BMKG: Cuaca Laut Jawa Normal Saat KM Virgo Transport 8 Tenggelam

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan kondisi cuaca di sekitar lokasi tenggelamnya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa tidak menunjukkan adanya fenomena ekstrem pada Minggu (13/9). Berdasarkan pemantauan satelit dan analisis pemodelan cuaca, kondisi langit saat kejadian terpantau cerah hingga berawan.

KM Virgo Transport 8 sebelumnya dilaporkan hilang kontak saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal tersebut berangkat pada Sabtu (12/9) dan membawa 243 orang yang terdiri atas penumpang, awak kapal, serta kru. Selain itu, kapal mengangkut 89 kendaraan.

Peristiwa hilang kontak dilaporkan terjadi pada Minggu sekitar pukul 02.00 Wita. Hingga Senin (14/9), sebanyak 108 orang telah dievakuasi dalam kondisi selamat, enam orang ditemukan meninggal dunia, sedangkan 129 orang lainnya masih dalam pencarian.

BMKG Tidak Menemukan Cuaca Ekstrem

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Kelas II Tanjung Perak Surabaya, Sutarno, mengatakan tidak terdapat kondisi cuaca ekstrem ketika insiden KM Virgo Transport 8 terjadi.

“Untuk cuaca ekstrem tidak ada,” ujar Sutarno saat dikonfirmasi pada Senin (14/9).

Menurut Sutarno, hasil pemantauan satelit pada rentang waktu sekitar pukul 00.00 hingga 03.00 Wita memperlihatkan cuaca di lokasi kejadian berada dalam kondisi cerah hingga berawan. Kecepatan angin tercatat sekitar 15 hingga 20 knot, sedangkan ketinggian gelombang berada di kisaran 1,5 hingga 2 meter.

Adapun kondisi arus laut mengalami perubahan selama periode tersebut. Arus tercatat sekitar 0,2 knot pada pukul 00.00 Wita, meningkat menjadi 0,6 knot pada pukul 01.00 Wita, kemudian mencapai 0,9 knot pada pukul 02.00 Wita.

Angin Menguat akibat Perbedaan Tekanan Udara

Meski tidak mendeteksi cuaca ekstrem, BMKG mencatat adanya peningkatan kecepatan angin di wilayah perairan tersebut. Sutarno menjelaskan, penguatan angin dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara yang cukup besar antara wilayah timur Australia dan kawasan dekat ekuator.

Perbedaan tekanan tersebut mendorong aliran angin timuran dari Australia menuju wilayah Jawa, khususnya Jawa Timur. Kondisi itu diperkirakan masih dapat berdampak terhadap aktivitas pelayaran selama beberapa hari setelah kejadian.

“Peningkatan kecepatan angin yang berdampak signifikan terhadap aktivitas pelayaran diperkirakan akan bertahan hingga tiga hari ke depan,” kata Sutarno.

Karena itu, aktivitas pelayaran diimbau untuk tetap mempertimbangkan perkembangan angin dan gelombang di perairan yang dilalui. BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Kelas II Tanjung Perak Surabaya juga sebelumnya telah menerbitkan Informasi Peringatan Dini Gelombang Tinggi yang berlaku pada 11 hingga 14 September 2026.

Analisis Model BMKG di Lokasi Kejadian

Kepala Stasiun Meteorologi Maritim BMKG Tanjung Perak Surabaya, Sugeng Widarko, turut menyampaikan analisis khusus terkait kondisi cuaca saat KM Virgo Transport 8 hilang kontak. Analisis tersebut mencakup periode Minggu (13/9) pukul 00.00 hingga 02.00 Wita.

Berdasarkan dokumen Analisis Kondisi Cuaca Terkait Kejadian Hilang Kontak Kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa, citra satelit menunjukkan kondisi awan di sekitar lokasi kejadian cerah hingga berawan.

Angin dan Gelombang dalam Kategori Sedang

Hasil analisis model INACAWO BMKG menunjukkan angin berada dalam kategori sedang hingga kencang dengan kecepatan 15 hingga 20 knot. Angin tersebut dominan bergerak dari arah tenggara.

Sementara itu, tinggi gelombang berada dalam kategori sedang dengan ketinggian sekitar 1,5 hingga 2 meter. Arus laut tercatat dalam kategori lemah hingga sedang, dengan kecepatan antara 0,4 hingga 1,2 knot dan dominan bergerak ke arah barat laut.

Dokumen BMKG juga mencantumkan posisi terakhir KM Virgo Transport 8 pada koordinat 4° 31′ 51.82″ Lintang Selatan dan 114° 2′ 6.88″ Bujur Timur. Citra satelit cuaca Himawari-9 EH yang dilampirkan memperlihatkan kondisi cerah hingga berawan di sekitar lokasi sejak pukul 00.00 hingga 03.00 Wita.

Berbeda dengan Dugaan Operator Kapal

Temuan BMKG tersebut berbeda dengan dugaan awal PT Virgo Karya Shipping selaku pemilik dan operator KM Virgo Transport 8. General Manager PT Virgo Karya Shipping, Yoel Rihi, sebelumnya menduga cuaca buruk dan hantaman gelombang menjadi penyebab utama kapal tenggelam.

Yoel mengatakan, laporan mengenai gangguan operasional kapal diterima sekitar pukul 01.00 Wita. Berdasarkan laporan awal tersebut, pihak perusahaan menduga terdapat anomali gelombang di perairan Laut Jawa.

Ia menyebut tinggi gelombang berdasarkan laporan yang diterima berada di kisaran 1,5 hingga 2,5 meter. Namun, analisis BMKG mencatat gelombang di lokasi kejadian berada pada kisaran 1,5 hingga 2 meter dan termasuk kategori sedang.

Kesimpulan

BMKG memastikan tidak ada cuaca ekstrem ketika KM Virgo Transport 8 hilang kontak dan kemudian tenggelam. Kondisi saat itu terpantau cerah hingga berawan, dengan angin 15-20 knot, gelombang 1,5-2 meter, serta arus lemah hingga sedang.

Meski demikian, peningkatan kecepatan angin diperkirakan masih berlangsung hingga tiga hari dan dapat memengaruhi aktivitas pelayaran. Perbedaan antara analisis BMKG dan dugaan awal operator kapal menunjukkan bahwa penyebab pasti tenggelamnya KM Virgo Transport 8 masih memerlukan penelusuran lebih lanjut oleh pihak terkait.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment