Harga Bitcoin Menguat, Apakah Investor Pemula Masih Bisa Masuk?

Harga Bitcoin kembali menguat setelah bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), menaikkan suku bunga acuannya pada Rabu (16/9). Pergerakan ini menjadi perhatian investor karena aset kripto dikenal memiliki volatilitas tinggi dan sensitif terhadap perubahan likuiditas serta kebijakan moneter global.

Mengutip detikfinance, pada Kamis (17/9) sekitar pukul 12.06 WIB, harga Bitcoin berada di kisaran US$76.442 atau sekitar Rp1,35 miliar dengan asumsi nilai tukar Rp17.749 per dolar AS. Harga tersebut tercatat naik 1,05 persen dalam 24 jam terakhir.

Kapitalisasi pasar Bitcoin mencapai sekitar US$1,53 triliun. Sementara itu, volume perdagangan dalam 24 jam terakhir berada di angka US$30,34 miliar. Adapun jumlah Bitcoin yang beredar sekitar 20,08 juta BTC dari batas maksimum 21 juta BTC.

Kenaikan harga tersebut memunculkan pertanyaan bagi investor pemula: apakah masih ada kesempatan untuk membeli Bitcoin, atau sebaiknya menunggu hingga terjadi koreksi harga? Perencana keuangan menilai investor pemula tetap dapat masuk, tetapi keputusan tersebut harus disertai persiapan keuangan dan pemahaman risiko yang matang.

Investor Pemula Disarankan Tidak Mengejar Waktu Terbaik

Perencana Keuangan International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Aidil Akbar Madjid mengatakan investor pemula masih dapat mulai berinvestasi di Bitcoin meskipun harganya telah mengalami kenaikan.

Namun, ia mengingatkan investor agar tidak berusaha menebak waktu terbaik untuk masuk ke pasar. Menurut Aidil, tidak ada kepastian mengenai kapan koreksi harga akan terjadi. Karena itu, investor pemula lebih baik membeli secara bertahap dan tidak terbawa fear of missing out atau FOMO.

Strategi yang disarankan adalah dollar cost averaging (DCA). Melalui metode ini, investor membeli aset dalam jumlah tertentu secara berkala tanpa terlalu berfokus pada pergerakan harga jangka pendek.

Aidil juga menyarankan investor pemula menyiapkan dana cadangan dan berfokus pada aset kripto besar, terutama Bitcoin. Ia mengingatkan bahwa harga kripto dapat mengalami penurunan lebih dari 70 persen dari posisi tertinggi sebelumnya. Oleh sebab itu, kesiapan finansial dan psikologis perlu diperhitungkan sejak awal.

Pastikan Kondisi Keuangan Sehat

Sebelum membeli Bitcoin, investor perlu memastikan kondisi keuangan pribadi berada dalam keadaan sehat. Arus kas harus tidak minus, kebutuhan sehari-hari terpenuhi, dan dana darurat tersedia dalam jumlah yang memadai.

Investor juga dianjurkan melunasi utang konsumtif, terutama utang dengan bunga tinggi. Selain itu, tujuan keuangan dan tujuan investasi harus ditentukan secara jelas. Kesiapan mental untuk menghadapi kemungkinan penurunan harga yang tajam juga menjadi bagian penting sebelum berinvestasi.

Aidil menekankan bahwa dana yang digunakan untuk membeli Bitcoin harus berupa uang dingin. Artinya, dana tersebut tidak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan siap menanggung risiko kerugian.

Besaran Dana Darurat Berdasarkan Tanggungan

Jumlah dana darurat idealnya disesuaikan dengan kondisi keluarga. Investor lajang tanpa tanggungan disarankan memiliki dana darurat setara tiga bulan kebutuhan bulanan.

Sementara itu, seseorang dengan satu tanggungan idealnya memiliki dana darurat untuk enam bulan kebutuhan. Adapun mereka yang memiliki dua atau lebih tanggungan disarankan menyiapkan dana darurat setara 12 bulan kebutuhan bulanan.

Setelah kebutuhan pokok, dana darurat, dan kewajiban finansial lainnya terpenuhi, investor dapat mulai mempertimbangkan alokasi dana untuk aset kripto.

Alokasi Bitcoin Perlu Disesuaikan dengan Profil Risiko

Menurut Aidil, kripto memiliki volatilitas yang sangat tinggi, bahkan dapat lebih tinggi dibandingkan saham. Karena itu, aset ini lebih sesuai bagi investor dengan profil risiko agresif.

Untuk investor pemula, Aidil menyebut alokasi Bitcoin dapat disesuaikan dengan profil risiko. Investor konservatif dapat mengalokasikan hingga sekitar 3 persen dari total portofolio, investor moderat hingga 5 persen, sedangkan investor agresif hingga 10 persen.

Ia juga menyarankan agar Bitcoin tidak menjadi satu-satunya aset investasi. Investor dapat melakukan diversifikasi melalui saham, obligasi, reksa dana, emas, atau dolar. Keputusan membeli sebaiknya didasarkan pada pemahaman terhadap aset, bukan karena mengikuti ajakan atau pendapat orang lain.

Aidil memberikan ilustrasi mengenai dampak penurunan harga terhadap portofolio. Apabila Bitcoin memiliki porsi 5 persen dalam total portofolio dan harganya turun 70 persen, dampak penurunan terhadap keseluruhan portofolio akan lebih terbatas apabila aset lain tidak berubah.

Analisis Teknikal Bisa Menjadi Pertimbangan

Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho mengatakan investor dapat mempertimbangkan tren harga sebelum menentukan waktu pembelian Bitcoin. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah analisis teknikal.

Analisis tersebut dapat membantu investor melihat apakah harga masih berada dalam tren kenaikan atau mulai menunjukkan peluang terjadinya koreksi. Dengan demikian, investor dapat mempertimbangkan apakah akan membeli saat harga naik atau menunggu hingga harga mengalami penurunan.

Meski demikian, Andy tetap mengingatkan bahwa dana investasi harus berasal dari uang dingin, bukan uang yang masih dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari. Ia juga menegaskan investor tidak seharusnya menggunakan uang hasil utang untuk membeli aset kripto.

Menurut Andy, alokasi aset kripto bagi investor pemula dapat dimulai hingga maksimal 30 persen dari total aset investasi. Namun, angka tersebut tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko dan kondisi keuangan masing-masing investor.

DCA Membantu Mengelola Risiko

Andy juga menyarankan strategi DCA karena pembelian secara bertahap dapat membantu investor mengantisipasi risiko. Metode ini sekaligus memberi kesempatan bagi investor pemula untuk mengenal dinamika pasar kripto secara perlahan.

Risiko terbesar bagi investor yang membeli setelah harga naik adalah kemungkinan terjadinya penurunan tajam dalam waktu singkat. Kerugian dapat menjadi besar apabila investor menjual aset ketika harga sedang jatuh.

Andy menilai salah satu tanda investor siap masuk ke Bitcoin adalah mampu tetap tenang ketika harga turun. Investor tidak boleh mudah panik atau mengambil keputusan hanya karena rumor pasar. Sebelum membeli maupun menjual, investor juga perlu melakukan analisis secara mandiri dan tidak sekadar mengikuti pendapat pihak lain.

Kesimpulan

Kenaikan harga Bitcoin tidak serta-merta menutup peluang bagi investor pemula. Namun, keputusan untuk masuk harus dilakukan secara bertahap, menggunakan uang dingin, dan berdasarkan pemahaman terhadap risiko.

Fondasi keuangan seperti arus kas yang sehat, dana darurat, bebas dari utang konsumtif berbunga tinggi, serta tujuan investasi yang jelas perlu dipenuhi lebih dahulu. Dengan strategi DCA, alokasi yang terukur, diversifikasi, dan kesiapan menghadapi penurunan harga, investor dapat menyusun rencana yang lebih disiplin tanpa terjebak FOMO.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment