5.012 Gempa Susulan Guncang Flores, BMKG Ungkap Penyebab dan Perkiraan Durasi

Gempa bumi susulan setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih terus terjadi hingga Sabtu (22/8). Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebanyak 5.012 gempa susulan tercatat hingga pukul 05.00 WIB.

Dari ribuan gempa tersebut, magnitudo terbesar mencapai 6,2. BMKG juga mencatat 31 gempa memiliki magnitudo di atas 5, sedangkan 124 gempa dirasakan oleh masyarakat. Adapun gempa dengan magnitudo terkecil tercatat sebesar 1,1.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengenai alasan gempa susulan masih terjadi dalam jumlah besar setelah gempa utama. Menurut Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono, rangkaian gempa tersebut merupakan bagian dari proses alamiah bumi dalam menyesuaikan diri dan mencapai keseimbangan baru.

Gempa Susulan Merupakan Proses Penyesuaian Kerak Bumi

Daryono menjelaskan, gempa utama terjadi ketika energi yang terkumpul pada retakan batuan atau patahan telah melampaui batas elastisitasnya. Dalam kondisi tersebut, batuan mengalami patahan dan bergeser secara tiba-tiba sehingga menghasilkan guncangan kuat.

Namun, patahan yang mengalami robekan besar tidak langsung berada dalam kondisi stabil setelah gempa utama berlangsung. Pada bidang rekahan masih terdapat titik-titik tegangan yang dapat memicu pergeseran batuan di sekitarnya.

“Gempa susulan pada hakikatnya adalah penyesuaian mekanis mikro saat batuan di sekitar bidang patahan tersebut bergeser perlahan untuk mencari posisi kestabilan baru,” kata Daryono.

Dengan demikian, gempa susulan dapat muncul berulang kali karena batuan di sekitar patahan masih melakukan penyesuaian. Fenomena ini dikenal dalam kajian kebumian melalui Hukum Omori-Utsu.

Frekuensi Gempa Susulan Berangsur Menurun

Hukum Omori-Utsu menjelaskan bahwa frekuensi gempa susulan umumnya menurun seiring berjalannya waktu. Jumlah gempa susulan biasanya paling banyak terjadi pada hari-hari awal setelah gempa utama, kemudian berangsur-angsur meluruh.

Meski frekuensinya menurun, satu atau dua gempa susulan tetap dapat memiliki magnitudo yang cukup besar. Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama karena bangunan yang telah terdampak gempa utama bisa mengalami pelemahan struktur.

Daryono juga menjelaskan bahwa gempa utama dapat memindahkan tekanan yang sebelumnya terkumpul di satu titik ke wilayah batuan di sekitarnya. Proses ini dikenal sebagai redistribusi tegangan atau Coulomb stress change.

“Pelepasan tekanan masif tersebut justru memindahkan sebagian tegangan sisa (Coulomb stress) ke area batuan di sekitarnya,” ujarnya.

Rangkaian gempa susulan, menurut Daryono, bukan berarti tekanan di wilayah tersebut terus bertambah. Sebaliknya, gempa-gempa itu menjadi bagian dari mekanisme kerak bumi untuk mengurai sisa tegangan dan bergerak menuju kondisi yang lebih stabil.

Perbedaan Foreshock, Mainshock, dan Aftershock

Dalam satu kluster patahan, gempa pembuka atau foreshock, gempa utama atau mainshock, serta gempa susulan atau aftershock dibedakan berdasarkan urutan waktu, lokasi, dan magnitudo relatif.

Status sebuah gempa juga dapat berubah setelah terjadi gempa lain yang lebih besar di kawasan patahan yang sama. Gempa yang semula disebut sebagai gempa utama dapat dikategorikan sebagai foreshock apabila kemudian terjadi gempa dengan kekuatan lebih besar.

“Penentuan status ini selalu bersifat retrospektif atau hanya bisa dipastikan setelah peristiwa berlalu,” kata Daryono.

Untuk menentukan apakah suatu gempa termasuk gempa susulan, seismolog mempertimbangkan sejumlah parameter. Di antaranya adalah lokasi gempa yang masih berada di zona patahan gempa utama serta pola kemunculannya yang mengikuti proses peluruhan energi.

Hukum Båth tentang Magnitudo Gempa Susulan

Selain Hukum Omori-Utsu, terdapat pula Hukum Båth. Hukum tersebut menyatakan bahwa gempa susulan terbesar umumnya memiliki magnitudo sekitar 1,2 tingkat lebih kecil dibandingkan gempa utama.

Daryono menegaskan bahwa gempa susulan merupakan konsekuensi mekanis yang lazim terjadi setelah gempa kuat. Proses ini dapat berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, seiring batuan secara bertahap mencapai keseimbangan baru.

BMKG Perkirakan Gempa Susulan Berlangsung 3-4 Minggu

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengungkapkan bahwa rentetan gempa susulan di Flores masih dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Berdasarkan data sementara, aktivitas tersebut diperkirakan berakhir dalam tiga hingga empat minggu.

“Berdasarkan data sementara gempa susulan ini akan berakhir 3-4 minggu ke depan,” kata Wijayanto dalam keterangan tertulis pada Selasa (18/8).

Gempa utama di Flores terjadi pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB dengan parameter pemutakhiran magnitudo 7,7. Gempa dangkal tersebut disebabkan oleh aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault, serta berdampak pada munculnya tsunami di wilayah sekitarnya.

BMKG sebelumnya telah mengirimkan Peringatan Dini 1 dalam waktu 2 menit 16 detik setelah gempa terjadi. Peringatan tersebut memuat status ancaman Siaga dengan ketinggian 0,5 hingga 3 meter dan Waspada untuk ancaman kurang dari 0,5 meter.

Kesimpulan

Ribuan gempa susulan yang terjadi di Flores merupakan bagian dari proses alamiah kerak bumi untuk menyesuaikan diri setelah gempa utama berkekuatan M7,7. Walaupun frekuensinya diperkirakan menurun, gempa dengan magnitudo cukup besar masih mungkin terjadi dan dapat membahayakan bangunan yang telah mengalami kerusakan.

BMKG memperkirakan rangkaian gempa susulan tersebut dapat berlangsung hingga tiga atau empat minggu ke depan. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan aktivitas gempa.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment