Kesaksian Mantan Insinyur Meta Ungkap Dugaan Pengabaian Bahaya Facebook dan Instagram bagi Anak

Mantan safety engineer senior Meta, Arturo Béjar, mengungkapkan bahwa perusahaan tersebut telah lama mengetahui potensi bahaya Facebook dan Instagram terhadap anak-anak serta remaja. Namun, menurut kesaksiannya, Meta dinilai tidak segera menangani berbagai persoalan yang telah dilaporkan.

Pernyataan itu disampaikan Béjar dalam persidangan di Oakland, California, yang membahas gugatan dari sejumlah negara bagian Amerika Serikat. Gugatan tersebut menyoroti dampak produk Meta terhadap remaja dan anak-anak berusia di bawah 16 tahun.

Dalam persidangan, Béjar juga mengaku pernah memperingatkan CEO Meta Mark Zuckerberg mengenai sejumlah masalah serius di platform perusahaan. Di antaranya adalah rekomendasi konten yang berpotensi mengarahkan pengguna pada materi dari predator seksual serta gambar-gambar kekerasan.

Béjar Mengaku Telah Memperingatkan Zuckerberg

Melansir The Guardian pada 19 Agustus, Béjar memaparkan hasil penelitiannya selama dua hari persidangan. Penelitian tersebut membahas berbagai risiko yang dihadapi anak-anak di platform Meta, sekaligus menjelaskan hubungan antara desain produk dan model bisnis perusahaan yang bergantung pada iklan.

Béjar mengatakan, fitur seperti infinite scroll dapat membuat pengguna terus terpaku pada dunia maya. Semakin lama seseorang menggunakan platform, semakin banyak konten dan iklan yang dapat ditampilkan kepada mereka.

“Ketika pengguna scrolling, semakin banyak tayangan yang Anda dapatkan, semakin banyak iklan yang Anda jual, dan semakin banyak pendapatan yang Anda hasilkan,” kata Béjar dalam kesaksiannya.

Mantan karyawan Meta tersebut menyebut telah berbicara langsung dengan Zuckerberg lebih dari 100 kali. Selain komunikasi secara langsung, terdapat pula email yang dijadikan bukti dalam persidangan. Dalam email tersebut, Béjar mengaku telah memperingatkan Zuckerberg sejak 2021 mengenai laporan terkait konten kekerasan dan materi berbahaya bagi remaja di Facebook serta Instagram.

Email itu dikirim setelah Zuckerberg menyampaikan pernyataan publik bahwa keselamatan pengguna menjadi prioritas perusahaan, bahkan di atas keuntungan. Namun, menurut Béjar, seluruh laporan yang disampaikannya tidak pernah mendapatkan tanggapan dari Zuckerberg.

“Saya merasa bahwa dia menciptakan kesan yang salah dan menyesatkan tentang komitmen Facebook terhadap anak muda,” ujar Béjar.

Meta Dituduh Merancang Produk yang Menyebabkan Ketergantungan

Persidangan tersebut diajukan oleh 29 jaksa agung negara bagian di Amerika Serikat. Mereka menuduh Meta sengaja merancang produk yang bersifat adiktif dan berpotensi merugikan remaja.

Selain persoalan desain platform, Meta juga dituduh melanggar hukum karena mengumpulkan data anak-anak berusia di bawah 13 tahun tanpa izin orang tua. Tuduhan ini menjadi bagian dari perkara yang berfokus pada perlindungan anak di lingkungan media sosial.

Persidangan yang dimulai pada hari Selasa itu diperkirakan berlangsung setidaknya selama enam minggu. Sejumlah dokumen internal dan email milik Meta telah dirilis sebagai bagian dari barang bukti.

Sejumlah Eksekutif Dipanggil sebagai Saksi

Mark Zuckerberg dan CEO Instagram Adam Mosseri turut dipanggil untuk memberikan kesaksian. Selain para eksekutif Meta, persidangan juga menghadirkan ahli kesehatan mental serta pakar kecanduan pada anak-anak.

Kehadiran para saksi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai dampak penggunaan Facebook dan Instagram terhadap anak-anak serta remaja. Bukti-bukti internal perusahaan juga menjadi perhatian karena dapat menunjukkan bagaimana Meta merespons laporan mengenai risiko di platformnya.

Meta Membantah Tuduhan

Meta membantah seluruh tuduhan yang diajukan dalam perkara tersebut. Pengacara perusahaan, Paul Schmidt, mengakui bahwa penggunaan media sosial dapat menimbulkan persoalan bagi sebagian orang. Namun, ia menegaskan bahwa Meta telah mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi risiko tersebut.

Salah satu langkah yang disebutkan adalah kebijakan yang tidak mengizinkan anak-anak membuat akun di jejaring sosial milik perusahaan. Meta juga menyatakan telah menonaktifkan lebih dari satu juta akun pengguna yang berusia di bawah 13 tahun.

Dengan demikian, persidangan ini akan menjadi ajang pembuktian bagi kedua pihak. Jaksa negara bagian berupaya menunjukkan bahwa Meta telah mengetahui risiko terhadap anak-anak, tetapi tetap mempertahankan desain dan praktik bisnis yang dianggap menguntungkan perusahaan. Sementara itu, Meta berusaha membuktikan bahwa berbagai kebijakan perlindungan pengguna telah diterapkan.

Potensi Dampak Finansial bagi Meta

Proses hukum ini berpotensi memberikan dampak besar terhadap Meta. Jika dinyatakan bersalah, perusahaan tersebut terancam membayar ganti rugi hingga US$200 miliar atau sekitar Rp3,55 kuadriliun. Nilai tersebut disebut setara dengan pendapatan tahunan perusahaan.

Kesimpulannya, kesaksian Arturo Béjar menambah sorotan terhadap tanggung jawab perusahaan media sosial dalam melindungi anak dan remaja. Persidangan yang masih berlangsung akan menentukan apakah tuduhan terhadap Meta dapat dibuktikan secara hukum. Hasil perkara ini juga berpotensi memengaruhi cara perusahaan teknologi merancang fitur, menangani konten berbahaya, serta mengelola data pengguna berusia anak-anak pada masa mendatang.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment