Emoji Menangis Keras 😭 Jadi Favorit Gen Z, Ini Arti dan Perubahan Penggunaannya
Emoji loud crying face (😭) kini menjadi salah satu emoji paling populer di kalangan Gen Z. Penggunaannya bahkan mengungguli emoji rolling-on-the-floor laughing (🤣) dan tears of joy (😂) yang sebelumnya dikenal luas sebagai simbol tawa. Popularitas emoji tersebut menunjukkan bahwa cara generasi muda mengekspresikan perasaan melalui bahasa digital terus mengalami perubahan.
Data mengenai tren penggunaan emoji ini dikumpulkan Google secara anonim dari sampel 665 juta emoji yang digunakan masyarakat di seluruh dunia melalui Gboard sepanjang 2025. Selain menunjukkan pergeseran peringkat emoji, data tersebut juga memperlihatkan bahwa satu emoji dapat memiliki makna yang berbeda, bergantung pada konteks dan generasi penggunanya.
Makna Emoji Loud Crying Face (😭)
Menurut Emojipedia.org, emoji loud crying face menggambarkan kesedihan yang mendalam hingga seseorang menangis dengan sangat keras. Ekspresinya dinilai lebih intens dibandingkan emoji wajah menangis biasa karena air mata digambarkan mengalir dengan deras.
Namun, Google menyebut penggunaan emoji ini tidak terbatas pada situasi sedih. Di kalangan pengguna, khususnya Gen Z, emoji loud crying face juga kerap dipakai untuk menyampaikan humor, candaan, atau emosi yang meluap-luap. Dengan demikian, emoji tersebut tidak selalu berarti penggunanya sedang benar-benar bersedih.
Emoji Lama Dinilai Terlalu Pasaran
Laporan The New York Times yang menganalisis unggahan di Reddit serta mewawancarai sejumlah ahli bahasa menemukan adanya alasan lain di balik perubahan popularitas emoji. Anak-anak dan remaja dari kalangan Gen Z disebut menganggap beberapa emoji yang lebih lama sudah terlalu umum atau pasaran.
Karena itu, mereka cenderung mencari pilihan emoji yang dirasa lebih segar, unik, dan sesuai dengan gaya komunikasi mereka. Perubahan tersebut turut memperlihatkan bahwa emoji tidak hanya berfungsi sebagai simbol perasaan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan kebiasaan berbahasa di ruang digital.
Remaja Perempuan Berperan dalam Perubahan Bahasa
Emoji loud crying face disebut paling sering digunakan oleh remaja perempuan. Secara umum, perempuan juga cenderung memiliki lebih banyak hubungan sosial dan kosakata emosional yang lebih luas. Kondisi ini dinilai turut berpengaruh terhadap variasi penggunaan emoji dalam komunikasi sehari-hari.
“Remaja, khususnya remaja perempuan, selalu berada di barisan terdepan dalam perubahan bahasa,” ujar Sali A. Tagliamonte, profesor linguistik dari University of Toronto, seperti dikutip The Print.
Pergeseran Popularitas dan Makna Emoji
Google juga mencatat adanya perubahan pada peringkat serta cara penggunaan sejumlah emoji. Salah satu contohnya adalah emoji thumbs-up (👍🏽) yang disebut semakin jarang digunakan. Sebaliknya, emoji folded-hands (🙏🏻) justru semakin sering dipakai.
Tren ini menunjukkan bahwa penggunaan emoji dapat berubah dengan cepat. Generasi milenial dan generasi yang lebih tua cenderung lebih sering menggunakan emoji tertentu secara berulang. Sementara itu, Gen Z dan Gen Alpha menggunakan pilihan emoji yang lebih beragam.
Meski menyampaikan perasaan yang sama, setiap generasi dapat memakai emoji dengan cara berbeda. Gen Z dan Gen Alpha juga kerap menciptakan makna baru dari emoji yang sudah tersedia atau mengganti emoji lama dengan simbol yang dianggap lebih menarik dan relevan.
Dari Hati Retak hingga Wajah Moai
Salah satu contohnya adalah emoji bunga mawar merah yang layu (🥀). Di kalangan remaja, emoji ini semakin sering digunakan untuk menggambarkan kesedihan, patah hati, atau kelelahan secara emosional. Sebelumnya, perasaan tersebut lebih umum disampaikan menggunakan emoji hati retak (💔).
Contoh lain terlihat pada penggunaan emoji api. Berdasarkan data yang disampaikan, remaja lebih menyukai emoji api untuk situasi yang biasanya akan disampaikan oleh orang yang lebih tua menggunakan emoji 100%.
Emoji Moai (🗿), yang menampilkan patung batu raksasa dengan bentuk wajah manusia, juga lebih populer di kalangan Gen Z dan Gen Alpha. Emoji ini dapat digunakan untuk memberikan respons datar, menunjukkan ekspresi tanpa emosi, atau menyampaikan sindiran secara halus.
Kesimpulan
Popularitas emoji loud crying face (😭) di kalangan Gen Z menegaskan bahwa makna emoji terus berkembang mengikuti kebiasaan komunikasi penggunanya. Emoji yang awalnya identik dengan kesedihan kini juga dapat digunakan untuk humor, candaan, dan ungkapan emosi yang kuat.
Pergeseran penggunaan emoji, mulai dari semakin jarangnya thumbs-up hingga meningkatnya penggunaan folded-hands, bunga layu, api, dan Moai, menunjukkan bahwa bahasa digital bersifat dinamis. Ke depan, pilihan emoji kemungkinan akan terus berubah seiring munculnya makna-makna baru yang dianggap lebih sesuai dengan gaya komunikasi generasi muda.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment