BOJ Naikkan Suku Bunga ke 1,25 Persen, Tertinggi dalam 31 Tahun
Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuan Jepang menjadi 1,25 persen pada Jumat (18/9). Keputusan ini membawa tingkat suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun sekaligus menegaskan bahwa bank sentral Jepang masih membuka peluang untuk menaikkan biaya pinjaman guna meredam tekanan inflasi.
Suku bunga kebijakan BOJ naik dari sebelumnya 1 persen. Keputusan tersebut disahkan melalui pemungutan suara dengan hasil 7-2. Dua anggota dewan, Toichiro Asada dan Ayano Sato, tercatat menentang kenaikan tersebut.
Langkah ini menjadi kenaikan suku bunga pertama dalam tiga bulan. Kebijakan tersebut juga memperkuat upaya BOJ untuk meninggalkan era suku bunga ultra-rendah yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
BOJ Merespons Tekanan Inflasi
Dalam pernyataannya, BOJ menyebut inflasi grosir masih berada di level tinggi. Bank sentral Jepang juga mencatat tekanan harga dari transaksi antarbisnis mulai merembet ke harga konsumen.
Menurut BOJ, inflasi yang mendasari telah mendekati target 2 persen. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh langkah perusahaan yang terus meneruskan kenaikan biaya upah kepada konsumen. Selain itu, ekspektasi inflasi juga mengalami peningkatan.
Bank sentral Jepang menilai perkembangan ekonomi dan harga masih berjalan sesuai dengan proyeksi dasarnya. Namun, BOJ tetap memperingatkan adanya risiko inflasi yang mendasari dapat bergerak menyimpang dari target 2 persen.
Inflasi Konsumen Inti Bertahan di Sekitar Target
Inflasi konsumen inti Jepang tercatat bertahan di sekitar target 2 persen pada Agustus. Data tersebut menunjukkan perusahaan masih membebankan kenaikan biaya kepada konsumen, terutama melalui harga makanan dan berbagai kebutuhan sehari-hari.
Tekanan terhadap harga juga dipengaruhi oleh pelemahan yen serta kenaikan biaya energi. Kombinasi kondisi tersebut mendorong inflasi grosir dan meningkatkan risiko berlanjutnya tekanan harga pada tingkat konsumen.
Suku Bunga Mendekati Level Netral
Kenaikan menjadi 1,25 persen membuat suku bunga BOJ masuk ke dalam estimasi kisaran suku bunga netral nominal Jepang, yakni 1,1-2,5 persen. Suku bunga netral merupakan tingkat yang secara teori tidak mendorong maupun menekan pertumbuhan ekonomi.
Dengan demikian, kebijakan terbaru BOJ menandai fase penting dalam normalisasi kebijakan moneter Jepang. Setelah mengakhiri kebijakan stimulus selama satu dekade pada 2024, BOJ telah beberapa kali menaikkan suku bunga, termasuk pada Juni.
Kenaikan suku bunga dilakukan sekitar dua kali dalam setahun seiring keyakinan bank sentral bahwa Jepang semakin dekat untuk mencapai target inflasi 2 persen secara berkelanjutan. Meski demikian, sejumlah pejabat BOJ, termasuk Gubernur Kazuo Ueda, belum memberikan gambaran pasti mengenai waktu dan besaran kenaikan berikutnya.
Perbedaan Suku Bunga Masih Menekan Yen
Walaupun meningkat, suku bunga Jepang masih lebih rendah dibandingkan sejumlah bank sentral utama lainnya. Suku bunga Bank Sentral Eropa berada di 2,5 persen setelah kenaikan pada pekan sebelumnya. Sementara itu, Federal Reserve Amerika Serikat mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75-4 persen.
Perbedaan tingkat suku bunga yang masih lebar berpotensi membuat yen tetap lemah terhadap mata uang lain. Pelemahan yen dapat meningkatkan biaya impor dan pada akhirnya menambah tekanan inflasi di Jepang.
Sejumlah pihak menilai lambatnya kenaikan suku bunga BOJ menjadi salah satu faktor yang membuat yen tetap tertekan. Selain pelemahan yen, lonjakan biaya energi akibat perang Iran turut mendorong kenaikan inflasi grosir yang berpotensi merembet ke harga konsumen.
Pasar Menunggu Arah Kebijakan Berikutnya
Pasar sebelumnya hampir sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga pada September, terutama setelah BOJ menyampaikan sejumlah sinyal hawkish. Pada Juli, bank sentral memperingatkan risiko inflasi melampaui target akibat kenaikan biaya bahan bakar, biaya impor yang terdorong pelemahan yen, serta tingginya permintaan investasi kecerdasan buatan atau AI.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyatakan dukungan terhadap langkah moneter yang tegas untuk mengatasi pelemahan yen dalam pertemuannya dengan Kazuo Ueda pada bulan ini.
Pasar kini menantikan konferensi pers Ueda untuk memperoleh petunjuk mengenai kecepatan dan waktu kenaikan suku bunga berikutnya. BOJ menegaskan, keputusan lanjutan akan sangat bergantung pada prospek inflasi serta dampak kenaikan suku bunga sebelumnya terhadap kondisi keuangan.
Dalam jajak pendapat Reuters terhadap para analis, BOJ diperkirakan menaikkan suku bunga menjadi 1,5 persen pada akhir Maret 2027. Tingkat tersebut kemudian diproyeksikan meningkat menjadi 1,75 persen pada kuartal II 2027. Mayoritas analis memperkirakan tingkat suku bunga terminal setidaknya berada di 1,75 persen.
Kesimpulan
Kenaikan suku bunga BOJ ke 1,25 persen menjadi langkah lanjutan Jepang dalam meninggalkan kebijakan moneter ultra-rendah. Keputusan ini didorong oleh inflasi grosir yang masih tinggi, inflasi inti yang mendekati target 2 persen, serta meningkatnya tekanan biaya yang diteruskan perusahaan kepada konsumen.
Ke depan, arah kebijakan BOJ akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, pergerakan yen, kondisi biaya impor, serta dampak kenaikan suku bunga terhadap perekonomian. Meski peluang kenaikan lanjutan masih terbuka, bank sentral Jepang belum memberikan kepastian mengenai waktu dan kecepatannya.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment