BMKG Prediksi Hujan Lokal di Sejumlah Wilayah Indonesia pada Selasa 22 September

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan pada Selasa, 22 September. Prakiraan tersebut disampaikan di tengah kondisi kering yang masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.

Meski demikian, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diperkirakan tetap terjadi secara lokal. BMKG menyebut potensi hujan dalam sepekan ke depan masih dipengaruhi oleh sejumlah dinamika atmosfer yang dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa kawasan.

Wilayah yang Berpotensi Mengalami Hujan

Hujan diprakirakan masih berpotensi terjadi pada periode 18 hingga 24 September 2026. Wilayah yang masuk dalam prakiraan tersebut meliputi Sumatra bagian utara hingga tengah, Kalimantan bagian utara hingga tengah, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Papua Pegunungan, serta Papua.

Potensi hujan di wilayah-wilayah tersebut dapat muncul dengan intensitas yang beragam. Secara umum, BMKG menyatakan bahwa hujan sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi secara lokal, meskipun sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kondisi kering.

Prakiraan ini menunjukkan bahwa kondisi kering tidak sepenuhnya menghilangkan peluang terjadinya hujan. Faktor atmosfer tertentu masih dapat memicu pembentukan awan dan meningkatkan potensi hujan di wilayah yang terdampak.

Dinamika Atmosfer Memengaruhi Potensi Hujan

Aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial

Salah satu faktor yang memengaruhi potensi hujan adalah aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial. BMKG memprediksi gelombang tersebut aktif di Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat.

Aktivitas gelombang atmosfer ini menjadi bagian dari dinamika cuaca yang dapat mendukung terbentuknya awan hujan. Dampaknya diperkirakan terasa terutama di wilayah yang berada dalam pengaruh aktivitas atmosfer tersebut.

Pengaruh Gelombang Kelvin

Selain Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin juga diprediksi aktif di sejumlah wilayah. Area tersebut meliputi Kalimantan bagian timur, pesisir utara Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta Papua bagian barat dan utara.

Menurut BMKG, aktivitas Gelombang Kelvin dapat memberikan dukungan terhadap proses pembentukan awan hujan. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa hujan masih berpotensi terjadi secara lokal di beberapa kawasan meski cuaca kering lebih dominan.

Sirkulasi Siklonik di Laut Cina Selatan

BMKG juga memprediksi adanya sirkulasi siklonik yang terbentuk di Laut Cina Selatan. Sirkulasi tersebut dapat menyebabkan daerah perlambatan angin serta pertemuan angin yang memanjang di sejumlah wilayah.

Daerah perlambatan dan pertemuan angin dapat mendukung proses pengumpulan massa udara. Ketika kondisi tersebut bertemu dengan faktor atmosfer lainnya, peluang terbentuknya awan hujan dapat meningkat di wilayah yang terdampak.

BMKG menjelaskan bahwa potensi tersebut turut diperkuat oleh labilitas lokal yang kuat. “Didukung dengan labilitas lokal yang kuat, proses pengangkatan massa udara menjadi cukup optimal, sehingga berpotensi meningkatkan potensi hujan di wilayah yang terdampak,” jelas BMKG.

Potensi Hujan Lebih dari 150 Milimeter

Dalam prakiraan periode berikutnya, BMKG menyebut hujan dengan akumulasi lebih dari 150 milimeter per dasarian diprediksi terjadi di pesisir barat Aceh dan pesisir barat Sumatera Utara. Potensi tersebut diperkirakan berlangsung pada Dasarian I dan II Oktober 2026.

Informasi ini menunjukkan bahwa peluang hujan tidak hanya terjadi dalam prakiraan harian, tetapi juga masih menjadi perhatian pada periode dasarian berikutnya. Wilayah pesisir barat Aceh dan pesisir barat Sumatera Utara menjadi kawasan yang diperkirakan menerima curah hujan tinggi pada awal hingga pertengahan Oktober.

Kesimpulan

BMKG memprediksi sejumlah wilayah Indonesia berpotensi mengalami hujan pada Selasa, 22 September, meskipun kondisi kering masih mendominasi sebagian besar daerah. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diperkirakan terjadi secara lokal, terutama di Sumatra bagian utara hingga tengah, Kalimantan bagian utara hingga tengah, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Papua Pegunungan, dan Papua.

Potensi hujan tersebut dipengaruhi aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, sirkulasi siklonik di Laut Cina Selatan, serta labilitas lokal yang kuat. Ke depan, BMKG juga memprakirakan hujan lebih dari 150 milimeter per dasarian di pesisir barat Aceh dan pesisir barat Sumatera Utara pada Dasarian I dan II Oktober 2026. Perkembangan dinamika atmosfer tersebut masih menjadi faktor penting dalam perubahan potensi hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment