Tiga Rumah Prototipe BRIN di NTT Tetap Berdiri Setelah Diguncang Gempa M7,7

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaporkan tiga rumah prototipe yang dikembangkan untuk teknologi konstruksi tahan gempa tetap berdiri setelah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) diguncang gempa berkekuatan M7,7 pada 15 Agustus 2026. Ketiga bangunan tersebut berada di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat.

Rumah-rumah tersebut merupakan prototipe rumah cepat bangun yang dikembangkan BRIN sebagai bagian dari upaya menghadirkan hunian dengan struktur lebih aman di wilayah rawan gempa. Berdasarkan hasil pemantauan pascagempa, tidak ditemukan kerusakan struktural pada dinding, kolom, maupun fondasi bangunan.

Tiga Rumah BRIN Tidak Mengalami Kerusakan Struktural

Dokumentasi kondisi bangunan per 16 Agustus 2026 menunjukkan ketiga prototipe rumah BRIN masih berdiri. Hasil pemeriksaan lapangan juga memperlihatkan struktur utama bangunan tetap dalam kondisi baik meskipun telah menerima guncangan gempa cukup besar.

Kerusakan yang ditemukan hanya bersifat kosmetik. Sebagian keramik pada dinding kamar mandi dilaporkan terlepas dari ikatan semen pada panel Sandwich EPS dan mengalami pecah akibat guncangan. Kerusakan tersebut tidak berdampak terhadap kekuatan utama bangunan.

Perekayasa Ahli Muda BRIN, Vian Marantha Haryanto, menjelaskan bahwa rumah tersebut dirancang menggunakan teknologi konstruksi tahan gempa. Teknologi itu ditujukan untuk diterapkan di kawasan yang memiliki tingkat risiko kegempaan tinggi, termasuk NTT.

“Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan, dan yang terpenting, melindungi keselamatan penghuninya, bahkan saat diguncang gempa sebesar ini,” ujar Vian.

Rumah Cepat Bangun untuk Rehabilitasi Pascabencana

BRIN menyebut rumah prototipe tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi hunian masyarakat di wilayah yang terdampak bencana. Evaluasi terhadap kinerja tiga rumah di Labuan Bajo akan digunakan sebagai masukan dalam proses pemulihan pascagempa.

Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN juga mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mempercepat pemulihan rumah warga terdampak dengan menerapkan standar konstruksi tahan gempa. Model hunian tersebut diharapkan dapat dikembangkan secara lebih luas, bukan hanya di NTT, melainkan juga di wilayah lain yang memiliki risiko gempa.

Penggunaan teknologi konstruksi tahan gempa dinilai penting untuk meningkatkan keselamatan penghuni sekaligus mengurangi potensi kerusakan bangunan ketika bencana serupa terjadi pada masa mendatang.

Pengembangan Teknologi Dimulai Sejak 2019

Pengembangan rumah modular tahan gempa BRIN telah dilakukan secara bertahap sejak 2019. Pada tahap awal, BRIN membangun dua unit rumah di Kabupaten Tangerang. Pengembangan kemudian dilanjutkan melalui pembangunan prototipe rumah dua lantai di Kabupaten Lebak pada 2021, serta tiga unit rumah di NTT pada akhir tahun yang sama.

Sebelumnya, BRIN juga membangun tiga prototipe rumah cepat bangun pada periode 2021-2022. Proyek tersebut menjadi bagian dari pengembangan teknologi konstruksi yang dirancang untuk mendukung pembangunan hunian di kawasan rawan gempa.

BRIN Siapkan Pengujian Laboratorium

Meskipun hasil pemantauan lapangan menunjukkan struktur bangunan tetap baik, BRIN masih akan melakukan pengujian lanjutan untuk memperoleh validasi teknis. Pengujian tersebut direncanakan menggunakan uji siklik sesuai SNI 3966:2012 di Laboratorium Pusat Riset Kekuatan Struktur.

Pengujian laboratorium itu dijadwalkan berlangsung pada 2026. Menurut Vian, gempa besar yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 menjadi ujian lapangan bagi teknologi rumah tahan gempa yang telah dikembangkan BRIN.

Teknologi Rubber Bearing Seismic

BRIN terus menyempurnakan teknologi konstruksi pada pengembangan rumah modular tahan gempa. Salah satu inovasi yang digunakan pada generasi kedua adalah rubber bearing seismic, yaitu komponen yang berfungsi membantu meredam getaran gempa.

Teknologi tersebut memanfaatkan karet alam atau polimer elastis sebagai material dasar. Cara kerjanya dilakukan dengan memisahkan struktur bagian bawah dan bagian atas bangunan. Ketika terjadi gaya geser akibat gempa, komponen tersebut membantu menahan gaya sehingga dampak guncangan yang diterima struktur dapat dikurangi.

Perlu Dukungan Kebijakan Mitigasi

BRIN menilai keberhasilan tiga prototipe rumah di NTT menjadi bagian penting dari evaluasi pengembangan hunian modular tahan gempa. Namun, penerapan teknologi konstruksi perlu disertai penguatan mitigasi melalui kebijakan pemerintah.

Salah satu rekomendasi yang disampaikan adalah mengintegrasikan edukasi mitigasi bencana dan standar bangunan tahan gempa ke dalam kebijakan perumahan daerah. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan kembali pascabencana tidak hanya berfokus pada penggantian bangunan yang rusak, tetapi juga meningkatkan ketahanan hunian terhadap ancaman bencana berikutnya.

Kesimpulan

Tiga rumah prototipe BRIN di Dusun Rangko, Manggarai Barat, tetap berdiri setelah diguncang gempa M7,7 di NTT. Tidak ditemukan retak struktural pada dinding, kolom, dan fondasi, sementara kerusakan yang tercatat hanya bersifat kosmetik pada sebagian keramik kamar mandi.

Temuan tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi pengembangan rumah modular tahan gempa. BRIN selanjutnya akan melakukan uji siklik sesuai standar yang berlaku untuk memperoleh validasi teknis di laboratorium. Ke depan, penerapan model rumah tahan gempa perlu didukung kebijakan pemerintah, edukasi mitigasi, serta upaya replikasi di berbagai wilayah rawan gempa di Indonesia.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment