CXMT Gugat Pentagon atas Penetapan sebagai Perusahaan Militer China

ChangXin Memory Technologies (CXMT), produsen chip memori terbesar di China, menggugat Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) pada Jumat (28/8). Gugatan tersebut diajukan setelah CXMT dimasukkan ke dalam daftar perusahaan yang menurut pemerintah AS membantu militer China.

Melalui gugatan federalnya, CXMT membantah memiliki hubungan dengan militer China. Perusahaan juga menegaskan bahwa produk yang mereka kembangkan ditujukan untuk kebutuhan sipil dan komersial, bukan untuk kepentingan pertahanan atau penggunaan militer.

CXMT Bantah Berafiliasi dengan Militer China

Dalam dokumen gugatan yang dikutip Reuters, CXMT menyatakan bahwa perusahaan tidak berafiliasi dengan militer China. Produsen chip tersebut menegaskan bahwa kegiatan bisnisnya berfokus pada perancangan, produksi, dan penjualan chip dynamic random-access memory (DRAM).

“CXMT tidak berafiliasi dengan militer China,” kata perusahaan itu dalam gugatan federalnya.

CXMT juga menyebut seluruh chip DRAM yang diproduksi dirancang untuk penggunaan sipil dan komersial. Chip tersebut digunakan dalam berbagai perangkat, termasuk ponsel pintar, komputer pribadi, server, sistem kecerdasan buatan, serta sejumlah produk elektronik lainnya.

“CXMT merancang, memproduksi, dan menjual chip DRAM-nya untuk penggunaan sipil dan komersial, bukan untuk keperluan militer,” ujar perusahaan tersebut.

Status CXMT di Daftar Pentagon

Pentagon menetapkan CXMT sebagai perusahaan militer China pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden. Status tersebut kemudian dipertahankan oleh pemerintahan Donald Trump dalam pembaruan daftar pada Juni.

Penetapan itu dapat menimbulkan sejumlah konsekuensi bagi CXMT, termasuk pembatasan terkait kontrak pemerintah AS serta kerugian reputasi. Karena itu, melalui gugatan yang diajukan ke Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Columbia, CXMT meminta agar penetapan tersebut dibatalkan dan namanya dikeluarkan dari daftar Pentagon.

Perusahaan mengatakan status tersebut telah berdampak terhadap kegiatan bisnisnya. Sejak penetapan awal pada Januari 2025, CXMT mengaku terus mengalami kerugian reputasi dan komersial.

“Sejak penetapan awalnya pada Januari 2025, CXMT terus mengalami kerugian reputasi dan komersial,” kata perusahaan itu dalam pernyataan terpisah kepada Reuters.

Alasan CXMT Mengajukan Gugatan

Menilai Keputusan Pentagon Sewenang-wenang

Dalam gugatannya, CXMT menilai keputusan Pentagon bersifat sewenang-wenang dan tidak didukung oleh bukti yang memadai. Perusahaan juga menyatakan bahwa proses tersebut telah melanggar haknya untuk memperoleh proses hukum yang semestinya.

Menurut CXMT, pihaknya telah menghabiskan waktu lebih dari satu tahun untuk memberikan informasi kepada Pentagon. Informasi tersebut disampaikan sebagai upaya untuk membantah penetapan perusahaan sebagai bagian dari daftar perusahaan militer China.

Namun, CXMT menilai penjelasan dan informasi yang telah diberikan belum ditanggapi secara memadai. Perusahaan kemudian memilih jalur hukum untuk melindungi kepentingan bisnisnya serta berupaya menghapus status yang dianggap merugikan tersebut.

Persoalkan Perubahan Notifikasi Pentagon

CXMT juga menyoroti tindakan Pentagon yang sempat menerbitkan notifikasi pada Februari. Dalam notifikasi tersebut, perusahaan disebut akan dikeluarkan dari daftar perusahaan militer China.

Namun, notifikasi itu ditarik kembali pada hari yang sama. CXMT menuding Kementerian Pertahanan AS tidak memberikan penjelasan yang memadai ketika kemudian kembali memasukkan perusahaan ke dalam daftar tersebut.

Atas dasar itu, CXMT menilai proses pengambilan keputusan Pentagon tidak memiliki dasar faktual, landasan hukum yang berlaku, maupun pertimbangan yang beralasan.

Respons Kementerian Pertahanan AS

Kementerian Pertahanan AS memberikan tanggapan singkat terkait gugatan tersebut. Dalam pernyataan kepada Reuters, Pentagon mengatakan tidak akan memberikan komentar mengenai perkara hukum yang masih tertunda atau sedang berjalan.

Gugatan itu mencantumkan Kementerian Pertahanan AS sebagai tergugat. Selain itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Wakil Menteri Pertahanan Steve Feinberg, serta Asisten Menteri Pertahanan untuk Kebijakan Basis Industri Michael Cadenazzi juga disebut sebagai pihak tergugat.

Gugatan Serupa dari Perusahaan China

Langkah hukum CXMT mengikuti pola yang sebelumnya ditempuh oleh perusahaan China lain. Pada Juni, Alibaba, perusahaan teknologi dan e-commerce China, menggugat pemerintah AS setelah masuk ke daftar yang sama.

Sementara itu, Xiaomi, produsen ponsel pintar dan kendaraan listrik asal China, berhasil dikeluarkan dari daftar tersebut pada 2021 setelah mengajukan gugatan serupa di pengadilan AS.

CXMT menggunakan contoh tersebut untuk memperkuat keberatannya terhadap keputusan Pentagon. Perusahaan menyatakan bahwa tidak satu pun keputusan terkait penetapan tersebut didukung oleh catatan faktual, hukum yang berlaku, atau proses pengambilan keputusan yang beralasan.

Profil dan Prospek Bisnis CXMT

CXMT merupakan produsen chip DRAM terbesar di China. Produk tersebut memiliki peran penting dalam berbagai perangkat elektronik, mulai dari ponsel pintar dan komputer pribadi hingga server serta sistem kecerdasan buatan.

Pendapatan CXMT dilaporkan melonjak 874 persen pada paruh pertama tahun ini. Dengan kinerja tersebut, perusahaan berharap dapat memasuki pasar AS dalam jangka panjang.

Namun, statusnya dalam daftar Pentagon berpotensi memengaruhi reputasi dan rencana ekspansi bisnis perusahaan. Gugatan yang diajukan kini menjadi upaya CXMT untuk membatalkan penetapan tersebut dan membuka peluang bagi perusahaan untuk melindungi kepentingan komersialnya.

Kesimpulan

Gugatan CXMT terhadap Pentagon berpusat pada bantahan perusahaan atas tuduhan hubungan dengan militer China. CXMT menegaskan bahwa chip DRAM yang diproduksinya ditujukan untuk pasar sipil dan komersial, serta menilai penetapan Pentagon tidak didukung bukti dan proses hukum yang memadai.

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan AS belum memberikan komentar substantif karena perkara tersebut masih berjalan. Perkembangan proses hukum ini akan menentukan apakah CXMT tetap berada dalam daftar perusahaan militer China atau berhasil memperoleh penghapusan status tersebut, sebagaimana yang pernah dicapai Xiaomi.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment