BMKG Deteksi 2.610 Titik Panas di Sumatra, Riau Catat 355 Hotspot
Pendahuluan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mendeteksi sebanyak 2.610 titik panas atau hotspot di Pulau Sumatra. Data tersebut merupakan hasil pembaruan pada Minggu (23/8) pukul 07.00 WIB. Sebaran titik panas berada di sejumlah provinsi, dengan jumlah tertinggi tercatat di Sumatera Selatan.
Selain menunjukkan tingginya aktivitas titik panas, kondisi ini juga berdampak terhadap kualitas udara di sejumlah wilayah, khususnya Riau. Asap yang ditimbulkan dari kebakaran lahan membuat jarak pandang berkurang. Di Pekanbaru, kualitas udara berdasarkan parameter PM2,5 pada dini hari dan pagi hari bahkan masuk kategori tidak sehat.
Sumatera Selatan Catat Hotspot Terbanyak
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Elisa JS Kedang, mengatakan ribuan titik panas tersebut tersebar di berbagai provinsi di Pulau Sumatra. Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot paling banyak, yakni mencapai 1.311 titik.
Provinsi lain yang mencatat jumlah titik panas cukup tinggi adalah Riau dengan 355 titik, Jambi sebanyak 278 titik, serta Bangka Belitung dengan 268 titik. Lampung berada di urutan berikutnya dengan 187 titik panas.
Rincian Sebaran Titik Panas di Sumatra
Berdasarkan data BMKG, titik panas juga terdeteksi di sejumlah wilayah lain. Aceh tercatat memiliki 67 titik, Kepulauan Riau 55 titik, Sumatera Utara 45 titik, Sumatera Barat 27 titik, dan Bengkulu 17 titik.
Jika dijumlahkan, sebaran hotspot di wilayah-wilayah tersebut mencapai 2.610 titik. Data ini menjadi gambaran mengenai luasnya sebaran indikasi panas di Pulau Sumatra pada pembaruan pengamatan yang disampaikan BMKG.
Pelalawan Menjadi Wilayah dengan Hotspot Terbanyak di Riau
Dari total 355 titik panas yang terdeteksi di Provinsi Riau, Kabupaten Pelalawan menjadi daerah dengan jumlah tertinggi. BMKG mencatat sebanyak 216 titik panas berada di wilayah tersebut.
Kabupaten Indragiri Hilir menyusul dengan 80 titik panas, sedangkan Kabupaten Kuantan Singingi memiliki 12 titik. Titik panas lainnya tersebar di beberapa kabupaten dan kota di Riau.
Sebaran Hotspot di Kabupaten dan Kota Riau
Kabupaten Kampar tercatat memiliki 11 titik panas, disusul Siak dengan 10 titik. Kepulauan Meranti memiliki tujuh titik, Indragiri Hulu enam titik, dan Bengkalis lima titik.
Sementara itu, Kabupaten Rokan Hilir dan Rokan Hulu masing-masing terdeteksi memiliki tiga titik panas. Kota Dumai mencatat dua titik. Dengan demikian, hotspot di Riau tersebar di 11 kabupaten dan kota, dengan konsentrasi terbesar berada di Pelalawan dan Indragiri Hilir.
Asap Memengaruhi Jarak Pandang dan Kualitas Udara
Jumlah titik panas yang mencapai ribuan turut menimbulkan dampak terhadap kondisi udara. Asap akibat kebakaran membuat jarak pandang di sejumlah wilayah menjadi lebih pendek. Kondisi tersebut dilaporkan terjadi di Pekanbaru pada Sabtu (22/8) malam.
Selain mengurangi jarak pandang, konsentrasi PM2,5 pada dini hari dan pagi hari di Pekanbaru berada dalam kategori tidak sehat. Situasi ini menunjukkan bahwa kebakaran lahan tidak hanya berkaitan dengan munculnya titik panas, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas udara yang dirasakan masyarakat.
Kebakaran Lahan di Riau Hanguskan Lebih dari 700 Hektare
Lembaga pengendalian kebakaran hutan dan lahan Kementerian Kehutanan, Manggala Agni, menyebut kebakaran lahan di Riau dalam beberapa hari terakhir telah menghanguskan lebih dari 700 hektare lahan.
Luas lahan terbakar terbesar berada di Kabupaten Indragiri Hulu, yakni mencapai 434 hektare. Kabupaten Pelalawan juga mengalami kebakaran lahan dengan luas sekitar 300 hektare. Selain di dua wilayah tersebut, Manggala Agni menangani kebakaran lahan di Kabupaten Kampar, Siak, dan Bengkalis.
Kesimpulan
BMKG mendeteksi 2.610 titik panas di Pulau Sumatra, dengan konsentrasi tertinggi berada di Sumatera Selatan dan Riau. Di Riau sendiri, Pelalawan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, diikuti Indragiri Hilir dan Kuantan Singingi.
Sebaran titik panas tersebut turut menyebabkan asap, berkurangnya jarak pandang, serta memburuknya kualitas udara di Pekanbaru. Di sisi lain, kebakaran lahan yang telah menghanguskan lebih dari 700 hektare menunjukkan bahwa kondisi ini masih perlu mendapat perhatian dan pemantauan berkelanjutan, terutama di wilayah dengan jumlah hotspot serta luas kebakaran yang tinggi.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment