Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Karhutla Ekstrem hingga 152 Persen Secara Global
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia, kini dinilai semakin sulit dikendalikan. Kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pemicu di lapangan, tetapi juga oleh perubahan iklim yang mendorong munculnya cuaca ekstrem. Suhu tinggi, kelembapan rendah, serta kekeringan panjang membuat lahan lebih mudah terbakar dan api berkembang lebih cepat.
Sejumlah pakar menilai perubahan pola cuaca selama satu dekade terakhir telah meningkatkan tantangan dalam penanganan karhutla. Ketika titik api muncul secara bersamaan di berbagai wilayah, sumber daya pemadaman seperti personel, peralatan, dan anggaran menjadi semakin terbatas. Situasi ini membuat strategi pengelolaan kebakaran perlu diperkuat, tidak hanya melalui pemadaman setelah api meluas, tetapi juga dengan pencegahan sejak awal.
Risiko Tahun Kebakaran Ekstrem Meningkat
Temuan tersebut sejalan dengan riset berjudul Climate change has increased the odds of extreme regional forest fire years globally yang ditulis John T. Abatzoglou bersama sejumlah peneliti lainnya. Penelitian itu diterbitkan di Nature Communications pada Juli tahun lalu.
Riset tersebut mengungkapkan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia atau antropogenik meningkatkan risiko terjadinya tahun-tahun kebakaran hutan ekstrem secara global sebesar 88 hingga 152 persen. Perbandingan itu dilakukan antara masa kontemporer 2011-2040 dan masa pra-industri 1851-1900.
Dalam penelitian tersebut, istilah “tahun-tahun kebakaran ekstrem” merujuk pada tahun ketika jumlah area terbakar berada pada tingkat tertinggi berdasarkan data Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) selama periode 2002-2023.
Cuaca Ekstrem Menjadi Pemicu Utama
Para peneliti menemukan bahwa tahun-tahun dengan kebakaran ekstrem umumnya bertepatan dengan kondisi cuaca yang sangat mendukung terjadinya kebakaran. Pola tersebut diidentifikasi melalui Fire Weather Index (FWI), yakni indeks yang digunakan untuk melihat kondisi cuaca yang dapat memicu dan memperbesar kebakaran.
Kombinasi suhu tinggi, kelembapan rendah, dan kekeringan udara menciptakan kondisi yang lebih mudah terbakar. Ketiganya juga mendorong berlangsungnya periode panas dan kering dalam waktu panjang. Apabila kondisi tersebut terjadi secara bersamaan, potensi pertumbuhan dan penyebaran api menjadi semakin besar.
Fenomena ini terlihat dari rentetan kebakaran ekstrem yang terjadi di berbagai belahan dunia. Beberapa peristiwa yang disebut dalam penelitian tersebut antara lain kebakaran hutan di Siberia pada 2012, Australia pada 2019-2020, wilayah barat Amerika Serikat pada 2020, Chili pada 2022-2023, serta Kanada pada 2023.
Emisi Karbon dan Luas Kebakaran Meningkat
Penelitian itu juga menegaskan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran hutan regional ekstrem di berbagai wilayah dunia. Dampaknya tidak hanya terlihat dari meningkatnya jumlah kebakaran, tetapi juga dari besarnya emisi karbon yang dihasilkan.
Pada tahun-tahun dengan kebakaran ekstrem, jumlah kebakaran dan emisi karbon yang dihasilkan disebut meningkat drastis. Angkanya setidaknya mencapai empat hingga lima kali lipat dibandingkan tahun-tahun lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebakaran ekstrem memiliki dampak yang jauh lebih besar terhadap lingkungan.
Deforestasi Memperparah Karhutla di Wilayah Tropis
Perubahan iklim bukan satu-satunya faktor yang memperburuk karhutla. Para peneliti juga menyoroti aktivitas manusia, termasuk deforestasi serta pembukaan lahan untuk kebutuhan industri pertanian dan perkebunan.
Pembabatan hutan terutama terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia. Berkurangnya tutupan hutan dapat memperparah dampak dan memperpanjang durasi karhutla, terlebih ketika wilayah tersebut mengalami kekeringan yang meluas. Dalam kondisi kering, material alami di lahan dapat menjadi bahan bakar yang membuat api lebih mudah berkembang.
Perpaduan antara perubahan iklim dan aktivitas manusia tersebut membuat pengendalian karhutla menjadi semakin kompleks. Api dapat muncul dan meluas secara bersamaan di banyak titik, sementara kapasitas pemadaman yang tersedia memiliki keterbatasan.
Strategi Pengelolaan Karhutla Perlu Diperkuat
Temuan riset tersebut dinilai penting sebagai dasar penyusunan kebijakan pengelolaan kebakaran. Penanganan karhutla tidak seharusnya hanya berfokus pada tindakan reaktif setelah titik api membesar. Strategi yang lebih proaktif diperlukan untuk menghadapi meningkatnya risiko kebakaran ekstrem.
Langkah tersebut dapat dilakukan melalui pengurangan bahan bakar alami di lapangan, pencegahan pemicu kebakaran yang berasal dari aktivitas manusia, serta penyediaan infrastruktur perlindungan bagi masyarakat dan ekosistem. Upaya ini ditujukan untuk menekan dampak bencana ketika kebakaran terjadi.
Keterbatasan personel, peralatan, dan anggaran pada tahun-tahun kebakaran ekstrem juga perlu menjadi perhatian. Ketika banyak titik api muncul secara bersamaan, strategi pemadaman membutuhkan dukungan pengelolaan yang lebih menyeluruh dan terencana.
Kesimpulan
Perubahan iklim telah meningkatkan risiko terjadinya tahun-tahun kebakaran hutan ekstrem secara global. Suhu tinggi, kelembapan rendah, dan kekeringan panjang membuat karhutla lebih mudah berkembang serta lebih sulit dipadamkan. Kondisi tersebut diperparah oleh deforestasi dan pembukaan lahan, terutama di wilayah hutan tropis seperti Indonesia.
Ke depan, pengelolaan karhutla perlu menggabungkan pemadaman, pencegahan, pengurangan bahan bakar alami, serta perlindungan masyarakat dan ekosistem. Pendekatan proaktif menjadi semakin penting agar dampak kebakaran ekstrem dan emisi karbon yang dihasilkannya dapat diminimalkan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment