Menjelang 10 Tahun, Aliansi Nissan-Mitsubishi Dinilai Minim Sinergi dan Berpotensi Diperluas

Aliansi antara Nissan dan Mitsubishi Motors dinilai belum menghasilkan sinergi yang cukup kuat menjelang satu dekade kerja sama. Penilaian tersebut muncul ketika Mitsubishi menghadapi tekanan besar dari produsen otomotif China di Asia Tenggara, salah satu kawasan penting bagi perusahaan sejak 2000-an.

Di tengah kondisi itu, berakhirnya masa penguncian atau lockup saham Nissan di Mitsubishi pada Oktober memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan masuknya mitra modal baru. Sejumlah nama mulai dikaitkan dengan peluang tersebut, termasuk Honda dan Foxconn.

Awal Aliansi Nissan dan Mitsubishi

Nissan, di bawah kepemimpinan Chairman Carlos Ghosn, membeli 34 persen saham Mitsubishi Motors pada Oktober 2016. Nilai transaksi tersebut mencapai sekitar 240 miliar yen atau setara Rp26,64 triliun dengan asumsi nilai tukar Rp111 per yen.

Investasi itu sebagian berfungsi sebagai langkah penyelamatan bagi Mitsubishi. Saat itu, perusahaan tengah kehilangan kepercayaan konsumen setelah tersandung skandal data efisiensi bahan bakar. Masuknya Nissan diharapkan dapat memperkuat posisi Mitsubishi sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas di antara kedua perusahaan.

Namun, setelah hampir sepuluh tahun berjalan, hasil aliansi tersebut dinilai belum sebanding dengan harapan. Kerja sama yang telah dilakukan memang menghasilkan sejumlah produk, tetapi dampaknya terhadap kinerja keuangan kedua perusahaan masih terbatas.

Produk Bersama Belum Cukup Mendongkrak Laba

Sinergi Nissan dan Mitsubishi sempat terlihat melalui pengembangan sejumlah kendaraan. Mobil listrik berukuran kecil atau kei car Nissan Sakura dan Mitsubishi eK X EV disebut mencatat penjualan yang baik. Selain itu, Mitsubishi Outlander dan Nissan X-Trail dikembangkan menggunakan platform bersama.

Meski demikian, Koji Endo, Chief Executive Analyst SBI Securities, menilai kerja sama tersebut belum cukup untuk menopang laba kedua perusahaan. Pernyataan itu dikutip oleh Nikkei Asia pada Kamis (27/8).

Nikkei mengukur efektivitas investasi Mitsubishi dengan membandingkan total laba operasional selama lima tahun hingga tahun fiskal 2025 dengan belanja riset dan pengembangan selama lima tahun sebelumnya. Hasilnya, rasio tersebut berada di angka 1,3, turun tajam dibandingkan 3,3 satu dekade sebelumnya. Tahun fiskal 2025 di Jepang berakhir pada Maret 2026.

Performa Mitsubishi juga tertinggal dibandingkan sejumlah pabrikan Jepang lain yang memiliki kemitraan dengan Toyota. Suzuki mencatat rasio 3,2, sedangkan Subaru berada di angka 2,3 untuk periode hingga tahun fiskal 2025.

Berbagi Komponen dan Pengadaan Dinilai Terbatas

Seiji Sugiura, Senior Analyst Tokai Tokyo Intelligence Laboratory, mengatakan Nissan dan Mitsubishi belum membuat kemajuan berarti dalam berbagi komponen serta pengadaan. Menurut dia, investasi tersebut tampaknya lebih banyak didorong oleh Carlos Ghosn, tanpa pembahasan mendalam mengenai bentuk kerja sama yang dapat dikembangkan.

Bagi Nissan, hubungan dengan Mitsubishi diperkirakan hanya menyumbang sekitar 1 persen dari total laba sebelum pajak selama sepuluh tahun terakhir. Angka tersebut menunjukkan bahwa kontribusi aliansi terhadap kinerja Nissan relatif kecil.

Tekanan Bisnis Menghantam Kedua Perusahaan

Mitsubishi kini menghadapi persaingan yang semakin ketat dari produsen otomotif China di Asia Tenggara. Persaingan tersebut menjadi tantangan serius karena kawasan ini telah digarap Mitsubishi secara intensif sejak 2000-an. Perusahaan juga terdampak tarif Amerika Serikat dan konflik di Timur Tengah.

Di sisi lain, Nissan mencatat rugi bersih tahunan untuk kedua kalinya secara berturut-turut pada tahun fiskal 2025. Kinerja tersebut terjadi ketika penjualan di Amerika Utara melemah dan perusahaan sedang menjalankan proses restrukturisasi.

Tekanan pasar turut tercermin pada nilai Mitsubishi. Kapitalisasi pasar perusahaan tercatat merosot sekitar 40 persen sejak Oktober 2016. Koji Endo memperingatkan bahwa mempertahankan strategi yang sama tidak akan menghasilkan teknologi maupun model bisnis baru.

Peluang Masuknya Honda dan Foxconn

Nissan bersama tiga perusahaan dalam grup Mitsubishi, termasuk Mitsubishi Corp., menguasai total 51 persen saham Mitsubishi Motors. Hubungan permodalan tersebut diperkirakan belum akan berubah dalam waktu dekat, meskipun beredar rumor bahwa Nissan dapat melepas sebagian kepemilikannya.

Salah satu opsi yang menjadi perhatian adalah kemungkinan masuknya Honda. Langkah tersebut dapat membentuk aliansi tiga arah antara Honda, Nissan, dan Mitsubishi. Kekuatan Mitsubishi di segmen pikap dinilai menjadi daya tarik tersendiri bagi Honda. Saat ini, Honda juga tengah berdiskusi dengan Nissan mengenai software-defined vehicle.

Nama lain yang turut mencuat adalah Foxconn. Mitsubishi sebelumnya menyatakan akan membeli satu mobil listrik yang dikembangkan oleh unit Foxconn. Kendaraan tersebut direncanakan mulai dijual di Australia dan Selandia Baru paling cepat tahun ini.

Seiji Sugiura bahkan melihat kemungkinan terbentuknya aliansi tiga perusahaan yang melibatkan Mitsubishi Motors, Foxconn, dan Honda. Menurutnya, Honda telah mulai meninggalkan prinsip untuk berjalan sendiri, sehingga peluang kerja sama yang lebih luas dapat terbuka.

Kesimpulan

Aliansi Nissan dan Mitsubishi telah menghasilkan beberapa produk bersama, tetapi belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap laba maupun efisiensi investasi. Keterbatasan dalam berbagi komponen dan pengadaan menjadi salah satu faktor yang membuat sinergi keduanya dinilai belum optimal.

Berakhirnya masa lockup saham Nissan pada Oktober dapat menjadi momentum penting bagi arah hubungan kedua perusahaan. Meski struktur kepemilikan diperkirakan tidak berubah dalam waktu dekat, spekulasi mengenai masuknya Honda atau Foxconn menunjukkan bahwa Mitsubishi dan Nissan membutuhkan pendekatan baru. Ke depan, kemampuan mereka membangun teknologi, model bisnis, serta kerja sama yang lebih terintegrasi akan menjadi penentu keberlanjutan aliansi tersebut.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment