Pesawat Listrik X1 Sukses Terbang Perdana, Habiskan Biaya Listrik Rp88 Ribu

Pesawat listrik bertenaga baterai terbesar di dunia, X1, resmi menyelesaikan penerbangan perdananya di New York, Amerika Serikat, pada Rabu (12/8). Pesawat eksperimental yang dikembangkan startup asal Swedia, Heart Aerospace, ini disebut berhasil menunjukkan kemampuan penerbangan listrik dalam skala pesawat komersial.

X1 lepas landas dari Bandara Internasional Plattsburgh dan mengudara selama 27 menit. Dalam penerbangan tersebut, pesawat berhasil mencapai ketinggian 335 meter di atas permukaan tanah. Heart Aerospace menyatakan seluruh perjalanan X1 ditenagai baterai dan hanya membutuhkan biaya listrik sekitar US$5 atau setara Rp88 ribu.

X1 Tuntaskan Penerbangan Perdana dengan Tenaga Baterai

Dikutip dari IFL Science, penerbangan perdana X1 menjadi salah satu tahap penting dalam pengembangan teknologi pesawat listrik. Heart Aerospace mengklaim keberhasilan tersebut membuktikan bahwa energi listrik dapat digunakan untuk mendukung penerbangan pesawat dengan ukuran yang lebih besar.

CEO Heart Aerospace, Anders Forslund, mengatakan penerbangan perdana X1 menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghadirkan penerbangan listrik pada skala pesawat komersial. Menurut dia, pencapaian ini juga menjadi langkah awal menuju perubahan yang lebih luas dalam industri penerbangan.

“Dengan penerbangan perdana X1, Heart Aerospace telah mendemonstrasikan penerbangan listrik dalam skala pesawat komersial,” kata Forslund dalam pernyataan yang disampaikan pada Kamis (13/8).

Berpotensi Menekan Biaya dan Emisi Penerbangan

Pengembangan pesawat listrik dinilai memiliki peluang untuk mengurangi biaya perjalanan udara. Forslund menyebut teknologi tersebut dapat mengubah perekonomian maskapai penerbangan secara fundamental karena biaya energi yang digunakan berpotensi lebih rendah dibandingkan penggunaan bahan bakar konvensional.

Dalam penerbangan perdananya, X1 hanya menggunakan listrik senilai US$5. Klaim ini menjadi salah satu daya tarik utama dari pesawat bertenaga baterai tersebut, terutama ketika harga bahan bakar mengalami tekanan akibat gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Selain menawarkan potensi efisiensi biaya, pesawat listrik juga dinilai dapat membantu mengurangi emisi karbon dari sektor penerbangan. Industri penerbangan selama ini menjadi salah satu sektor yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Karena itu, pengembangan teknologi pesawat baru menjadi bagian penting dalam upaya mendorong perjalanan udara yang lebih ramah lingkungan.

“Ini adalah visi kami untuk membuat perjalanan udara lebih terjangkau, lebih sering, dan lebih ramah lingkungan,” ujar Forslund.

Spesifikasi X1 dan Pengembangan ES-30

Secara spesifikasi, X1 memiliki bentang sayap sepanjang 32,3 meter. Pesawat ini mampu menopang bobot maksimal 11.339 kilogram saat lepas landas. Kendati demikian, X1 bukanlah model akhir yang akan digunakan untuk menerbangkan penumpang secara komersial.

X1 Menjadi Pesawat Eksperimental

Heart Aerospace mengembangkan X1 sebagai pesawat eksperimental untuk menyempurnakan teknologi yang nantinya akan diterapkan pada ES-30. Model ES-30 dirancang sebagai pesawat yang lebih besar dan ditargetkan menjadi produk komersial untuk mengangkut penumpang pada 2031.

Saat ini, ES-30 masih dalam tahap pengembangan di Los Angeles. Uji terbang perdana pesawat tersebut dijadwalkan berlangsung pada 2028. Tahapan ini akan menjadi penentu penting untuk menguji kesiapan teknologi, desain, serta kemampuan operasional sebelum ES-30 diarahkan menuju penggunaan komersial.

Air Canada dan United Airlines Dukung Proyek ES-30

Proyek pengembangan ES-30 mendapat dukungan dari sejumlah investor dan maskapai besar, termasuk Air Canada serta United Airlines. Kedua perusahaan tersebut menyatakan bahwa ES-30 berpotensi masuk ke dalam armada komersial mereka apabila seluruh rangkaian uji coba berhasil.

CFO Air Canada, John Di Bert, mengatakan transisi energi di sektor penerbangan membutuhkan berbagai pendekatan. Upaya tersebut tidak hanya bergantung pada pesawat listrik, tetapi juga mencakup peningkatan efisiensi operasional dan pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

“Transisi energi untuk penerbangan akan membutuhkan berbagai upaya, mulai dari efisiensi operasional, bahan bakar penerbangan berkelanjutan, dan pengembangan teknologi pesawat baru,” kata Di Bert.

Sementara itu, CFO United Airlines Michael Leskinen menilai pesawat komersial listrik memiliki potensi untuk memberikan pengalaman perjalanan yang lebih baik bagi penumpang. Di sisi lain, teknologi tersebut juga dinilai dapat memperkuat kinerja bisnis maskapai.

“Pesawat komersial listrik memiliki potensi nyata untuk memberikan pengalaman perjalanan yang lebih baik bagi penumpang sekaligus memperkuat bisnis kami,” ujar Leskinen.

Kesimpulan

Keberhasilan penerbangan perdana X1 menjadi tonggak penting bagi Heart Aerospace dalam mengembangkan pesawat listrik bertenaga baterai. Dengan waktu terbang 27 menit, ketinggian maksimum 335 meter, serta biaya listrik yang diklaim hanya sekitar Rp88 ribu, X1 menunjukkan potensi efisiensi teknologi penerbangan listrik.

Meski masih berstatus pesawat eksperimental, X1 diproyeksikan menjadi dasar pengembangan ES-30. Pesawat komersial tersebut ditargetkan menjalani uji terbang pada 2028 dan mulai mengangkut penumpang pada 2031. Keberhasilan tahapan pengujian akan menjadi faktor penting dalam menentukan masa depan penerbangan listrik dan peluang penggunaannya oleh maskapai seperti Air Canada serta United Airlines.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment