penting dalam proses pemeriksaan yang dilakukan oleh otoritas Swiss. Namun, keputusan mengenai ada atau tidaknya pelanggaran serta hukuman yang mungkin dijatuhkan tetap berada di tangan pihak berwenang setelah seluruh proses penyelidikan selesai.

Menanti Proses Hukum di Swiss

Saat ini, perhatian tertuju pada agenda pemeriksaan Xhaka yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang. Keterangan dari pemain yang pernah memperkuat Arsenal itu akan menjadi salah satu bagian dari proses yang sedang berjalan.

Ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara maupun denda besar masih bersifat kemungkinan karena Xhaka belum dinyatakan bersalah. Proses hukum di Swiss akan menentukan bagaimana perkara tersebut ditangani berdasarkan informasi dan bukti yang tersedia.

Kesimpulan

Granit Xhaka terancam menghadapi konsekuensi hukum setelah mengakui penggunaan sertifikat vaksin Covid-19 palsu pada 2022. Ia menyebut keputusan tersebut diambil ketika dirinya diliputi keraguan, ketakutan, dan ketidakpastian terhadap vaksin Covid-19. Xhaka telah mengakui kesalahannya serta menyampaikan permintaan maaf.

Ke depan, proses pemeriksaan oleh pihak berwenang Swiss akan menjadi penentu nasib hukum pemain yang kini menjabat kapten Sunderland tersebut. Hingga keputusan resmi diterbitkan, status Xhaka masih berada dalam tahap penyelidikan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment