Fenomena Ta’i Sano di Danau Sano Nggoang Diduga Berkaitan dengan Gempa M7,7

MANGGARAI BARAT, NTT – Kemunculan material berwarna gelap di tepian Danau Sano Nggoang, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi perhatian setelah wilayah tersebut diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7. Fenomena yang secara lokal dikenal sebagai Ta’i Sano itu diduga masih berkaitan dengan guncangan gempa yang terjadi beberapa waktu lalu.

Video yang memperlihatkan material gelap di tepi danau beredar di media sosial. Rekaman tersebut diunggah akun X @Updatesofwworld pada Minggu (17/8). Dalam unggahannya, akun itu menyebut material gelap tersebut muncul setelah gempa M7,7 mengguncang wilayah NTT.

Meski demikian, pihak berwenang disebut belum mengonfirmasi apakah gempa bumi tersebut secara langsung menyebabkan munculnya material berwarna gelap di tepian Danau Sano Nggoang.

Material Gelap Muncul di Tepian Danau Sano Nggoang

Video yang beredar menunjukkan adanya material berwarna gelap yang terdampar di sekitar tepian Danau Sano Nggoang. Fenomena tersebut kemudian dikaitkan dengan Ta’i Sano, istilah yang digunakan secara lokal untuk menyebut kemunculan material tersebut.

Dalam keterangan yang dibagikan melalui media sosial, disebutkan bahwa material gelap itu terlihat setelah gempa bumi berkekuatan M7,7 melanda wilayah NTT. Namun, unggahan tersebut juga menegaskan bahwa hubungan langsung antara gempa dan kemunculan material itu belum mendapat konfirmasi dari pihak berwenang.

Diduga Dipicu Likuifaksi atau Aktivitas di Dasar Danau

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menyampaikan dugaan bahwa guncangan gempa yang kuat dapat memicu proses likuifaksi. Selain itu, gempa juga diperkirakan dapat mendorong terbentuknya gunungan lumpur atau gunungan pasir di dasar danau.

Menurut Daryono, proses tersebut memungkinkan sedimen anoksik yang sebelumnya terperangkap di bawah dasar danau terdorong naik ke permukaan. Material itu kemudian dapat keluar melalui retakan dan terdampar di tepian atau pantai danau.

Sedimen anoksik merupakan material yang kaya akan bahan organik hasil dekomposisi. Daryono menjelaskan, lumpur dari dasar perairan umumnya memiliki warna hitam pekat dan dapat mengeluarkan bau yang menyengat.

“Dugaan saya, guncangan gempa kuat memicu proses likuifaksi atau pembentukan sand/mud volcanoes di dasar danau. Sedimen anoksik di bawah dasar danau yang tadinya terperangkap terdorong naik ke permukaan melalui retakan dan terdampar di pantai,” ujar Daryono melalui unggahannya di X pada Selasa (18/8).

Kaitan dengan Sistem Geotermal Danau

Daryono juga menjelaskan bahwa fenomena tersebut tidak serta-merta dapat disebut sebagai gunung lumpur sedimen murni. Menurut dia, Danau Sano Nggoang berkaitan dengan sistem hidrotermal atau geotermal kaldera.

Interaksi antara air danau dan sistem geotermal di bawahnya dapat melepaskan uap gas, termasuk karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S). Jika tekanan gas meningkat secara tiba-tiba, endapan lumpur hitam di dasar danau dapat ikut teraduk dan terdorong ke permukaan.

Material hitam yang berada di dasar danau kaldera geotermal juga dapat mengandung sulfida besi. Senyawa tersebut terbentuk dari reaksi gas vulkanik H2S dengan mineral batuan atau endapan lumpur yang mengalami alterasi hidrotermal. Material itu dapat terangkat ketika terjadi proses pelepasan gas atau degassing.

“Wai Sano adalah sistem hydrothermal/geotermal kaldera, bukan sedimentary mud volcano. Namun, adukan lumpur panas atau mud pool/salse tetap bisa muncul,” imbuh Daryono.

Gempa M7,7 Dipicu Aktivitas Sesar Naik Flores

Gempa bumi berkekuatan M7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8) pagi. Berdasarkan informasi yang tersedia, aktivitas Sesar Naik Flores menjadi pemicu gempa tersebut.

Setelah gempa utama, wilayah Flores masih mengalami gempa susulan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 2.119 gempa susulan hingga Selasa (18/8) sekitar pukul 05.00 WIB.

Aktivitas gempa susulan tersebut diperkirakan baru akan berakhir dalam waktu tiga hingga empat pekan mendatang. Kondisi ini membuat dugaan keterkaitan antara guncangan gempa dan perubahan material di sekitar Danau Sano Nggoang masih menjadi perhatian.

Kesimpulan

Kemunculan fenomena Ta’i Sano di tepian Danau Sano Nggoang diduga berkaitan dengan guncangan gempa M7,7. Pakar memperkirakan gempa kuat dapat memicu likuifaksi, mengaduk sedimen anoksik, atau mendorong material dari dasar danau ke permukaan.

Di sisi lain, karakter Danau Sano Nggoang sebagai sistem hidrotermal atau geotermal kaldera memungkinkan terjadinya pelepasan gas dan kemunculan adukan lumpur panas. Meski demikian, hubungan langsung antara gempa dan material gelap tersebut belum dikonfirmasi secara resmi. Dengan gempa susulan yang masih berlangsung, fenomena di sekitar danau tetap perlu dicermati berdasarkan pengamatan dan informasi dari pihak berwenang.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment